Konten dari Pengguna

Anak Pertama vs Anak Terakhir: Beban yang Beda, Bukan Siapa Paling Berat

Syahra Salwanda

Syahra Salwanda

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Unsplash/Elena Mozhvilo
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash/Elena Mozhvilo

Perdebatan soal siapa yang “lebih berat” antara anak pertama dan anak terakhir sebenarnya tidak pernah selesai. Keduanya sama-sama membawa beban, tapi bentuknya berbeda. Masalahnya, sering kali pengalaman ini dibandingkan seolah harus ada yang paling menderita, padahal konteksnya tidak sesederhana itu.

Anak pertama biasanya tumbuh dengan ekspektasi tinggi. Mereka jadi “percobaan pertama” orang tua, dituntut jadi contoh, lebih mandiri, dan sering memikul tanggung jawab lebih awal. Banyak yang akhirnya terbiasa menekan perasaan sendiri karena merasa harus kuat. Tidak heran kalau anak pertama sering terlihat dewasa lebih cepat, tapi diam-diam kelelahan.

Di sisi lain, anak terakhir sering dianggap lebih santai, lebih dimanja, dan bebas. Tapi justru di situlah tekanannya. Mereka kerap tidak dianggap serius, dibandingkan dengan kakak-kakaknya, atau sulit dipercaya untuk mengambil keputusan besar. Ada perasaan harus “mengejar” standar yang sudah dibentuk oleh anak pertama, tapi tanpa ruang yang cukup untuk membuktikan diri.

Perbedaan perlakuan ini bukan soal pilih kasih semata, tapi soal dinamika keluarga yang berubah seiring waktu. Orang tua bisa lebih keras di awal, lalu lebih longgar di anak terakhir. Atau sebaliknya, jadi lebih protektif karena pengalaman sebelumnya. Akibatnya, setiap anak tumbuh dengan pola yang berbeda, meski berasal dari keluarga yang sama.

Masalah muncul ketika perbedaan ini tidak disadari. Anak pertama merasa terbebani, anak terakhir merasa diremehkan. Keduanya sama-sama tidak didengar. Padahal, yang dibutuhkan bukan membandingkan siapa paling berat, tapi memahami bahwa setiap posisi punya tantangan sendiri.

Pada akhirnya, tidak ada posisi yang lebih mudah. Yang ada hanyalah cara masing-masing menghadapi perannya. Karena dalam keluarga, bukan soal siapa yang paling menderita, tapi apakah setiap anggota merasa dipahami dan diberi ruang yang adil.