Sekilas Memahami Karhutla Kalimantan: Kanal, Bara, dan Istilah "Ubi Bombing"

Sedang banyak mengamati Indonesia. Pernah ASN. Konsultan Pemda dan Fasilitator Desa Perantau di Malang.
·waktu baca 19 menit
Tulisan dari Abid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan pada 2026 ini menunjukkan pola yang tidak biasa. Titik api sudah mulai bermunculan sejak Januari, jauh sebelum musim kemarau resmi tiba dan pada saat Indonesia seharusnya masih diguyur hujan. Kalimantan Tengah bahkan sudah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Karhutla sejak akhir Mei hingga akhir Oktober, dengan luas lahan terbakar menembus lebih dari 7.600 hektar hanya dalam delapan bulan. Kalimantan Barat mencatat angka jauh lebih besar, sekitar 28.680 hektar terbakar hingga awal Agustus, dengan asap yang menyeberang sampai membuat sekolah-sekolah di Sarawak, Malaysia, terpaksa diliburkan.
Di tengah krisis ini, muncul satu istilah yang mendadak viral, yaitu “ubi bombing”. Istilah ini merujuk pada gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk memadamkan api dengan tepung singkong, sebagai alternatif dari water bombing yang selama ini mengandalkan helikopter pengangkut air. Gagasan ini memicu perdebatan antara optimisme pejabat dan kehati-hatian ilmuwan.
Sebelumnya, ada baiknya kita mundur dulu ke akar persoalan yang sesungguhnya jauh lebih tua dari sekadar musim kemarau tahun ini, yaitu kanalisasi lahan gambut.
Kanalisasi Hutan Gambut
Indonesia memiliki 13,43 juta hektar gambut tropis yang merupakan ekosistem gambut tropis terluas di dunia, dengan Kalimantan menyumbang sekitar 4,5 juta hektar dari total tersebut. Gambut secara alami adalah lahan basah yang berisi tumpukan bahan organik yang terbentuk selama ribuan tahun dan menyimpan air dalam jumlah sangat besar. Selama muka air tanahnya tetap tinggi, gambut sebenarnya tergolong tahan api. Persoalannya dimulai ketika muka air itu sengaja diturunkan.
Kanalisasi sederhananya adalah praktik penggalian parit atau kanal drainase untuk mengalirkan air keluar dari kawasan gambut sehingga muka air tanahnya turun. Secara hidrologis, praktik ini mengubah gambut dari ekosistem basah yang banyak air menjadi lahan yang berpori dan mudah kering terutama begitu musim kemarau tiba.
Secara bisnis tujuannya sederhana, yaitu gambut yang basah tidak bisa langsung ditanami sawit atau pohon industri lainnya seperti akasia sehingga perusahaan harus mengeringkannya terlebih dahulu melalui jaringan kanal agar lahan cukup padat untuk perkebunan monokultur. Menurut kajian Pantau Gambut, setidaknya ada lebih dari 280.000 kanal yang membelah ekosistem gambut di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Bila dihubungkan panjang seluruh kanal itu setara 120 kali perjalanan pulang pergi di Tol Trans Jawa. Sebagian besar kanal ini berada di dalam konsesi perkebunan sawit dan hutan tanaman industri milik perusahaan swasta.
Sudah merupakan rahasia umum bahwa sebagian besar kanalisasi ini terjadi di dalam wilayah izin resmi. Studi Pantau Gambut bersama Kaoem Telapak di Kalimantan Tengah, misalnya, mendokumentasikan praktik PT. Agrindo Green Lestari (AGL) dan PT. Citra Agro Abadi (CAA) di Kabupaten Pulang Pisau yang diduga sengaja melakukan pengeringan lahan gambut lewat kanalisasi meskipun kawasan tersebut masuk fungsi indikatif gambut lindung, bahkan sampai disebut sebagai “residivis” karena berulang kali ditegur namun terus melanjutkan aktivitas serupa. Di Kalimantan Barat, laporan masyarakat sipil mendokumentasikan dugaan pembukaan lahan gambut oleh PT. Mayawana Persada dengan kedalaman kanal lebih dari tiga meter di area gambut lindung. Pantau Gambut mengidentifikasi 243 konsesi HGU sawit yang secara signifikan merusak Kesatuan Hidrologis Gambut, dengan tiga perusahaan besar sebagai kontributor utama kerentanan itu: PT. Global Indo Agung Lestari (Genting Group), PT. Jalin Valeo (Pasifik Agro Group), dan PT. Kalimantan Agro Lestari (Best Agro Group).
