Mahkamah: Ketika Hati Nurani Menjadi Hakim atas Masa Lalu

Mahasiswa PBSI UIN jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syahmah Arifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada keputusan yang mungkin terlihat benar ketika diambil, tetapi menyisakan pertanyaan ketika waktu telah berlalu. Ada pula kesalahan yang berusaha dilupakan, tetapi justru kembali muncul ketika seseorang berada di hadapan akhir kehidupannya. Lalu, bagaimana jika orang yang harus mempertanggungjawabkan keputusan masa lalunya adalah seseorang yang selama ini dikenal sebagai prajurit yang setia?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dalam naskah drama Mahkamah karya Asrul Sani. Drama ini tidak hanya menghadirkan persoalan tentang benar dan salah, tetapi juga membawa pembaca menyelami pergulatan batin seseorang yang harus menghadapi kembali keputusan besar dalam hidupnya.
Pengadilan yang Tidak Hanya Mengadili Perbuatan
Tokoh Saiful Bahri, seorang mayor purnawirawan, berada dalam keadaan sakit parah dan merasa gelisah menjelang kematiannya. Di tengah kondisi tersebut, ia menyadari bahwa masih ada persoalan masa lalu yang belum selesai. Ia pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Kapten Anwar, sahabatnya sendiri, ketika mereka berada dalam situasi perjuangan pada masa revolusi.
Keputusan itu menjadi beban yang terus menghantui Bahri. Ia bukan hanya memikirkan akibat perbuatannya, tetapi juga mengkhawatirkan bagaimana orang lain akan mengenang dirinya setelah meninggal dunia. Di sisi lain, ia masih memikirkan keluarganya dan kedudukannya di tempat kerja yang mulai menjadi incaran orang lain.
Dari keadaan tersebut, konflik dalam Mahkamah berkembang menjadi persoalan yang lebih dalam daripada sekadar pengadilan atas sebuah keputusan. Bahri harus berhadapan dengan pertanyaan mengenai niat, tanggung jawab, dan kebenaran di balik tindakannya. Kehadiran sosok pembela dan penuntut umum membuat masa lalunya seolah-olah kembali diperiksa, sementara hati nuraninya menjadi bagian penting dalam proses penghakiman tersebut.
Menariknya, mahkamah dalam drama ini tidak hanya dapat dipahami sebagai tempat untuk menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Mahkamah juga menjadi gambaran tentang ruang batin manusia ketika ia tidak lagi mampu menghindari pertanyaan yang selama ini berusaha ditepisnya.
Ketika Masa Lalu Tidak Bisa Dihapus
Salah satu hal yang membuat Mahkamah menarik adalah cara Asrul Sani menghadirkan masa lalu sebagai persoalan yang tetap hidup dalam diri seseorang. Bahri mungkin telah melewati banyak tahun sejak peristiwa yang melibatkan Anwar, tetapi waktu tidak serta-merta menghilangkan kegelisahannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang pernah diambil merupakan pilihan terbaik. Ada kalanya keputusan tersebut memang harus dibuat dalam keadaan sulit. Namun, ada pula saat ketika seseorang menggunakan alasan tertentu untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya masih menyisakan persoalan moral.
Melalui Bahri, pembaca diajak mempertanyakan batas antara menjalankan kewajiban dan mempertanggungjawabkan akibat dari sebuah keputusan. Apakah suatu tindakan dapat dianggap benar hanya karena dilakukan atas nama tugas? Ataukah seseorang tetap harus mempertimbangkan nilai kemanusiaan yang mungkin dikorbankan oleh tindakannya?
Pertanyaan tersebut membuat konflik dalam drama ini terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Dalam lingkungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, maupun masyarakat, seseorang dapat berada dalam posisi yang mengharuskannya mengambil keputusan sulit. Akan tetapi, kedudukan dan tanggung jawab tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari pertanggungjawaban.
Kekuasaan, Kepentingan, dan Kebenaran
Selain mengangkat persoalan hati nurani, Mahkamah juga memperlihatkan bagaimana kepentingan pribadi dapat memengaruhi sikap seseorang. Kegelisahan Bahri tidak hanya berkaitan dengan masa lalunya, tetapi juga dengan keadaan keluarga dan kedudukannya yang mulai terancam. Sementara itu, Majid, orang yang bekerja di bawahnya, memiliki ambisi untuk mengambil alih posisinya.
