Saat Sastra Berbicara tentang Kita: Refleksi Mahasiswa Sosiologi Sastra

Mahasiswa Angakatan 2023 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univeristas Negeri Surabaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syahrani Alfazia Djuanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Moh. Ahsan Shohifur Rizal, S.Pd., M.Pd., atas ilmu, bimbingan, dan inspirasi yang telah beliau berikan selama perkuliahan Sosiologi Sastra. Ilmu yang dituangkan dalam setiap sesi perkuliahan tidak hanya memperkaya pemahaman saya terhadap karya sastra, tetapi juga membuka mata saya terhadap bagaimana sastra berkelindan erat dengan kehidupan sosial. Saya menyadari bahwa kajian sastra tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat dan realitas yang melingkupinya. Maka, dengan kesadaran inilah saya menulis artikel ini sebagai bentuk refleksi sekaligus apresiasi atas perjalanan belajar yang telah saya lalui.
Sastra, bagi sebagian orang, barangkali hanya dianggap sebagai karya rekaan kisah yang lahir dari imajinasi, penuh metafora dan keindahan bahasa. Namun, selama satu semester mengikuti perkuliahan Sosiologi Sastra, saya belajar bahwa sastra bukan sekadar produk estetika. Ia adalah cermin, kadang juga senjata. Ia merekam, mengkritik, sekaligus membentuk cara pandang kita terhadap dunia. Sastra tidak hidup di ruang kosong; ia berdenyut bersama masyarakat, menanggapi gejolak sosial, dan berbicara tentang kita manusia yang ada di balik teks.
Sastra sebagai Cermin Realitas Sosial
Sejak awal perkuliahan, saya diajak untuk melihat bahwa sastra bukanlah entitas yang terpisah dari kenyataan. Karya sastra muncul dari ruang sosial tertentu baik sebagai respons, cerminan, maupun kritik terhadap kondisi sosial yang mengitarinya. Dari cerpen, novel, hingga puisi, semua memiliki hubungan erat dengan struktur masyarakat, nilai budaya, dan bahkan dinamika politik pada masanya.
Dalam kerangka ini, karya sastra bisa dipahami sebagai dokumentasi sosial. Misalnya, novel yang ditulis pada masa kolonial kerap menyimpan representasi tentang relasi kuasa antara penjajah dan pribumi. Cerpen yang muncul di era kontemporer pun sering kali menyuarakan kegelisahan masyarakat urban, krisis identitas, hingga kemacetan moral akibat modernitas. Pendekatan sosiologi sastra membantu membuka lapisan-lapisan makna ini, mengajak pembaca tidak hanya menikmati teks, tetapi juga menafsirkannya secara kritis dalam kaitannya dengan realitas sosial.
Pendekatan Genetik dalam Kajian Sastra
Pendekatan genetik dalam kajian sosiologi sastra merupakan salah satu cara membaca karya sastra dengan mempertimbangkan hubungan antara teks, pengarang, dan konteks sosial. Konsep ini menekankan bahwa latar belakang sosial, pengalaman hidup, serta situasi sejarah yang melingkupi pengarang turut membentuk gagasan, tema, dan karakter dalam karya yang ditulisnya.
Melalui pendekatan ini, pembacaan terhadap karya sastra menjadi lebih kaya. Tidak lagi berhenti pada aspek intrinsik seperti alur, tokoh, atau gaya bahasa, tetapi diperluas pada aspek ekstrinsik siapa pengarangnya, di zaman apa ia menulis, dan kondisi sosial seperti apa yang menjadi latar lahirnya karya tersebut. Seorang pengarang yang hidup di masa represif, misalnya, kemungkinan besar akan menyisipkan kritik sosial melalui simbolisme atau alegori.
Dalam praktiknya, pendekatan genetik mengasah sensitivitas sosiologis pembaca untuk melihat karya sastra sebagai hasil dari proses kreatif yang kompleks, yang tak dapat dipisahkan dari dunia nyata pengarang.
Teori Alan Swingewood: Sastra sebagai Ekspresi Sosial dan Ideologis
Kontribusi Alan Swingewood dalam kajian sosiologi sastra sangat signifikan. Swingewood menyatakan bahwa sastra adalah bentuk dari pengalaman sosial yang terwujud dalam struktur naratif dan imajinasi pengarang. Ia mengusulkan tiga pendekatan utama yang menjadi titik tolak pemahaman hubungan sastra dan masyarakat.