Dampak Negatif Kanalisasi
Dampaknya terhadap karhutla bersifat langsung dan terukur. Studi Taufik dkk. (2019) menunjukkan bahwa sifat fisik gambut Indonesia, terutama tingkat humifikasi dan kemampuan menahan air, sangat menentukan seberapa dalam muka air tanah bisa turun pada musim kering, dan seberapa cepat kekeringan hidrologis serta bahaya kebakaran meningkat, terutama pada tahun-tahun El Nino. Riset yang sama merujuk temuan Wösten (2008) di Kalimantan Tengah yang memakai model air tanah dan citra satelit untuk menunjukkan bahwa begitu kedalaman drainase melewati ambang kritis sekitar 0,4 meter di bawah permukaan tanah, bahaya kebakaran mengalami peningkatan tajam.
Kanal drainase pun dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan kebakaran sekitar 4,5 kali lebih tinggi dibanding kawasan gambut yang tidak dikeringkan. Data terbaru dari Pantau Gambut memperkuat pola ini: dari 1.824 titik panas nasional yang terdeteksi berada di dalam area konsesi berizin dengan 1.617 di antaranya berada di dalam kawasan HGU perkebunan sawit, dengan Kalimantan Barat sebagai salah satu provinsi paling parah terdampak. Tercatat lebih dari 2.200 titik panas di sana.
Singkatnya, kanalisasi bukan sekadar dosa masa lalu, melainkan juga merupakan "infrastruktur kekeringan" yang terus aktif bekerja setiap musim kemarau, mengubah lanskap yang semula basah dan tahan api menjadi bahan bakar raksasa yang tinggal menunggu percikan.
Bagaimana Titik Api Baru Terus Bermunculan
Untuk memahami alasan mengapa titik api di lahan gambut begitu sulit dipadamkan tuntas, kita perlu memahami satu karakteristik unik bahwa kebakaran gambut tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah sebagai bara yang terbakar secara perlahan, atau biasa dikenal sebagai kebakaran bawah permukaan (subsurface fire atau smouldering fire). Jenis kebakaran ini bisa bertahan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, jauh di dalam lapisan gambut yang tebal, tanpa terlihat jelas dari permukaan maupun terdeteksi optimal oleh satelit pemantau titik panas.
Rangkaian peristiwanya kurang lebih seperti ini:
1. Kanal-kanal yang dibangun untuk drainase perkebunan menurunkan muka air tanah di kawasan gambut secara luas, jauh melampaui batas konsesi tempat kanal itu digali, karena satu Kesatuan Hidrologis Gambut saling terhubung secara hidrologis;
2. Ketika kemarau tiba, lapisan gambut yang biasanya jenuh air menjadi kering dan porous, berubah menjadi bahan bakar organik yang sangat mudah terbakar, kondisi ini memenuhi salah satu dari tiga unsur segitiga api, yakni bahan bakar;
3. Dengan tersedianya oksigen secara melimpah di udara terbuka dan sumber panas datang (yang paling sering dari praktik membuka lahan dengan cara membakar) metode yang masih dianggap paling murah dan cepat, baik oleh korporasi besar maupun petani skala kecil. Begitu api menyala di permukaan, ia dapat merembes turun mengikuti akar-akar yang telah mengering dan pori-pori gambut yang porous, membentuk bara yang terus membakar perlahan di bawah tanah meski permukaannya tampak sudah padam;
4. Kanal-kanal yang mengering, yang tadinya berfungsi mengeringkan lahan, kini justru berbalik berperan sebagai jalur rambatan tambahan, karena dasar kanal yang kering pun ikut menjadi materi mudah terbakar dan menghubungkan titik-titik lahan yang berjauhan. Bara bawah tanah ini bisa “berjalan” secara diam-diam mengikuti lapisan gambut kering, lalu muncul kembali ke permukaan sebagai titik api baru di lokasi yang tampak belum pernah terbakar, kadang berhari-hari setelah petugas mengumumkan area sebelumnya “sudah padam”.