Kehadiran konflik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan manusia tidak selalu berdiri sendiri. Keinginan mempertahankan kedudukan, menjaga nama baik, dan memperoleh keuntungan dapat memengaruhi cara seseorang memandang kebenaran. Dalam keadaan tertentu, kebenaran bahkan berisiko ditempatkan di bawah kepentingan pribadi.
Di sinilah kritik sosial dalam Mahkamah terasa relevan. Seseorang yang memiliki jabatan atau kekuasaan seharusnya tidak menggunakan kedudukannya untuk memenuhi kepentingan sendiri. Kekuasaan semestinya disertai tanggung jawab, sebab setiap keputusan dapat membawa dampak bagi kehidupan orang lain.
Drama ini juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap seseorang tidak cukup hanya didasarkan pada kedudukan, reputasi, atau pengakuan masyarakat. Di balik citra yang terlihat baik, selalu ada tindakan dan keputusan yang perlu dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, menilai seseorang pun tidak seharusnya dilakukan secara tergesa-gesa tanpa memahami persoalan secara menyeluruh.
Keadilan Tidak Selalu Sesederhana Benar dan Salah
Hal lain yang patut direnungkan dari Mahkamah adalah persoalan keadilan. Dalam sebuah pengadilan, orang biasanya berharap bahwa kebenaran akan ditemukan melalui bukti dan pertimbangan yang tepat. Namun, drama ini membawa persoalan tersebut ke wilayah yang lebih pribadi, yaitu ketika seseorang harus menilai tindakannya sendiri.
Bahri tidak hanya menghadapi penilaian dari pihak lain. Ia juga harus berhadapan dengan ingatan, kegelisahan, dan konsekuensi moral dari keputusan yang pernah dibuatnya. Keadaan ini memperlihatkan bahwa penilaian manusia terhadap suatu peristiwa dapat menjadi rumit ketika kepentingan, hubungan pribadi, dan tanggung jawab saling bertemu.
Melalui konflik tersebut, Asrul Sani seolah-olah mengajak pembaca untuk tidak mudah menerima pembenaran yang disampaikan seseorang. Sebuah keputusan perlu dilihat dari alasan, proses, dan akibatnya, bukan hanya dari tujuan yang dikemukakan. Dengan begitu, keadilan tidak berhenti pada upaya mencari pihak yang bersalah, tetapi juga mencakup keberanian untuk mengungkap kebenaran secara jujur.
Pada Akhirnya, Setiap Orang Memiliki Mahkamahnya Sendiri
Membaca Mahkamah membuat kita menyadari bahwa tidak semua persoalan selesai ketika sebuah keputusan telah ditetapkan. Ada akibat yang mungkin baru terasa setelah bertahun-tahun berlalu. Ada pula pertanyaan yang terus muncul karena seseorang belum sepenuhnya berdamai dengan tindakannya sendiri.
Karya Asrul Sani ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya hidup dengan penilaian orang lain, tetapi juga dengan kesadaran atas perbuatannya. Nama baik dapat dipertahankan di hadapan masyarakat, jabatan dapat diperjuangkan, dan masa lalu dapat berusaha disembunyikan. Namun, semua itu tidak selalu membuat seseorang terbebas dari pertanyaan tentang apa yang sebenarnya telah ia lakukan.
Pada akhirnya, Mahkamah bukan sekadar drama tentang seorang mantan prajurit yang menghadapi masa lalunya. Drama ini juga menjadi pengingat bahwa tanggung jawab moral tidak dapat dihapus hanya dengan alasan tugas, kepentingan, atau waktu yang telah berlalu.
Kita mungkin tidak selalu dapat mengubah keputusan yang sudah terjadi. Namun, kita tetap dapat memilih untuk mengakui akibatnya, belajar darinya, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebab, sebelum seseorang dinilai oleh orang lain, ada hati nurani yang dapat menjadi tempat paling sulit untuk bersembunyi.
Barangkali, itulah makna mahkamah yang sesungguhnya: bukan hanya ruang untuk mengadili orang lain, melainkan juga keberanian untuk menghadapi kebenaran tentang diri sendiri.
