Konten dari Pengguna

Sarjana Pilih Menganggur Daripada Bergaji Kecil

Syafrida Nur Hutabarat

Syafrida Nur Hutabarat

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syafrida Nur Hutabarat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini menggambarkan jurang antara ekspektasi dan realitas yang dihadapi banyak lulusan sarjana. Di satu sisi, ada harapan meraih gaji besar dan karier gemilang; di sisi lain, kenyataan menunjukkan sebagian lulusan masih menganggur karena enggan memulai dari pekerjaan bergaji kecil.Gambar ini dihasilkan dari Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini menggambarkan jurang antara ekspektasi dan realitas yang dihadapi banyak lulusan sarjana. Di satu sisi, ada harapan meraih gaji besar dan karier gemilang; di sisi lain, kenyataan menunjukkan sebagian lulusan masih menganggur karena enggan memulai dari pekerjaan bergaji kecil.Gambar ini dihasilkan dari Gemini AI.

Setiap tahun, ribuan mahasiswa mengenakan toga dan merayakan kelulusan dari perguruan tinggi. Di balik senyum bangga para orang tua dan harapan besar yang menyertai selembar ijazah, tersimpan kenyataan yang tidak selalu seindah prosesi wisuda. Tidak sedikit lulusan sarjana yang akhirnya justru menganggur, bukan semata karena tidak ada pekerjaan, tetapi karena merasa pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan ekspektasi mereka—terutama soal gaji. Fenomena ini semakin sering terdengar di berbagai daerah: sarjana memilih menunggu pekerjaan yang “layak” daripada memulai dari pekerjaan dengan gaji kecil.

Masalah ini bukan sekadar cerita anekdot di media sosial atau keluhan para orang tua di ruang keluarga. Data menunjukkan bahwa pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi memang menjadi persoalan serius di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai sekitar 7,28 juta orang pada Februari 2025, dan sebagian di antaranya berasal dari lulusan pendidikan tinggi. Tingkat pengangguran terbuka bagi lulusan universitas berada di kisaran 5,25 persen, menunjukkan bahwa bahkan pendidikan tinggi pun tidak otomatis menjamin pekerjaan.

Ironisnya, di saat banyak perusahaan masih membuka lowongan kerja, sebagian lulusan sarjana justru enggan mengambil pekerjaan dengan gaji awal yang dianggap terlalu kecil. Di sinilah muncul paradoks: pekerjaan ada, tetapi tidak semua lulusan bersedia mengambilnya.

Antara Ekspektasi dan Realitas

Bagi banyak mahasiswa, pendidikan tinggi sering dipandang sebagai tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Narasi yang selama ini berkembang di masyarakat juga memperkuat keyakinan tersebut. Orang tua menyekolahkan anaknya hingga sarjana dengan harapan kelak mereka memperoleh pekerjaan bergaji tinggi dan status sosial yang lebih baik.

Namun realitas dunia kerja tidak selalu berjalan seideal itu. Banyak perusahaan, terutama bagi fresh graduate, menawarkan gaji awal yang relatif rendah. Hal ini bukan tanpa alasan. Perusahaan biasanya mempertimbangkan pengalaman kerja, keterampilan praktis, serta kemampuan beradaptasi sebelum memberikan posisi dan gaji yang lebih tinggi.

Di sisi lain, sebagian lulusan baru memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap pekerjaan pertama mereka. Ada yang berharap langsung memperoleh posisi strategis, gaji besar, atau pekerjaan yang sepenuhnya sesuai dengan jurusan kuliah. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, sebagian memilih menunggu kesempatan yang dianggap lebih “pantas”.

Sikap seperti ini sering kali dipengaruhi oleh persepsi sosial. Dalam masyarakat, gelar sarjana sering dianggap sebagai simbol status. Akibatnya, sebagian orang merasa gengsi jika harus bekerja pada posisi yang dianggap terlalu rendah atau bergaji kecil.

Fenomena Pengangguran Terdidik

Fenomena sarjana menganggur sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Bahkan beberapa tahun terakhir, jumlahnya cenderung meningkat. Data menunjukkan bahwa lebih dari 800 ribu lulusan sarjana tercatat menganggur dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan kemampuan pasar kerja menyerap tenaga kerja terdidik.

Selain itu, laporan ketenagakerjaan juga menunjukkan bahwa pengangguran di kalangan pendidikan tinggi meningkat menjadi sekitar 13,89 persen dari total pengangguran nasional pada 2025. Angka ini menandakan bahwa lulusan berpendidikan tinggi justru semakin rentan menghadapi pengangguran dibandingkan beberapa kelompok pendidikan lain.

Salah satu penyebabnya adalah fenomena yang dikenal sebagai overeducation, yaitu kondisi ketika tingkat pendidikan seseorang lebih tinggi daripada kebutuhan pekerjaan yang tersedia di pasar kerja. Dengan kata lain, jumlah lulusan sarjana lebih banyak dibandingkan posisi pekerjaan yang membutuhkan kualifikasi tersebut.

Namun, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan pekerjaan. Faktor mentalitas dan pola pikir juga memainkan peran yang tidak kalah penting.