Fenomena inilah yang membuat petugas di lapangan, seperti yang dialami tim gabungan di Guntung Damar, Kalimantan Selatan, harus berulang kali kembali ke lokasi yang sama karena api terus muncul kembali dari bawah, meski bagian atasnya telah disiram tuntas.
Pola inilah yang membuat Pantau Gambut mencatat sesuatu yang janggal di awal 2026: sebanyak 5.490 titik panas terdeteksi sepanjang Januari, yang semestinya masih musim hujan, dengan lebih dari separuhnya, sekitar 3.266 titik, justru berada di ekosistem gambut lindung. Fenomena ini menegaskan bahwa kebakaran gambut kini tidak lagi bersifat musiman semata, melainkan telah berubah menjadi krisis struktural tahunan. Selama muka air tanah tetap tertekan akibat drainase yang tak dipulihkan, potensi bara untuk terus muncul kembali tidak pernah benar-benar hilang, bahkan di tengah hujan sekalipun.
Mengapa El Nino Tahun Ini Terasa Berbeda?
Titik api yang muncul sejak Januari tidak lepas dari satu faktor iklim besar yang tengah berlangsung, El Nino. Namun sebelum membahas bagaimana ia memperparah karhutla di Kalimantan, ada baiknya memahami dulu bagaimana fenomena ini sebenarnya terbentuk, dan mengapa El Nino tahun 2026 disebut berbeda dari kejadian-kejadian sebelumnya.
El Nino adalah fase hangat dari siklus iklim yang dikenal sebagai El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yaitu fluktuasi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang bergantian antara fase hangat (El Nino) dan fase dingin (La Nina) setiap beberapa tahun sekali. Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang ekuator Pasifik, mendorong massa air hangat menumpuk di kawasan barat, termasuk perairan sekitar Indonesia, sementara di pesisir Amerika Selatan air dingin dari kedalaman laut naik ke permukaan melalui proses upwelling. Ketika El Nino terjadi, angin pasat ini melemah bahkan bisa berbalik arah, sehingga massa air hangat yang biasanya terkonsentrasi di Pasifik barat berpindah ke tengah dan timur Pasifik.
Perpindahan ini membuat suhu permukaan laut di kawasan tengah hingga timur Pasifik mengalami kenaikan lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata, ambang yang menjadi acuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menyatakan status El Nino aktif. Tingkat kekuatannya sendiri diklasifikasikan berdasarkan besaran anomali suhu tersebut: lemah pada rentang 0,5 sampai 1 derajat Celsius, sedang pada 1 sampai 1,5 derajat Celsius, kuat pada 1,5 sampai 2 derajat Celsius, dan sangat kuat bila anomalinya melampaui 2 derajat Celsius. Pergeseran pusat massa udara hangat inilah yang mengubah pola konveksi dan sirkulasi atmosfer secara global, sehingga wilayah yang biasanya banyak hujan seperti Indonesia bagian barat dan tengah justru mengalami defisit curah hujan yang signifikan, sementara sebagian Amerika Selatan justru diguyur hujan berlebih.
BMKG telah menyatakan bahwa El Nino 2026 sudah berada di kategori kuat menuju sangat kuat, dengan suhu permukaan laut di Pasifik tengah mengalami peningkatan signifikan di atas ambang normal, dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Namun yang membuat kejadian tahun ini patut mendapat perhatian lebih bukan sekadar soal kekuatannya, melainkan konteks pemanasan global yang melatarinya.
Riset yang dipimpin Wenju Cai bersama timnya yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change pada 2014, memproyeksikan bahwa pemanasan akibat gas rumah kaca mendorong penggandaan frekuensi kejadian El Nino ekstrem di masa mendatang akibat pemanasan permukaan laut di Pasifik ekuator timuryang mempercepat kondisi atmosfer yang memicu peristiwa ekstrem tersebut. Studi lanjutan tim yang sama, dipublikasikan di jurnal Nature Reviews Earth and Environment pada 2023, membandingkan variabilitas suhu ENSO periode 1901 sampai 1960 dengan periode 1961 sampai 2020, dan menemukan bahwa lebih dari tiga perempat model iklim yang dianalisis menunjukkan peningkatan amplitudo variabilitas ENSO pasca 1960. Artinya, El Nino dan La Nina berkekuatan besar kini terjadi jauh lebih sering dibanding satu abad lalu.
