Konten dari Pengguna

Gangguan Mental Celebrity Worship Syndrome: Berlebihan Itu Merugikan

Syahdilla Putri Maharani

Syahdilla Putri Maharani

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahdilla Putri Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Celebrity Worship Syndrome sebagai Gangguan Mental (Sumber: pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Celebrity Worship Syndrome sebagai Gangguan Mental (Sumber: pixabay.com)

Teknologi dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Setiap adanya kemajuan zaman, tentu berbagai macam pula tantangan yang harus kita hadapi. Terlebih di era sekarang, segala akses informasi dengan bebasnya berlalu-lalang di kehidupan kita. Zaman dahulu untuk mengetahui kabar sanak saudara yang masih satu daerah saja terasa sangat sulit, namun sekarang kabar dari berbagai dunia dapat kita ketahui hanya dalam beberapa detik saja tidak peduli jarak berjuta-juta kilo kian membentang. Kemudahan demi kemudahan terus kita dapatkan berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, entah bentuk kemudahan apalagi yang dapat kita akses sebagai manusia nantinya.

Seperti pisau bermata dua, banyak sisi baik yang didapat tentu banyak pula mudarat bagi kehidupan. Fenomena demi fenomena terus terjadi akibat kencangnya arus informasi tadi bahkan ada yang di luar nalar kita sebagai manusia namun kita sebagai pengguna kemajuan teknologi ini banyak yang tidak sadar jika kita sebenarnya sudah mengalami dan termasuk ke dalam fenomena-fenomena tersebut.

Mengenal Celebrity Worship Syndrome

Fenomena yang saat ini menjadi sorotan adalah celebrity worship syndrome. Salah satu gangguan kesehatan mental ini sering kali kita lihat tidak hanya di dunia maya tetapi juga di dunia nyata dan sekeliling kita. Celebrity worship syndrome merupakan suatu keadaan di mana seorang individu terlalu tertarik dan tergila-gila dengan idolanya di luar batas wajar, entah sang artis berwajah tampan atau cantik, memiliki fisik yang bagus, sangat kaya, memiliki keluarga dan kehidupan yang sempurna, ataupun idolanya tersebut sangat sesuai dengan tipe pasangan ideal yang diidam-idamkan, dan penyebab-penyebab lainnya. Fenomena ini menyebabkan banyak remaja menjadi addiction dan obsesif terhadap idolanya, yang nantinya hal ini dapat memberikan dampak buruk tidak hanya bagi si penggemar namun juga bagi sang idola karena biasanya fenomena ini telah merembet masuk ke dalam kehidupan pribadi sang idola yang serta-merta dapat merugikannya.

Ciri-ciri dan Faktornya

Biasanya mereka terus menguntit idolanya kemanapun mereka pergi hingga berbuat nekat yang nantinya dapat membahayakan sang idola. Tidak hanya di dunia nyata namun di dunia maya mereka juga sering kali berperilaku agresif. Contohnya, saat sang idola sedang makan di sebuah restoran bersama dengan keluarganya, si penggemar ini tidak akan segan-segan untuk menghampiri dan berbuat agresif dikarenakan kecanduan yang berlebihan tadi, di sosial media pun juga begitu, ia akan memberikan komentar-komentar ataupun mengirim pesan kepada sang idola tanpa rasa malu karena yang penting obsesinya tersalurkan.

Menurut Maltby, Celebrity Worship terbagi atas 3 aspek:

1) Entertainment Social, pada tahap ini, seorang individu atau penggemar akan mulai menggali informasi lebih lanjut mengenai idolanya, mengoleksi merchandise yang berkaitan dengan idolanya, dan mencari teman-teman sesama penggemar.

2) Intense-personal, pada tahap ini intensitasnya sudah meningkat dari tahap sebelumnya, yang dari mencari informasi dan membeli aksesoris mengenai idolanya, di tahap ini seorang penggemar memiliki perasaan kompulsif yang merasa bahwa sang idola sudah dekat dengan dirinya dengan meningkatkan kuantitas menggali informasi lebih lagi mengenai sang idola dan merasa bahwa sang idola adalah pasangan yang ideal untuk dirinya dan merasa cocok.

3) Borderline-pathological, tahap ini sudah mencapai titik maksimal di mana si penggemar tidak lagi memiliki kendali diri, mereka bersikap ekstrem, berfantasi berlebihan dan cenderung aneh kepada idolanya, sikap-sikap tidak terkontrol akan cenderung dilakukan oleh si penggemar ini.

Celebrity worship ini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti usia, jenis kelamin, pendidikan dan keterampilan sosial. Celebrity Worship ini umumnya terjadi pada remaja berusia 12-18 tahun dan biasanya akan berkurang seiring bertambah usia, dan juga hal ini dapat dilakukan oleh siapa pun tanpa memandang jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Penggemar perempuan akan cenderung mengagumi selebriti laki-laki dan begitu pun sebaliknya, serta kemampuan keterampilan sosial juga memengaruhi karena seseorang dengan keterampilan sosial yang rendah akan cenderung terjebak dalam celebrity worship syndrome untuk mengisi kekosongannya, serta juga seseorang dengan tingkat pendidikan yang rendah juga akan cenderung melakukan hal tersebut.

Lalu bagaimana sih caranya mengetahui seseorang dengan celebrity worship syndrome?

Seseorang dengan celebrity worship syndrome akan tergila-gila dengan idolanya secara tidak wajar dan menyukai lebih dari seharusnya. Mereka juga tidak akan terima dan tidak rela idolanya disukai oleh orang lain bahkan temannya sendiri. Saat beraktivitas mereka merasa ada yang kurang dengan kehidupannya jikalau tidak mengetahui kabar terbaru dari idolanya.

Apalagi tidak mendapat informasi lumayan lama dari idolanya, mereka akan merasa resah sehingga melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya seperti mencari dan menggali informasi secara brutal mengenai kehidupan pribadi idolanya sehingga merugikan selebriti tersebut. Tidak hanya itu mereka juga memiliki fantasi berlebihan yang menjadikan sang idola menjadi objek fantasinya, seperti berfantasi bahwa sang idola tersebut merupakan pasangan hidupnya sehidup semati. Hal ini sering ditemui di dunia nyata bahkan terjadi pada teman-teman saya yang menganggap idola k-pop seperti Sehun EXO sebagai pacar atau suaminya.

BERSIKAP SEWAJARNYA SAJA

Maka dari itu kita sebagai penggemar sebaiknya bersikap sewajarnya saja agar tidak menyebabkan hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri dan idola kita. Lakukan hal-hal positif lain yang dapat menunjang kualitas diri, serta harus lebih aware dan mencegah hal-hal buruk tersebut, dengan menyadari apa yang berdampak baik dan apa yang akan berdampak buruk bagi kehidupan kita. Ingat bahwa apa yang berlebihan itu tidak baik serta jika merasa mengalami hal tersebut jangan melakukan self-diagnosed, tapi konsultasikan kepada ahlinya.

Referensi:

Maltby,J., dkk.(2004). Personality and coping: a context for examining celebrity worship and mental health. British Journal of Psychology. Vol. 95, September: 411-428.

Kusuma, Nawang. (2014). Hubungan celebrity worship terhadap idola k-pop (korean pop) dengan perilaku imitasi pada remaja. Surabaya: Universitas Brawijaya.