Konten dari Pengguna

Luka dari Kata yang Dianggap Biasa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels/Anh Nguyen
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels/Anh Nguyen

Pelecehan verbal terhadap perempuan masih jadi kondisi yang terus berulang, bahkan cenderung dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Komentar bernada seksual, siulan di jalan, candaan yang merendahkan tubuh, hingga ucapan yang menyudutkan perempuan di ruang publik maupun digital, semua itu sering dianggap “biasa saja”. Padahal, dampaknya tidak sesederhana kata-kata yang diucapkan.

Masalahnya bukan hanya pada ucapan itu sendiri, tapi pada cara masyarakat memaknainya. Banyak orang masih menganggap pelecehan verbal sebagai bentuk pujian atau sekadar “iseng”. Perempuan yang merasa tidak nyaman justru kerap disalahkan karena dianggap terlalu sensitif. Pola pikir seperti ini yang membuat pelaku merasa aman dan terus mengulang perilakunya.

Padahal, pelecehan verbal adalah bentuk kekerasan. Ia merampas rasa aman perempuan, membatasi ruang gerak mereka, dan secara perlahan merusak kesehatan mental. Perempuan jadi lebih waspada, cemas, bahkan takut untuk mengekspresikan diri di ruang publik. Ini bukan soal “baper”, ini soal pengalaman nyata yang terus berulang.

Di era digital, bentuknya semakin luas. Komentar tidak pantas di media sosial, pesan pribadi yang melecehkan, hingga body shaming yang dibungkus opini, semuanya memperparah situasi. Sayangnya, banyak pelaku merasa lebih berani karena identitasnya tidak diketahui, sehingga menganggap tindakannya tidak akan membawa konsekuensi.

Perubahan tidak akan terjadi kalau masyarakat masih diam atau bahkan ikut menormalisasi. Perlu ada keberanian untuk menegur, edukasi sejak dini tentang batasan, dan kesadaran bahwa menghormati orang lain adalah hal dasar, bukan pilihan. Perempuan berhak merasa aman, di mana pun mereka berada, di jalan, di kampus, di tempat kerja, bahkan di ruang digital.

Pelecehan verbal bukan hal kecil. Ia adalah pintu masuk dari bentuk kekerasan yang lebih besar jika terus dibiarkan. Sudah waktunya berhenti menganggap ini sepele. Karena bagi banyak perempuan, ini bukan sekadar kata-kata, ini adalah pengalaman yang membekas.