Dengan kata lain, El Nino dalam era pemanasan global bukan lagi sekadar siklus alami tiga sampai tujuh tahunan yang datang dan pergi secara teratur seperti dulu. Frekuensi dan intensitas kejadian ekstremnya terus meningkat seiring naiknya suhu rata-rata bumi akibat emisi gas rumah kaca. Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa kajian di jurnal Natural Hazards pada 2026 memperkirakan risiko kebakaran besar di Kalimantan pada tahun El Nino kini sekitar 2,7 kali lebih tinggi dibanding kejadian besar pada 1997 dan 2015, meski penelitian itu juga menegaskan bahwa kebakaran besar tetap bisa terjadi pada semua fase iklim, bukan hanya saat El Nino.
Bagi lanskap gambut Kalimantan yang sudah telanjur dikeringkan oleh puluhan tahun kanalisasi, kombinasi ini menjadi ancaman berlapis. Muka air tanah yang sudah tertekan akibat drainase bertemu dengan musim kemarau yang berpotensi lebih kering, lebih panjang, dan lebih sering terjadi dibanding beberapa dekade sebelumnya.
Water Bombing hingga Perdebatan “Ubi Bombing”
Penanganan karhutla 2026 melibatkan operasi berlapis yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar menyemprotkan air. Pemerintah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC atau cloud seeding) yang kini didorong dilakukan secara preventif, yaitu dilaksanakan sebelum api benar-benar meluas, bukan hanya sebagai respons darurat, dengan melakukan pemantauan titik-titik di mana muka air tanah gambut mulai turun untuk segera diintervensi. Di lapangan, water bombing lewat helikopter, termasuk unit M17 berkapasitas sekitar 4 ton air, tetap menjadi andalan, didukung ribuan personel gabungan dari Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, serta jaringan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang beroperasi hingga ke tingkat desa. Pemerintah pusat bahkan mengirim sekitar seribu unit sumur bor tambahan ke Kalimantan Tengah untuk mengatasi kelangkaan sumber air pemadaman, mengingat kanal dan parit yang biasanya jadi andalan justru ikut mengering saat kemarau panjang.
Namun perhatian publik belakangan justru tersedot ke satu inovasi yang terdengar tidak biasa: “ubi bombing”.
“Ubi bombing” adalah istilah yang merujuk pada gagasan pemadaman karhutla menggunakan bahan berbasis tepung singkong atau ubi kayu, sebagai alternatif maupun pelengkap dari water bombing yang selama ini mengandalkan helikopter pengangkut air. Gagasan ini bermula dari inovasi anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, yang mencoba memanfaatkan bahan berbasis tepung ubi atau singkong untuk membantu pemadaman api.
Ketika Kapolri melaporkan inovasi ini dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang pada 24 Agustus 2026, Presiden Prabowo tampak antusias dan langsung meminta BRIN dan BNPB mengkaji serta mengujinya dalam skala besar, bahkan membayangkan penyebarannya lewat helikopter layaknya water bombing, dengan pertanyaan langsung, berapa hektar yang bisa dijangkau oleh empat ton “ubi serbuk”.
Secara kimiawi, tepung atau pati singkong murni sebenarnya tersusun dari karbohidrat kompleks (polisakarida) yang justru tergolong bahan mudah terbakar, bukan bahan pemadam. Dalam bentuk debu kering yang terdispersi di udara, pati singkong bahkan berisiko memicu ledakan debu (dust explosion). Karena itu, formulasi yang tengah dikembangkan sejumlah pihak bukanlah tepung kering yang ditaburkan begitu saja, melainkan cairan hasil rekayasa. BRIN, misalnya, tengah mengembangkan formulasi bernama CASSA-P, yang mengombinasikan pati singkong sebagai matriks biomaterial dan sumber karbon dengan senyawa fosfat, air, dan zat pembasah (wetting agent), sehingga menghasilkan cairan retardan yang bisa dicampurkan ke tangki air sebelum disemprotkan. Formulasi serupa juga diuji langsung Polda Kalimantan Selatan di lapangan, yaitu cairan berbasis pati singkong yang dicampur amonium polifosfat, air, dan zat pembasah, dirancang agar menempel lebih lama di permukaan tanah sembari menyerap panas, bukan sekadar tepung kering yang ditaburkan.
