Konten dari Pengguna

Rocky Gerung dan Politik Santun: Etika dalam Dialog Publik

Syahiduz Zaman

Syahiduz Zaman

Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

·waktu baca 2 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahiduz Zaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi etika dialog publik. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi etika dialog publik. Foto: Shutterstock

Dalam era demokrasi digital saat ini, di mana setiap kata bisa memantik pro dan kontra dalam hitungan detik. Kasus Rocky Gerung mengingatkan kita tentang pentingnya etika dalam berbicara dan mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan urusan publik.

Presiden, sebagai representasi dari sebuah bangsa, memang harus diberikan rasa hormat. Namun, di sisi lain, demokrasi juga mengizinkan kritik—asalkan dilakukan dengan cara yang etis dan beradab.

Rocky Gerung, seorang akademisi yang dikenal dengan pandangan-pandangannya yang kritis, kali ini terjatuh dalam perangkap kata-katanya sendiri. Meskipun maksudnya mungkin adalah memberikan kritik, namun pemilihan kata-katanya dituding telah melampaui batas.

Namun, apa sebenarnya batasan dalam memberikan kritik dalam demokrasi? Dan, apakah etika berbicara harus selalu menjaga perasaan seseorang?

Ketika memperhatikan karya-karya para tokoh seperti Max Weber, Gabriel A. Almond, Sidney Verba, dan Clifford Geertz, kita dapat memahami bahwa perilaku politik tidak hanya terdiri dari tindakan, tetapi juga dari makna yang terkandung di dalamnya.

Ilustrasi politik identitas. Foto: Shutter Stock

Dalam "Politik Sebagai Profesi", Weber mengingatkan kita tentang etika dalam politik serta bagaimana para pemimpin harus memiliki integritas moral dalam tindakan dan kata-katanya.

Almond dan Verba, dalam "The Civic Culture", menekankan pentingnya partisipasi aktif warga negara dalam politik—yang berarti juga memberi ruang untuk kritik dan diskusi publik.

Sementara Clifford Geertz dengan pendekatannya tentang interpretasi budaya, mengingatkan kita bahwa setiap tindakan dan perkataan memiliki makna yang mendalam dalam konteks budaya masyarakat.

Jadi, dalam kasus Rocky Gerung, apakah seharusnya masyarakat Indonesia menilai kata-katanya berdasarkan etika berbicara atau konteks budaya di mana dia berbicara?

Tentunya, ini adalah pertanyaan yang rumit dan tidak memiliki jawaban yang pasti. Namun, satu hal yang jelas: etika dalam dialog publik adalah esensial, dan kita semua harus berupaya menjaga tata cara berbicara kita, terutama dalam era digital saat ini.

Rocky Gerung. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Dalam era informasi, di mana kata-kata dapat dengan mudah disebarluaskan dan ditafsirkan dengan berbagai cara. Penting bagi setiap individu, khususnya mereka yang memiliki pengaruh publik, untuk berbicara dengan hati-hati dan memastikan bahwa pesan mereka disampaikan dengan jelas dan etis.

Ini bukan berarti menghalangi kebebasan berbicara. Tetapi lebih kepada bagaimana kita menggunakan kebebasan itu dengan bijak dan bertanggung jawab tentunya.

Sebagai penutup, kasus Rocky Gerung adalah pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya etika dalam dialog publik. Kritik adalah bagian dari demokrasi, tetapi cara kita menyampaikannya adalah yang membuat perbedaan.

Mari kita berupaya menciptakan ruang publik yang lebih sehat, di mana diskusi dapat dilakukan dengan hormat dan saling pengertian.