Tenaga Kerja di Tengah Perubahan Industri: Ribuan Karyawan Jadi Kekuatan

Mahasiswa Universitas Pamulang yang senang membuat artikel dan jurnal
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syahdan Nur Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik produk-produk yang setiap hari mudah ditemukan di toko dan supermarket, terdapat ribuan tenaga kerja yang menjadi bagian penting dari perjalanan PT Mayora Indah Tbk. Sebagai salah satu perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) di Indonesia, Mayora tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga mampu mengelola sumber daya manusia agar tetap produktif dan mampu mengikuti perubahan industri.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, jumlah karyawan Mayora bersama entitas anak mencapai 11.997 orang per 31 Desember 2025. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan 2024 yang mencapai 12.667 orang. Mayora menjelaskan bahwa perubahan tersebut salah satunya berkaitan dengan beroperasinya pabrik baru dan adanya relokasi kegiatan produksi. Karyawan yang tidak bersedia mengikuti perpindahan tersebut diberikan pilihan untuk mengikuti program pensiun dini.
Ribuan Karyawan dengan Peran yang Beragam
Tenaga kerja Mayora tidak hanya berasal dari satu bidang pekerjaan. Mereka terdiri dari berbagai posisi yang mendukung kegiatan perusahaan, mulai dari staf, supervisor, hingga manajer dan manajer senior.
Pada 2025, tercatat sebanyak 10.555 karyawan berada pada posisi staf, 973 orang sebagai supervisor, serta 469 orang sebagai manajer dan manajer senior. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja Mayora berada pada bagian operasional yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung aktivitas bisnis perusahaan.
Dari sisi gender, tenaga kerja Mayora pada 2025 terdiri dari 8.419 laki-laki dan 3.578 perempuan. Perusahaan juga menyatakan komitmennya terhadap kesempatan kerja yang setara tanpa membedakan usia, gender, agama, maupun bentuk diskriminasi lainnya.
Bukan Sekadar Jumlah, Kesejahteraan Karyawan Juga Penting
Besarnya jumlah tenaga kerja membuat pengelolaan sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dalam keberlangsungan perusahaan. Mayora tidak hanya berfokus pada kebutuhan operasional, tetapi juga memperhatikan aspek kesejahteraan dan hak karyawan.
Salah satu contohnya terlihat dari pemberian hak cuti bagi karyawan. Pada 2025, sebanyak 45 karyawan perempuan mengambil cuti melahirkan, sementara 302 karyawan laki-laki menggunakan cuti paternitas untuk mendampingi pasangan mereka saat proses persalinan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, tetapi juga memperhatikan kehidupan keluarga karyawan.
Dari sisi biaya, Mayora juga mencatat total biaya tenaga kerja pada 2025 sekitar Rp2,14 triliun, meningkat dari sekitar Rp1,99 triliun pada 2024. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran tenaga kerja sekaligus investasi perusahaan dalam mendukung kegiatan operasionalnya.
Tantangan Tenaga Kerja di Tengah Perubahan Industri
Perubahan teknologi dan perkembangan industri FMCG membuat perusahaan harus terus beradaptasi. Bagi perusahaan dengan jumlah tenaga kerja yang besar seperti Mayora, perubahan sistem produksi, penggunaan teknologi, hingga pemindahan kegiatan operasional tentu membutuhkan kemampuan adaptasi dari karyawan.
Beroperasinya pabrik baru menjadi salah satu contoh bahwa perkembangan bisnis dapat membawa perubahan terhadap tenaga kerja. Relokasi produksi tidak hanya berkaitan dengan mesin dan fasilitas, tetapi juga berdampak pada karyawan yang harus menyesuaikan diri dengan lokasi maupun pola kerja baru.
Karena itu, pengembangan kemampuan karyawan menjadi semakin penting. Tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi, memahami proses kerja baru, dan tetap menjaga kualitas produk akan menjadi salah satu faktor yang membantu perusahaan menghadapi persaingan industri yang semakin ketat.
Tenaga Kerja Menjadi Bagian Penting dari Daya Saing Mayora
Keberhasilan sebuah perusahaan besar tidak hanya ditentukan oleh merek dan produk yang dikenal masyarakat. Di belakang proses produksi, distribusi, hingga produk sampai ke tangan konsumen, terdapat tenaga kerja yang menjalankan berbagai fungsi.
Bagi Mayora, keberadaan hampir 12 ribu karyawan menunjukkan bahwa manusia masih menjadi bagian penting dalam menjalankan kegiatan bisnis. Mesin dan teknologi memang dapat membantu meningkatkan efisiensi, tetapi tetap dibutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan, mengawasi, mengambil keputusan, serta menjaga kualitas proses produksi.
Pada akhirnya, tantangan Mayora bukan hanya mempertahankan jumlah tenaga kerja, tetapi bagaimana memastikan setiap karyawan memiliki kemampuan dan lingkungan kerja yang mendukung produktivitas. Dengan pengelolaan sumber daya manusia yang baik, tenaga kerja dapat menjadi kekuatan perusahaan untuk terus berkembang, berinovasi, dan menghadapi persaingan pasar yang semakin dinamis.