Bagaimana Penelitian Menilai Efektivitasnya
Riset Zhang dan Xie (2022) secara khusus menguji karakteristik pembakaran dan ledakan debu pati singkong murni menggunakan perangkat uji ledakan berbentuk bola berkapasitas 20 liter. Hasilnya menunjukkan bahwa debu pati singkong dapat mengalami pembakaran cepat, bahkan ledakan debu pada kondisi tertentu, tergantung konsentrasi, ukuran dan dispersi partikel, serta keberadaan sumber penyalaan. Temuan ini menjadi dasar ilmiah mengapa klaim “tepung singkong bisa langsung ditaburkan sebagai bahan pemadam” berpotensi menyesatkan bila tidak disertai konteks yang benar. Kemampuan tahan api pati singkong hanya muncul jika bahan tersebut dimodifikasi khusus dengan bahan tambahan tertentu, bukan dalam bentuk tepung mentah.
Sejalan dengan hal tersebut, riset lain di bidang rekayasa material menunjukkan bahwa pati singkong sebenarnya punya potensi jika direkayasa menjadi gel atau hidrogel. Kajian dalam Journal of Environmental Engineering pada 2024 misalnya, menunjukkan bahwa gel kopolimer berbasis pati singkong yang dicampur surfaktan bisa menjadi bahan penekan debu (dust suppressant) yang efektif dan ramah lingkungan pada industri pertambangan, sebuah indikasi bahwa jalur rekayasa serupa berpotensi diarahkan untuk aplikasi pemadaman kebakaran.
Tanggapan Akademisi dan Uji Coba Lapangan
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa setelah dikaji secara teoritik oleh ahli kimia molekuler BRIN, penggunaan tepung singkong untuk membantu pemadaman karhutla dinilai masuk akal secara saintifik, namun ia menegaskan metode ini masih dalam tahap pengembangan dan belum bisa langsung diterapkan dalam skala besar, sehingga BRIN dan Polri kini bekerja sama menjalankan uji coba bertahap di berbagai skala.
Kehati-hatian yang tajam datang dari kalangan akademisi. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB sekaligus pakar forensik kebakaran, Bambang Hero Saharjo, mengaku belum mengetahui efektivitas tepung singkong secara spesifik tetapi ia pernah menguji bahan sejenis, yakni tepung jagung, yang diolah bersama beberapa material lain menjadi gel, lalu disemprotkan melalui pompa dan selang bersama air. Menurutnya, gel semacam ini bisa membantu pemadaman sekaligus menutup pori-pori gambut agar bara di bawah permukaan tidak mudah muncul kembali. Namun ia mengingatkan dua kendala nyata: biaya pengadaannya relatif mahal, dan dosis campurannya harus tepat, sebab jika terlalu kental, aliran air di dalam selang justru tersumbat dan pemadaman malah terhambat.
Akademisi dari Universitas Diponegoro, Dr. Mohamad Endy Julianto, menegaskan hal senada. Menurutnya, pati singkong tidak tepat dianggap sebagai bahan yang secara langsung mampu memadamkan api, melainkan lebih berpotensi sebagai biomaterial yang direkayasa menjadi formulasi pemadam berbasis air, misalnya hidrogel, water-enhancing agent, atau gel suppressant, sehingga air mampu melekat lebih lama pada vegetasi, menyerap panas, mempertahankan kelembapan, dan memperlambat penyebaran api.
Di lapangan, uji coba yang lebih konkret sudah berjalan lebih dulu di Kalimantan Selatan. Polda Kalsel menguji cairan berbasis pati singkong tersebut untuk menghambat perambatan api di lahan gambut di kawasan Guntung Damar, hutan lindung Liang Anggang, dan Pengayuan. Pada saat bersamaan, Polda Kalsel juga mengembangkan inovasi berbeda yang justru menyasar akar masalah subsurface fire secara langsung, yaitu metode “pipa suntik”, pipa khusus yang ditanam hingga kedalaman sekitar dua meter ke dalam gambut untuk menjangkau dan memadamkan bara yang masih membara jauh di bawah permukaan, dipadukan dengan kolam bioflok sebagai cadangan sumber air. Inovasi ini lahir langsung dari pengalaman lapangan: kebakaran di Guntung Damar berlangsung sekitar tiga minggu karena api terus muncul kembali dari bawah tanah meski bagian atasnya sudah berulang kali dipadamkan. Sementara itu, Polda Kalimantan Timur menguji cairan pemadam berbasis air bernama Hartindo AF31, yang diklaim mempercepat efek pendinginan titik api dan mengurangi kemungkinan api muncul kembali, namun secara eksplisit disebutkan bahwa bahan ini diperuntukkan bagi kebakaran non-gambut, bukan untuk mengatasi bara di dalam lapisan gambut itu sendiri.
