Sikh Temple, Serupa Tapi Tak Sama

Amanda Galya Syachrani
Mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) di Politeknik Negeri Jakarta
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 8:59 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Amanda Galya Syachrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Umat Sikh (sumber: https://pixabay.com/id/photos/sikh-agama-sikhisme-punjab-suci-658513/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Umat Sikh (sumber: https://pixabay.com/id/photos/sikh-agama-sikhisme-punjab-suci-658513/)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sikh merupakan aliran yang disebut Shikisme yang berarti agama yang percaya akan satu Tuhan yang sama. Di Indonesia, aliran Sikh belum cukup dikenal dan hampir semua pemeluknya berdarah India. Maka tak jarang, umat Sikh sering dikira orang Islam atau Hindu karena penampilan mereka yang serupa, padahal agama Sikh berbeda dengan kedua agama tersebut.
ADVERTISEMENT
Sabtu pagi, 13 Januari 2024. Saya berkunjung ke Sikh Temple, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Saya pergi ke sana menaiki kereta komuter dan turun di Stasiun Juanda lalu berjalan selama 15 menit untuk sampai di sana. Sesampainya saya di depan bangunan Sikh Temple, saya cukup terkejut, karena bangunan kuilnya sekilas mirip dengan masjid yang mana merupakan tempat ibadah bagi umat Islam. Dari luar, Sikh Temple atau Gurdwara -tempat ibadah umat Sikh- ini terlihat memiliki kubah di atasnya dan berdinding putih dengan aksen warna emas dan biru.
Di gurdwara, saya bertemu dengan Pak Mohan Singh, beliau merupakan orang yang sehari-hari ada di Sikh Temple Pasar Baru. Gurdwara ini dibuka setiap hari dari jam 05.30 pagi sampai 07.00 malam. Siapapun boleh datang ke gurdwara termasuk orang-orang yang bukan beragama Sikh.
ADVERTISEMENT
“Siapa saja boleh datang ke sini, yang tidak beragama Sikh pun boleh datang. Kami selalu terbuka untuk semuanya” ucap Pak Mohan Singh.
Bangunan gurdwara ini sudah berdiri sejak tahun 1956 dan merupakan salah satu gurdwara terbesar di Jakarta. Sebelum masuk gurdwara, setiap orang diwajibkan untuk mencuci kaki dan tangan sebagai wujud membersihkan dan menjaga kesucian diri, maka itu saya pun langsung bergegas ke tempat cuci kaki dan tangan yang berada di sisi kiri gurdwara.
Jika datang ke gurdwara, jangan lupa untuk membawa penutup kepala, karena dalam agama Sikh, baik laki-laki maupun perempuan wajib mengenakannya. Mengenakan penutup kepala seperti sorban/turban bagi laki-laki dan selendang bagi perempuan merupakan suatu identitas untuk umat Sikh. Di sebelah kiri pintu utama gurdwara terdapat lemari kecil yang berisi kain-kain penutup kepala, jadi orang-orang yang tidak membawa penutup kepala bisa meminjam kain-kain tersebut.
ADVERTISEMENT
Gurdwara yang terletak di Pasar Baru ini memiliki dua lantai, aula lantai bawah dibuka setiap hari sedangkan aula lantai atas dibuka hanya untuk hari minggu. Aula gurdwara ini cukup luas, karpet-karpet lebar berwarna merah terhampar menutupi lantai aula. Jendela-jendela besar dengan kusen berbentuk kubah sebagaimana yang kerap ada di dalam masjid, dilapisi oleh gorden panjang menjuntai berwarna putih, merah muda dan krem mengelilingi ruangan aula. Dalam hati saya berkata, kalau gurdwara ini benar-benar seperti masjid.
Di dinding aula gurdwara, dipajang 10 gambar guru-guru terdahulu mereka. Salah satunya yaitu foto Guru Nanak Dev Ji yang merupakan pencetus agama Sikh dan guru pertama penerima wahyu. Di posisi depan aula terdapat mimbar yang digunakan untuk tempat penyimpanan kitab suci agama Sikh atau disebut Shree Guru Granth Saheb Ji. Mimbar tersebut dibuat lebih tinggi menyerupai singgasana dan digunakan untuk Giani -pemuka agama Sikh- melantunkan lagu-lagu pujian atau membaca kitab suci.
