Konten dari Pengguna

Mengapa Budaya Antre Masih Sulit Dibiasakan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels/Luca Sammarco
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels/Luca Sammarco

Pernahkah kamu merasa kesal ketika sudah mengantre cukup lama, tetapi tiba-tiba ada seseorang yang langsung menyelip ke barisan tanpa rasa bersalah? Kejadian seperti ini masih sering ditemui, mulai dari minimarket, tempat wisata, hingga layanan publik. Ironisnya, banyak orang menganggapnya sebagai hal biasa. Padahal, kebiasaan menyerobot antrean bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan cerminan rendahnya kesadaran untuk menghargai hak orang lain.

Mengantre sebenarnya adalah bentuk kesepakatan sosial yang sederhana. Siapa yang datang lebih dulu, dialah yang mendapat giliran lebih dulu. Aturan ini tampak sepele, tetapi menjadi dasar terciptanya ketertiban di ruang publik. Ketika seseorang memotong antrean, ia bukan hanya menghemat waktunya sendiri, tetapi juga mengambil waktu yang seharusnya menjadi hak orang lain.

Sayangnya, budaya antre di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah anggapan bahwa selama tidak ada yang menegur, menyerobot antrean bukanlah masalah besar. Sikap seperti ini membuat pelanggaran kecil terus berulang dan perlahan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Di sisi lain, masyarakat juga sering memilih diam ketika melihat pelanggaran. Banyak orang enggan menegur karena takut memicu konflik atau dianggap ikut campur. Akibatnya, pelaku merasa tindakannya dapat diterima, sementara orang lain hanya bisa menggerutu dalam hati. Diam memang menghindarkan kita dari perdebatan sesaat, tetapi juga membuat kebiasaan buruk terus berlangsung.

Membangun budaya antre tentu tidak bisa dilakukan dalam semalam. Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak kecil, dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga ruang publik. Anak-anak yang terbiasa menunggu giliran akan tumbuh dengan pemahaman bahwa kesabaran dan rasa hormat merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat.

Budaya antre bukan hanya soal berdiri berbaris. Kebiasaan sederhana ini mencerminkan kualitas kehidupan bersama. Masyarakat yang mampu menghargai giliran menunjukkan bahwa mereka juga mampu menghargai waktu, dan hak orang lain.