Konten dari Pengguna

Haruskah Selalu Produktif?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels/Cottonbro studio
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels/Cottonbro studio

Pernahkah kamu merasa bersalah karena menghabiskan satu hari untuk beristirahat? Perasaan itu kini semakin umum dialami banyak anak muda. Di tengah derasnya konten tentang morning routine, target harian, side hustle, hingga pencapaian karier, istirahat seolah berubah menjadi sesuatu yang harus "dibayar" dengan rasa bersalah.

Media sosial tanpa disadari telah membentuk standar baru tentang produktivitas. Semakin sibuk seseorang terlihat, semakin tinggi pula apresiasi yang diterimanya. Sebaliknya, mereka yang memilih melambat sering kali dicap kurang ambisius atau tidak berkembang.

Masalahnya, produktivitas bukan lagi menjadi alat untuk mencapai tujuan, melainkan identitas yang harus dipertahankan. Banyak orang merasa nilai dirinya bergantung pada seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan dalam sehari. Akibatnya, waktu istirahat, berkumpul dengan keluarga, bahkan menikmati hobi dianggap sebagai waktu yang terbuang.

Fenomena ini dikenal sebagai toxic productivity. Bukan berarti rajin bekerja itu salah, tetapi dorongan untuk terus menghasilkan sesuatu tanpa memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih justru dapat berujung pada kelelahan, burnout, dan penurunan kualitas hidup.

Produktif seharusnya tidak diukur dari seberapa sibuk seseorang, melainkan dari bagaimana ia mampu mencapai tujuan tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental. Tidak semua waktu harus menghasilkan uang, atau pencapaian. Ada kalanya waktu yang paling produktif justru ketika kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap produktivitas. Istirahat bukan musuh dari kesuksesan, melainkan bagian yang membuat seseorang mampu bertahan dalam jangka panjang. Sebab, tidak ada pencapaian yang layak dibayar dengan kesehatan yang hilang.