Pertama, sastra sebagai dokumen sosial, yakni karya sastra dianggap mampu merekam kondisi masyarakat pada suatu masa, sehingga dapat menjadi sumber alternatif untuk membaca sejarah sosial. Kedua, sastra sebagai refleksi struktur sosial, yang menunjukkan bagaimana relasi antar kelas, gender, atau kelompok sosial tergambar dalam cerita. Ketiga, sastra sebagai ekspresi ideologi, yang menempatkan sastra sebagai wadah perjuangan atau pelestarian nilai tertentu baik sebagai bentuk perlawanan maupun pelanggengan terhadap ideologi dominan.
Dengan teori ini, pembacaan terhadap karya sastra tidak lagi bersifat pasif. Pembaca diajak untuk mencermati ideologi mana yang sedang dikritik, dilawan, atau bahkan secara tidak sadar didukung oleh teks. Pendekatan Swingewood membuka ruang bagi pembacaan sastra yang lebih reflektif dan kritis terhadap struktur sosial yang bekerja di balik narasi.
Hegemoni dalam Karya Sastra: Mengurai Representasi Kekuasaan
Konsep hegemoni, yang diperkenalkan oleh Antonio Gramsci, memberikan kerangka penting dalam membaca karya sastra sebagai arena pertempuran ideologis. Hegemoni bukan sekadar dominasi kekuasaan secara paksa, tetapi proses pengaruh kultural yang membuat nilai-nilai kelompok dominan tampak wajar dan diterima tanpa perlawanan.
Dalam karya sastra, hegemoni dapat terwujud dalam narasi yang memosisikan kelompok tertentu sebagai pusat dan kelompok lain sebagai pinggiran, atau melalui pembingkaian nilai-nilai sosial yang dianggap ideal. Terkadang, teks tampak netral, padahal sesungguhnya memuat struktur dominasi yang tersamar.
Pemahaman ini penting dalam analisis sastra. Dengan kesadaran akan hegemoni, pembaca dapat mengidentifikasi bagaimana tokoh, konflik, atau latar dalam cerita memperkuat atau justru menantang nilai-nilai sosial dominan. Sastra kemudian menjadi medan perlawanan yang sunyi, namun ampuh, terhadap sistem kuasa yang tak kasatmata.
Studi Kasus Cerpen “CCTV”: Upaya Membaca Sastra secara Sosial
Sebagai bagian dari praktik analisis, saya mencoba menerapkan teori-teori di atas dalam menganalisis cerpen “CCTV” karya Ricko Wawo, sebuah cerita pendek yang menggambarkan atmosfer pengawasan dan ketidakpercayaan dalam ruang publik. Dalam cerpen ini, simbol CCTV menjadi representasi dari kontrol sosial yang meresap hingga ke ruang personal.
Dengan pendekatan genetik, saya mencermati latar sosial yang mungkin melatarbelakangi penulis: apakah ada fenomena sosial tertentu yang ingin dikritisi?
Dengan teori Swingewood, saya mencoba melihat apakah cerpen ini memuat ekspresi ideologi tertentu, misalnya tentang keamanan dan kecurigaan sosial.
Dan dengan kacamata hegemoni, saya bertanya: Apakah pengawasan ini dianggap wajar oleh tokoh? Apakah ia menyadari bahwa ia dikontrol secara ideologis, bukan hanya secara fisik?
Proses analisis ini membuka pemahaman bahwa membaca karya sastra secara sosiologis tidak hanya mempertajam interpretasi, tetapi juga membantu membongkar makna-makna tersembunyi yang tersembunyi di balik narasi.
Sastra dan Kesadaran Sosial Mahasiswa
Perkuliahan Sosiologi Sastra membuka ruang refleksi yang luas bagi saya sebagai mahasiswa. Ia bukan hanya memperkaya pemahaman terhadap karya sastra, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa teks fiksi adalah bagian dari percakapan sosial yang nyata. Karya sastra mampu menjadi cermin masyarakat, menampilkan wajah yang kadang tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari.
Melalui pemahaman terhadap pendekatan genetik, teori Alan Swingewood, dan konsep hegemoni, saya semakin percaya bahwa menjadi pembaca yang kritis berarti siap mendengarkan “suara-suara” yang disampaikan melalui sastra baik yang lantang maupun yang tersirat. Sastra bukan sekadar hiburan intelektual, tetapi juga sarana untuk memahami, mempertanyakan, bahkan mengubah realitas sosial.
Dan mungkin, ketika kita benar-benar mendengarkannya, kita akan sadar bahwa sastra sedang berbicara tentang kita.
Syahrani Alfazia Djuanda, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya
