Konten dari Pengguna

Cashless Bikin Kita Makin Boros?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels/iMin Technology
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels/iMin Technology

Di era digital, membayar apa pun kini hanya membutuhkan beberapa detik. Secangkir kopi, ongkos transportasi, hingga tagihan bulanan dapat diselesaikan melalui ponsel tanpa perlu mengeluarkan uang tunai. Kehadiran QRIS, dompet digital, dan mobile banking memang membawa banyak kemudahan.

Tidak dapat dimungkiri, transaksi cashless telah mengubah kebiasaan masyarakat. Jika dulu seseorang harus menghitung uang di dompet sebelum membeli sesuatu, kini cukup menempelkan ponsel atau memindai kode QR. Proses pembayaran menjadi sangat cepat sehingga sering kali keputusan membeli dilakukan secara spontan tanpa banyak pertimbangan.

Kemudahan tersebut memang menjadi salah satu tujuan digitalisasi sistem pembayaran. Sayangnya, kemudahan juga dapat mengurangi kesadaran seseorang terhadap uang yang dikeluarkan. Berbeda dengan uang tunai yang secara fisik berpindah dari tangan kita, saldo digital hanya berkurang dalam bentuk angka di layar. Akibatnya, banyak orang tidak benar-benar merasakan bahwa mereka sedang mengeluarkan uang atau uang mereka berkurang.

Kondisi ini semakin terlihat ketika berbagai platform pembayaran digital menawarkan promo, cashback, hingga potongan harga. Tidak sedikit konsumen yang membeli sesuatu bukan karena membutuhkan barang tersebut, melainkan karena takut kehilangan kesempatan memperoleh diskon. Padahal, pengeluaran tetaplah pengeluaran, meskipun disertai cashback atau poin hadiah.

Di sisi lain, tidak adil jika menyalahkan sistem cashless sebagai penyebab utama perilaku boros. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Justru sistem pembayaran digital juga memiliki banyak manfaat, seperti memudahkan pencatatan transaksi, meningkatkan keamanan karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar, serta mempercepat aktivitas ekonomi. Banyak pelaku UMKM juga merasakan dampak positif karena pembayaran menjadi lebih praktis dan menjangkau lebih banyak konsumen.

Artinya, persoalan utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada cara masyarakat menggunakannya. Masyarakat perlu membiasakan diri menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta rutin mengecek riwayat pengeluaran. Langkah sederhana salah satunya seperti menetapkan batas pengeluaran bulanan dapat membantu mengendalikan perilaku konsumtif.

Sistem pembayaran cashless bukanlah musuh yang membuat seseorang menjadi boros. Namun, kemudahan yang ditawarkannya dapat menjadi "jebakan" apabila tidak disertai pengendalian diri. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana cara membayar dengan cepat, melainkan bagaimana tetap bijak mengelola uang.