Jika ditarik rantai pembahasannya, efektivitas bahan kimia berbasis tepung atau powder ini sejauh ini paling menjanjikan sebagai pelengkap pada kebakaran tahap awal atau kebakaran permukaan, serta berpotensi mencegah bara muncul kembali dengan cara menutup pori-pori gambut, bukan sebagai pengganti tunggal air pada kebakaran gambut berskala besar yang sudah menjalar jauh ke bawah tanah. Sejumlah pertanyaan mendasar, mulai dari komposisi pasti, mekanisme kerja, dampak lingkungan, toksisitas terhadap organisme, biodegradabilitas, biaya produksi, hingga kelayakan operasional bila diterapkan pada skala ribuan hektar, masih membutuhkan uji laboratorium, simulasi, dan uji lapangan terkontrol sebelum bisa disebut sebagai solusi definitif. Dengan kata lain, “ubi bombing” saat ini masih berstatus inovasi yang menjanjikan, bukan solusi yang terbukti.
Metode Paling Efektif untuk Karhutla Gambut Kalimantan Menurut Riset
Terlepas dari perdebatan bahan kimia baru, riset ilmiah selama satu dekade terakhir sebenarnya cukup konsisten mengarah pada satu jawaban: pencegahan lewat pembasahan kembali (rewetting) gambut jauh lebih efektif dan efisien dibanding pemadaman reaktif setelah api sudah menyala.
Studi kuantitatif yang ditulis para peneliti gambut sendiri, dipublikasikan di The Conversation Indonesia pada Juli 2026, menunjukkan angka yang cukup meyakinkan sebagai studi kasus: program restorasi gambut besar-besaran yang dijalankan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) terbukti menurunkan kepadatan titik api hingga 22% pada area yang direstorasi selama musim El Nino 2019, dan berkontribusi sekitar 38% dari total penurunan kebakaran dibanding kondisi tahun 2015.
Hingga akhir masa tugasnya, BRGM melaporkan telah merestorasi sekitar 1,6 juta hektar lahan gambut. Sayangnya, kelanjutan program ini kini jadi tanda tanya sejak kewenangan restorasi dialihkan menjadi lintas kementerian pada 2024, di saat yang sama El Nino 2026 justru berpotensi kuat seperti dibahas pada bagian sebelumnya dan ratusan ribu hektar lahan sudah terlanjur hangus sejak awal tahun.
Riset yang sama juga membandingkan dua infrastruktur pembasahan utama: sumur bor dan sekat kanal. Area dengan sumur bor terbukti mengalami penurunan kebakaran lebih tinggi dibanding sekat kanal, karena air yang dipompa langsung membasahi area gambut kering maupun langsung digunakan memadamkan api dengan jangkauan dampak lebih luas dan infrastruktur yang bertahan lebih lama. Sekat kanal sifatnya lebih pasif, berdampak dalam radius terbatas dari lokasinya.
Studi Ritzema dkk. (2014) tentang strategi pembangunan sekat kanal untuk restorasi hidrologi gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah menegaskan bahwa efektivitas sekat kanal sangat bergantung pada penempatan, kepadatan, dan pemeliharaannya. Temuan ini sejalan dengan studi lapangan di Riau yang mencatat radius pembasahan efektif sekat kanal berkisar 170 hingga 266 meter, tergantung lebar kanal dan kondisi hidrotopografi setempat. Namun menariknya, dalam kondisi ideal, yaitu lokasi tepat, jumlah sekat memadai dan berkelompok, serta perawatan rutin, sekat kanal sebenarnya berpotensi menurunkan kebakaran lebih tinggi dibanding sumur bor. Masalahnya, tanpa pemeliharaan berkelanjutan, banyak sekat kanal justru rusak dan kehilangan fungsinya menjaga gambut tetap basah, sebuah pelajaran penting bahwa infrastruktur pencegahan tidak cukup dibangun sekali, tetapi harus dirawat terus-menerus.
