Konten dari Pengguna

Mengenal Lebih Dekat W.S Rendra "Si Burung Merak"

syagna belinda

syagna belinda

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari syagna belinda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Willibrordus Surendra Broto Rendra yang kerap disapa W.S Rendra adalah seorang penyair ternama di Indonesia sejak tahun 1950-an. Beliau dijuluki sebagai "Si Burung Merak" karena penampilannya sebagai deklamator selalu mempesona. Rendra lahir tanggal 7 November 19935 di Solo, Jawa Tengah dan meninggal tahun 2009 di Depok, Jawa Barat.

Rendra dilahirkan dari keluarga yang kental akan seni. Bakat kesastraan yang dimiliki Rendra sudah terlihat dari ia masih sekolah SMP. Ia memperlihatkan kemampuannya dengan cara menulis cerita pendek, puisi, hingga drama dibeberapa kegiatan sekolahnya. Ayahnya, seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di salah satu sekolah Katolik, sedangkan ibunya seorang penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Rendra bersekolah dari TK tahun 1942 sampai SMA tahun 1952 di sekolah katolik, St. Yosef, Solo. setelah tamat sekolah, Rendra memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya di Akademi Luar Negreri, namun Akademi tersebut ternyata sudah tutup.

Setelah itu, Rendra meninggalkan kota impiannya dan pergi ke Yogyakarta untuk meneruskan studinya di Universitas Gadjah Mada. Rendra memilih Fakultas Sastra untuk memperdalam serta mengasah bakat seninya, namun ia tidak menamatkan studinya di Universitas tersebut.

Saat usianya 24 Tahun, Rendra menemukan cinta pertamanya yaitu Sunarti Suwandi dan memutuskan untuk menikah. Mereka memiliki 5 anak yang bernama Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta.

Setelah menikah dan mempunyai anak, Rendra tertarik dengan salah satu muridnya di Bengkel Teater yang bernama Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat yang disapa dengan Jeng Sito. Jeng Sito merupakan putri Keraton Yogyakarta. Kedekatan Jeng Sito dengan keluarga Rendra dimulai dari ia sering memandikan dan menyuapi anak-anaknya. Rendra memutuskan untuk menjadikan Jeng Seto istri keduanya, Sunarti pun mendukung tetapi ayah Jeng Seto keberatan karena perbedaan agama. Demi pernikahan dengan Jeng Seto, Rendra bersedia untuk mengucapkan kalimat dua syahadat untuk menjadi muallaf.

Pada tahun 1979, Rendra kepincut oleh wanita yang bernama Ken Zuraida dan berniat untuk menikahinya. Namun, Rendra harus menceraikan kedua istrinya sebab tidak menyetujui Rendra menikah untuk ketiga kalinya. Setelah menikah dengan Ken, ia memiliki dua anak yang bernama Isaias Sadewa dan Maryam Suparba.

Bakdi Sumanto (2000) mengatakan bahwa sejak tahun 1950-an Rendra sudah dikenal oleh masyarakat seniman di Surakarta. Tahun 1952, karya puisinya berhasil dipublikasi di Majalah Siasat. Setelah itu beberapa majalah turut mempublikasi puisinya seperti Majalah Kisah, Basis, Seni, Konfrontasi, serta Siasat Baru dan berlanjut hingga tahun 60-an sampai tahun 70-an. Puisinya yang dimuat pada majalah tersebut dikumpulkan dalam Balada Orang-Orang Tercinta dan sering ditampilkan untuk lomba deklamasi. Rendra juga menulis drama terjemahan seperti Odipus Sang Raja dan Kasidah Barzanji.

Tidak hanya pandai menulis, Rendra pun terlihat sangat lihai ketika berada di atas panggung untuk memantaskan sebuah drama ataupun membaca puisi.

Umar Kayam dalam Edi Haryono (2000) mengisahkan bahwa perkenalannya pertama kali dengan Rendra ketika ia mementaskan drama satu babak karangan Robert Middelmans yang disadur Sitor Situmorang dengan judul "Hanya Satu Kali". Rendra bermain dengan cemerlang sebagai pemeran utama di drama tersebut. Umar Kayam juga mengatakan bahwa Rendra tumbuh sebagai aktor dan sutradara di Yogyakarta.

Pada tahun 1945, Rendra diundang oleh pemerintah Amerika Serikat untuk menghadiri sebuah seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard. Di sana ia juga berkeliling untuk mengenal dan memperdalam tentang kehidupan kesusastraan di Amerika Serikat. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang ia dapat, ia berhasil mendirikan kelompok teater di Yogyakarta.

Pada tahun 1967, ia mendirikan Bengkel teater yang sangat terkenal di Indonesia. Namun, pada tahun 1977 ia mengalami kesulitan untuk menampilkan karya dramanya ataupun membacakan puisinya dimuka publik. Kejadian tersebut menyebabkan ekonominya menurun dan sulit untuk mempertahankan Bengkel Teater sehingga rendra harus merantau ke Jakarta untuk meanggulangi permasalahan ekonominya.

Tahun 1985, Rendra berhasil mendirikan Bengkel Teater Rendra yang berlokasi di kota Depok. Bengkel Teater Rendra sampai saat ini masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya. Bengkel Teater telah melahirkan beberapa seniman terkenal, di antaranya Ratna Surampaet, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Chaerul Umam, Azwar An, dan masih banyak lagi.

A. Teeuw (1989) dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II menyatakan bahwa Rendra tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu angkatan atau kelompok sastra karena karya-karyanya mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri. H.B. Jassin juga menyatakan bahwa Rendra adalah sastrawan yang sangat penting.

Beberapa karya W.S Rendra antara lain adalah: kumpulan puisi 1) Balada Orang-Oramg Tercinta (1957), 2) Kumpulan Sajak (1961), 3) Blues untuk Bonnie (1971), 4) Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972), 5) Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), 6) Nyanyian Orang Urakan (1985), 7) Disebabkan oleh Angin (1993), dan 8) Orang-Orang Rangkasbitung (1993), (B) naskah drama 1) Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954), 2) Selamatan Anak Cucu Sulaiman (1967), 3) Mastodon dan Burung Kondor (1972), 4) Kisah Perjuangan Suku Naga (1975), 5) SEKDA (1977), dan 6) Panembahan Reso (1986), (C) pentas drama (teater) dengan naskah pengarang lain, antara lain, 1) "Paraguay Tercinta" (1961) karya Fritz Hochwalder, 2) "Odipus Sang Raja" karya Sophocles, 3) "Oedipus di Colonus" karya Sophocles, 4) "Antigone" karya Sophocles, 5) "Lysistirata" karya Aristophanes; 6) "Menunggu Godot" karya Samuel Beckett, 7) "Macbeth" karya Willdiam Shakespeare, 8) "Hamlet" karya Willdiam Shakespeare, 9) "Pangeran Homburg" karya Heinrich von Kleist, 10) "Kasidah Barzanji" karya Al Barzanji terjemahan Syu'bah Asa, 11) "Egmont" karya Goethe, (D) pentas drama karya sendiri (1) "Mastodon dan Burung Condor" (1973), (2) "Perjuangan Suku Naga", (3) "Panembahan Resso", (4) "Sabda" (banyolan), (E) Kumpulan Esai Mempertimbangkan Tradisi (1983).

Meskipun raganya sudah tiada, namun W.S Rendra selalu dikenang sebagai salah satu sastrawan hebat di Indonesia. melalui karyanya, Rendra menyuarakan kritikan terhadap politik yang membuat hidup masyarakat menjadi pelik.