Gengsi dan Mentalitas Kerja

Tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian lulusan sarjana masih memandang pekerjaan dengan cara yang sempit. Ada anggapan bahwa setelah bertahun-tahun kuliah, mereka tidak seharusnya bekerja pada posisi yang dianggap “rendah”. Pekerjaan seperti staf administrasi, sales, atau bahkan pekerjaan di sektor jasa sering dianggap tidak sepadan dengan gelar sarjana.

Padahal dalam dunia kerja modern, karier jarang dimulai dari posisi puncak. Banyak tokoh sukses justru memulai karier dari pekerjaan sederhana sebelum akhirnya mencapai posisi yang lebih tinggi.

Masalah gengsi ini sering diperkuat oleh tekanan sosial. Lulusan baru sering merasa takut dipandang rendah oleh lingkungan jika bekerja dengan gaji kecil. Tidak sedikit pula orang tua yang secara tidak sadar menanamkan standar yang terlalu tinggi terhadap pekerjaan pertama anaknya.

Akibatnya, sebagian lulusan memilih menunggu pekerjaan yang dianggap ideal, meskipun proses menunggu tersebut bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Tantangan Dunia Kerja yang Berubah

Selain faktor mentalitas, perubahan struktur ekonomi juga memengaruhi kondisi ini. Dunia kerja saat ini berkembang sangat cepat. Banyak perusahaan tidak hanya mencari lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga keterampilan praktis seperti kemampuan komunikasi, kerja tim, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

Sayangnya, tidak semua lulusan perguruan tinggi memiliki keterampilan tersebut. Kurikulum pendidikan yang terlalu fokus pada teori sering kali membuat lulusan kurang siap menghadapi kebutuhan nyata di dunia kerja.

Di sisi lain, sektor pekerjaan juga mengalami perubahan. Banyak pekerjaan baru muncul di bidang teknologi digital, ekonomi kreatif, dan kewirausahaan. Namun, sebagian lulusan masih terpaku pada pekerjaan konvensional seperti pegawai negeri atau pekerjaan kantoran formal.

Ketika pilihan pekerjaan terbatas pada sektor tertentu saja, peluang kerja pun menjadi semakin sempit.

Peran Orang Tua dan Lingkungan

Fenomena sarjana menganggur juga tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga. Dalam banyak kasus, orang tua menjadi pihak yang paling berharap anaknya memperoleh pekerjaan bergengsi setelah lulus kuliah.

Harapan ini sebenarnya wajar. Orang tua telah berinvestasi besar dalam pendidikan anaknya. Namun jika harapan tersebut terlalu tinggi dan tidak realistis, justru dapat menimbulkan tekanan bagi anak.

Sebagian lulusan akhirnya merasa malu jika harus bekerja pada pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan gelar mereka. Mereka khawatir mengecewakan orang tua atau menjadi bahan pembicaraan di lingkungan sekitar.

Padahal dalam banyak kasus, pengalaman kerja pertama justru menjadi batu loncatan menuju karier yang lebih baik.

Pentingnya Memulai dari Bawah

Dalam dunia kerja, pengalaman sering kali lebih berharga daripada sekadar gelar akademik. Banyak perusahaan lebih memilih kandidat yang memiliki pengalaman kerja, meskipun pengalaman tersebut diperoleh dari pekerjaan sederhana.

Memulai dari bawah bukanlah sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi proses belajar yang sangat berharga. Dari pekerjaan pertama, seseorang dapat memahami budaya kerja, mengembangkan keterampilan, serta membangun jaringan profesional.

Seiring waktu, pengalaman tersebut dapat membuka peluang untuk mendapatkan posisi dan gaji yang lebih baik.

Banyak kisah sukses yang menunjukkan bahwa karier besar sering kali dimulai dari langkah kecil. Tanpa keberanian untuk memulai, kesempatan untuk berkembang justru bisa hilang.

Membangun Pola Pikir Baru

Untuk mengatasi masalah pengangguran sarjana, perubahan pola pikir menjadi hal yang sangat penting. Lulusan perguruan tinggi perlu memahami bahwa karier adalah proses jangka panjang, bukan hasil instan.

Pekerjaan pertama tidak selalu menentukan masa depan seseorang. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan terus mengembangkan diri.

Selain itu, perguruan tinggi juga perlu menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. Kerja sama antara kampus dan industri menjadi langkah penting agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu terus menciptakan lapangan kerja baru serta mendorong pertumbuhan sektor kewirausahaan. Dengan demikian, lulusan sarjana tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga dapat menjadi pencipta lapangan kerja.

Fenomena sarjana yang memilih menganggur daripada menerima gaji kecil adalah masalah yang kompleks. Ia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga dengan ekspektasi, pola pikir, serta tekanan sosial yang berkembang di masyarakat.

Data menunjukkan bahwa pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan setiap tahun, dunia kerja menuntut fleksibilitas, keterampilan, dan kesiapan untuk memulai dari bawah.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil jika dapat menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih baik. Memulai karier dari posisi sederhana bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar dan berkembang.

Bagi orang tua, dukungan moral menjadi hal yang sangat penting. Anak-anak perlu didorong untuk berani mencoba berbagai peluang, bukan hanya menunggu pekerjaan yang dianggap ideal.

Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gelar yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar kemauan untuk bekerja, belajar, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.