Studi kasus lain dari Riau (Taufik dkk., 2023) menunjukkan bukti kuantitatif serupa: kajian mereka menemukan korelasi jelas antara area yang direstorasi gambutnya dengan penurunan tingkat bahaya kebakaran di area tersebut. Sementara itu, riset di Kalimantan Tengah mendokumentasikan bahwa pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat, perusahaan, dan pemerintah sekaligus, bukan hanya pemerintah bekerja sendiri, mampu menekan emisi gas rumah kaca dari gambut hingga 65%, sebuah indikasi kuat bahwa keberhasilan program pembasahan sangat bergantung pada kolaborasi lintas pihak, bukan sekadar proyek teknis semata.
Penting juga dicatat konteks risiko yang lebih besar seperti dibahas pada bagian sebelumnya: penelitian Natural Hazards pada 2026 memperkirakan bahwa El Nino meningkatkan risiko kebakaran besar di Kalimantan hingga sekitar 2,7 kali lipat dibanding kejadian besar 1997 dan 2015, namun studi ini juga menegaskan bahwa kebakaran besar tetap bisa terjadi pada semua fase iklim, bukan hanya saat El Nino. Artinya, faktor cuaca bukan penyebab tunggal. Kerentanan lanskap gambut yang telanjur terdegradasi bisa bertahan puluhan tahun terlepas dari pola iklim tahunan. Ini konsisten dengan kerugian ekonomi luar biasa yang pernah dicatat Bank Dunia: kebakaran 2015 diperkirakan merugikan sekitar US$16,1 miliar atau sekitar 1,9 persen PDB Indonesia, sementara kebakaran 2019 masih menyebabkan kerugian sekitar US$5,2 miliar atau 0,5 persen PDB, bukti bahwa karhutla bukan sekadar bencana cuaca musiman, melainkan kegagalan tata kelola lahan yang berulang.
Refleksi atas Karhutla Kalimantan
Merangkum temuan-temuan di atas, ada beberapa arah yang paling didukung bukti untuk konteks karhutla Kalimantan hari ini.
Pertama, pencegahan struktural lewat pembasahan gambut (rewetting), yaitu kombinasi sumur bor untuk dampak cepat dan sekat kanal untuk dampak jangka panjang, keduanya dengan pemeliharaan rutin, tetap merupakan intervensi dengan bukti ilmiah paling kuat untuk menekan titik api gambut dari akarnya, bukan sekadar meresponsnya setelah api membesar.
Kedua, penegakan hukum terhadap korporasi yang masih aktif melakukan kanalisasi di kawasan gambut lindung perlu diperkuat dan konsisten, termasuk evaluasi izin usaha di kawasan gambut serta memastikan korporasi ikut membiayai pemulihan ekosistem, sebagaimana yang berulang kali didesak oleh organisasi lingkungan seperti Walhi dan Pantau Gambut, mengingat pola kebakaran 2026 masih terkonsentrasi di dalam konsesi berizin.
Ketiga, untuk kebakaran yang sudah terlanjur menyala, kombinasi water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca yang dijalankan preventif dan bukan hanya reaktif, serta teknik pemadaman bawah permukaan seperti “pipa suntik” yang dikembangkan Polda Kalsel, adalah pendekatan yang cukup relevan saat ini karena langsung menjawab karakteristik unik api gambut yang membara di bawah tanah.
Keempat, bahan kimia atau powder berbasis pati (baik ubi bombing, gel tepung jagung, maupun formulasi seperti AF31) layak terus dikembangkan sebagai pelengkap, terutama untuk mencegah bara muncul kembali dengan menutup pori-pori gambut, tetapi penerapannya dalam skala besar sebaiknya menunggu hasil uji laboratorium, uji lapangan terkontrol, dan kajian dampak lingkungan yang memadai, sesuai kehati-hatian yang disuarakan para akademisi IPB dan Undip agar semangat inovasi tidak berujung pada klaim yang menyesatkan publik.
Kelima, penguatan sistem deteksi dini dan pemantauan tinggi muka air tanah secara real-time, dipadukan dengan program berbasis masyarakat seperti Masyarakat Peduli Api, tetap krusial, sebab mencegah satu hektar tidak terbakar jauh lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman ketimbang memadamkan seribu hektar yang sudah terlanjur membara.
