Saat Inner Child Ikut Jatuh Cinta

mahasiswa Psikologi UIN Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari syaheeda aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buat banyak orang, pacaran itu identik dengan rasa suka, perhatian, dan ngobrol bareng pasangan. Tapi sebenarnya, pacaran nggak cuma soal itu. Tanpa sadar, hubungan juga jadi tempat ketemunya perasaan-perasaan lama yang kita bawa dari masa kecil. Di sinilah inner child ikut berperan
Inner Child dan Kebutuhan Emosional
Inner child adalah bagian dari diri yang terbentuk dari pengalaman masa kecil seseorang. Saat kebutuhan emosional seperti kasih sayang dan perhatian tidak terpenuhi, inner child akan terus mencari pemenuhannya. Dalam hubungan berpacaran, kebutuhan ini bisa muncul kembali dan memengaruhi cara seseorang bersikap terhadap pasangan.
Berpacaran sebagai Tempat Aman
Buat banyak orang, pacaran jadi tempat untuk merasa aman secara emosional. Hal-hal sederhana seperti dibales chat, ditemani pas lagi sedih, atau didengerin curhat bisa bikin hati tenang. Inner child yang dulu merasa kurang diperhatiin jadi ngerasa akhirnya ada yang peduli. Hal ini membuat hubungan terasa sangat penting secara emosional.
Hubungan Sehat dan Inner Child
Hubungan yang sehat itu bukan soal saling melengkapi luka, tapi bagaimana kita saling mendukung untuk sama sama bertumbuh. Saat seseorang mulai sadar dengan luka emosinya sendiri, dia bisa lebih tenang dan nggak mudah meledak. Komunikasi jadi lebih enak dan konflik bisa diselesaikan tanpa drama berlebihan.
Pacaran nggak cuma soal cinta, tapi juga soal saling bikin nyaman. Kalau dijalani dengan kesadaran dan komunikasi yang baik, hubungan bisa jadi ruang yang aman buat tumbuh bareng dan saling memahami, termasuk memahami sisi inner child masing-masing.