ADVERTISEMENT
Sedangkan di sebelah kiri mimbar terdapat alat musik yang disebut Harmonium dan Tabla, digunakan untuk mengiringi Giani saat melantunkan pujian. Lalu di sebelah kanan mimbar terdapat ruangan untuk tempat peristirahatan kitab suci, karena umat Sikh memperlakukan kitab suci mereka seperti dewa.
Saat saya sudah berada di dalam aula, saya melihat umat Sikh yang baru datang akan langsung maju ke depan mimbar untuk memberikan penghormatan kepada Shree Guru Granth Saheb Ji dengan bersujud, mirip dengan salah satu posisi salat. Setelah itu mereka akan memberikan infak ke tempat yang telah disediakan, letaknya ada di dekat mimbar.
Terlihat juga seorang umat Sikh yang sudah datang duluan sedang membaca kitab suci menggunakan bahasa Punjab, India itu dengan khusyu. Menurut Pak Mohan Singh, sikhisme berarti pengikut atau pembelajar.
ADVERTISEMENT
Di gurdwara ini anda hanya akan melihat beberapa kursi, karena salah satu tradisi umat Sikh adalah duduk lesehan yang memiliki filosofi ‘siapapun yang datang ke gurdwara mempunyai kedudukan yang sama’.
“Ibadahnya dilakukan secara berjamaah, kami bersama-sama melantunkan lagu-lagu pujian dan duduk lesehan di bawah. Kami tidak menggunakan kursi tetapi dengan perkembangannya zaman, sekarang disediakan beberapa kursi untuk orang-orang yang tidak bisa duduk di bawah” tutur Pak Mohan Singh.
Setelah selesai berdoa, para umat Sikh melaksanakan makan bersama atau disebut Guru Ka Langgar. Tradisi ini adalah makan bersama makanan yang sudah disediakan secara prasmanan oleh gurdwara, banyak makanan yang tersedia seperti nasi, roti chapati, sayur kacang ijo, sayur tahu, sambal mangga khas India, buah-buahan dan juga teh tarik. Makanan yang disediakan pun tidak mengandung hewani dan tidak memakai mecin. Di sana saya berkesempatan mencicipi roti chapati dan teh tariknya.
ADVERTISEMENT
Menurut Pak Mohan sendiri, gurdwara setiap hari selalu menyediakan makanan dan siapapun boleh ikut makan bersama, karena tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak dulu di India. Maka dari itu, di gurdwara ini tersedia dapur untuk para pekerja gurdwara menyediakan makanan yang akan disajikan setiap harinya. Uniknya, kebanyakan dari para pekerja beragama Islam.
Setelah berkeliling gurdwara, saya berbincang-bincang dengan Pak Mohan Singh. Ternyata, umat Sikh di Indonesia dikategorikan agama Hindu dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka. Namun tampaknya hal ini bukan persoalan besar bagi mereka, karena sampai saat ini umat Sikh tetap damai sentosa tanpa mempermasalahkan hal tersebut.
Saya juga sempat bertanya, bagaimana cara membedakan umat Sikh dengan umat Islam, lalu Pak Mohan Singh menjawab, “Sebenarnya tidak ada ya, karena dari segi penampilan kami sangat mirip, apalagi dengan penggunaan sorban dan jenggot yang panjang. Tetapi umat Sikh selalu ada nama ‘Singh’ nya untuk laki-laki dan ‘Kaur’ untuk
ADVERTISEMENT
perempuan. Contohnya saya, Mohan Singh”.
Setelah mengunjungi Sikh Temple, saya banyak mendapat wawasan dan pengetahuan baru yang sebelumnya saya tidak ketahui. Umat Sikh diajarkan untuk selalu mengutamakan kesederhanaan, kebersamaan dan kesetaraan oleh Guru terdahulu mereka, maka tak heran jika pertama kali saya datang ke gurdwara pun, saya disambut dengan sangat baik oleh mereka. Tidak ada perasaan terintimidasi saat saya mengunjungi rumah ibadah agama Sikh. Sikh Temple bisa anda jadikan salah satu destinasi jika sedang berkunjung ke daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat.