• 1

Islam Nusantara, Arabisasi, dan 'Rahmatan Lil Alamin'

Islam Nusantara, Arabisasi, dan 'Rahmatan Lil Alamin'


Salat Jumat di Pasar Tanah Abang

Suasana Salat Jumat di Pasar Tanah Abang. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)
Membicarakan Islam dari berbagai sudut pandangnya memang sangat menarik, bahkan tak jarang kontroversial, karena masing-masing punya klaim sendiri soal kebenarannya. Dari sejumlah pembicaraan yang ada, salah satu yang belakangan ini tengah ramai adalah pembicaraan soal 'Islam Nusantara'.
Sungguh menggelikan membaca kegaduhan di media sosial, yang mana sekelompok orang yang mempersoalkan Islam Nusantara. Ada yang menganggap Islam Nusantara seperti agama baru atau keyakinan menyimpang yang seakan-akan mendegradasi pemaknaan Islam itu sendiri.
Di sisi lain, mereka yang manut secara tradisionalis juga sibuk melakukan counter atas tuduhan-tuduhan menyakitkan yang nyinyir terhadap realitas ini--walaupun seringkali argumentasinya justru terbantahkan.
Saya lalu teringat salah satu ungkapan Gus Mus dalam sebuah ceramahnya di acara 'Haul Gus Dur' beberapa tahun yang lalu. Bagi saya, ceramah itu paling tidak dapat mewakili persepsi soal apa itu Islam Nusantara. “Kita ini adalah orang Indonesia yang kebetulan beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia,” ucap beliau.
Ungkapan Gus Mus ini terasa mengena, karena keislaman kita tentu terkait erat dengan budaya Nusantara, karena bapak dan ibu kitalah sesungguhnya yang kebetulan menjadikan kita sebagai muslim, bukan doktrin agama itu sendiri. Keislaman orang Indonesia jelas warisan yang turun-temurun, dengan seperangkat kebudayaan, tradisi, adat istiadat yang melekat, bukan orisinil seperti Islam yang diturunkan di Arab.
Jangankan kita yang kebetulan sebagai Muslim Indonesia, lha wong Nabi Muhammad sendiri ketika diajak oleh para pemuka Yahudi dan Nasrani agar mau mengikuti agama mereka, beliau menolak. Alasannya, bahwa beliau lebih memilih mengikuti agama yang lurus (millata ibraahima haniifa) seperangkat kepercayaan yang diwariskan oleh kakek moyangnya sendiri Nabi Ibrahim.
Warisan Ibrahim kepada Muhammad tentu saja bukan entitas tersendiri, namun lengkap dengan seperangkat adat istiadat, budaya, dan tradisi yang melingkupinya. Agama dengan demikian merupakan seperangkat keyakinan, tradisi, atau kebiasaan yang diikuti secara turun temurun. Lagi pula, Islam secara fenomenologis muncul belakangan, walaupun secara substantif, hadir jauh sebelum dikenalnya masyarakat Arab Jahiliyah.
Memahami Islam Nusantara, yang diperkenalkan oleh kalangan Nahdliyyin, tak dapat dilepaskan dari kenyataan hadirnya agama itu sendiri di Nusantara. Kita dengan mudah dapat berasumsi soal bagaimana cara Islam masuk ke Indonesia ini. Apakah jubah yang pertama kali dikenal masyarakat Nusantara sebagai entitas keislaman? Atau Imamah? Ataukah jenggot yang bergelantung? Atau perubahan bahasa dari “saya” ke “ana” atau “ente” ke “antum”?
Jika kita mencoba menelusuri, benarkah Islam masuk dan tersebar di Nusantara ini melalui Selametan? Tumpengan? Pewayangan? Dolanan? Atau bahkan tradisi Tahlilan, Marhabanan, atau segala sesuatu yang lekat dan mudah berasimilasi dengan adat dan tradisi lokal setempat? Di sini kita dapat memahami sebenarnya, apa sesungguhnya yang dimaksud oleh Islam Nusantara yang belakangan dipersoalkan.

Islam

Islam (Foto: Pixabay)
Kembali kita dapat menguji berbagai pertanyaan yang dapat menguak kenapa Islam “bercorak” Nusantara itu khas dan berbeda dari sisi tradisi dan budayanya dibanding komunitas Islam lainnya. Ajaran Islam yang kita kenal, tentu saja berasal dari para ulama Nusantara, bukan berasal langsung dari contoh hidup Nabi Muhammad. Keluarga kita yang Muslim, memperkenalkan ajaran-ajaran Islam kepada kita semenjak dini, terutama terkait dengan tatakrama, adab berkomunikasi dan bersosialisasi, yang keseluruhannya melekat dalam tradisi Islam Nusantara.
Bukankah kita mengenal dalil-dalil keagamaan dari para ulama? Bukankah Imam Bukhari yang seringkali periwayatannya kita jadikan sandaran keagamaan adalah ulama hadis yang memiliki kesinambungan (thabaqat) keilmuan dengan Abu Hanifah dan bahkan Imam Syafi’i?
Kita tentu harus menyadari dan berterima kasih kepada para ulama yang menyebarkan nilai-nilai keislaman “rahmatan lil ‘alamin” sebagaimana yang dipraktikkan Nabi Muhammad. Kita terlalu jauh dengan generasi Nabi, para sahabatnya, tabi’in atau tabi’ittabi’in, bahkan dengan para ulama setelahnya-pun rasa-rasanya kita terpaut sangat jauh.
Agak terharu rasanya jika ada yang berasumsi bahwa Islam Nusantara itu mengada-ada, karena Islam itu hanya ada dalam konsep besar “rahmatan lil ‘alamin”, yang berkonotasi tak ada Islam Arab dan bukan Arab (a’jamiyun). Padahal, makna kalimat “rahmatan lil’alamin” tentu saja bukan menafikkan keberadaan umat-umat terdahulu, atau menggerus nilai-nilai tradisi atau budaya yang berkembang di masyarakat.
Menarik ketika Ibnu Abbas menafsirkan ayat, “wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamiin” (Dan saya (Muhammad) tidak diutus selain menebarkan kasih sayang bagi seluruh alam raya) dengan menyebut bahwa kasih sayang tidak saja diberikan kepada mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saja, tetapi mereka yang tidak beriman sekalipun masuk dalam tebaran kasih sayang atau minimal “dimaafkan” atas segala kekeliruan yang pernah dilakukan.
Hal senada ditegaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya, bahwa Allah mengutus nabi-Nya sebagai rahmat bagi sekalian alam, baik bagi mereka yang beriman (the believers) dan mereka yang “kafir” (the disbelievers). Bahkan, menurutnya, mereka yang tidak beriman, sudah lebih dahulu hancur dan punah diakibatkan oleh ulah mereka sendiri, sehingga diturunkan azab Tuhan kepada mereka.
Jadi, konsep “rahmatan lil ‘alamin” justru seringkali disalahpahami sebagai bentuk keyakinan Islam yang universal menurut klaimnya tersendiri, yang mana Islam itu seakan identik dengan Arab dan sebaliknya. Jika Islam sanggup menebarkan rahmat dan kasih sayang, maka corak Islam Nusantara yang belakangan diperdebatkan, justru sukses menebar kedamaian dan kasih sayang melalui akulturasi budaya tanpa ada pertentangan sedikitpun.
Bukankah itu yang dimaksud dengan diutusnya Nabi Muhammad? Memberi nuansa kasih sayang terhadap seluruh umat manusia melalui ajaran-ajaran Islam yang disebarkannya? Itulah kenapa para ulama disebut sebagai pewaris para nabi, karena mereka benar-benar memahami kondisi dan situasi sosial yang dihadapinya, termasuk ketika mereka menancapkan akar keislaman di kepulauan Nusantara.
Jika diajukan sebuah pertanyaan, anda menjadi Islam dari mana? Jawabannya tentu saja menjadi muslim karena kebetulan orang tua anda lahir di Indonesia yang dikenal dengan gugus pulau Nusantara, terbentang dari Sabang hingga Merauke. Oleh karena itu, jangan mengingkari jika Islam anda bercorak Nusantara, lalu mengklaim Islam anda lebih “orisinil” karena sesuai dengan ajaran yang dibawa langsung oleh Nabi Muhammad yang kebetulan berbudaya Arab.
Saya kira, seluruh persepsi keislaman anda berasal dari para ulama yang tak mungkin terlepas dari situasi adat dan budaya yang mengitarinya. Orang tua anda sebagai seorang Muslim, pasti mengajarkan bagaimana Islam selaras dengan kondisi budaya dan adab Nusantara, bukan mengajarkan bagaimana budaya Arab yang “dipaksakan” demi klaim otentisitas keislaman anda.
Tak perlu berdebat lebih jauh, karena Islam Nusantara juga Islam “rahmatan lil ‘alamin” karena terbukti mampu meresap ke dalam budaya masyarakat, mengangkat citra kearifan lokal tanpa mempertentangkannya, dan terbukti menyebar sedemikian cepat dan masif di bumi Nusantara.

IslamBudaya

presentation
500

Baca Lainnya