Konten dari Pengguna

Saat Pikiran Menjadi Musuh dalam Hubungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels/Vladimir Srajber
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels/Vladimir Srajber

Banyak hubungan tidak berakhir karena hadirnya orang ketiga atau konflik besar. Banyak hubungan yang perlahan retak karena satu hal yang sering dianggap sepele, yaitu pikiran sendiri. Overthinking dan self-sabotage diam-diam menggerogoti hubungan dari dalam hingga kepercayaan berubah menjadi kecurigaan.

Overthinking biasanya berawal dari hal-hal sederhana, seperti balasan chat yang lebih lama dari biasanya, perubahan nada bicara, atau sikap pasangan yang terasa berbeda. Alih-alih bertanya dan mengomunikasikannya secara langsung, seseorang justru sibuk menyusun berbagai kemungkinan di dalam pikirannya. Fakta yang belum lengkap akhirnya dipenuhi oleh asumsi, lalu berkembang menjadi kecemasan, rasa tidak aman, hingga kecurigaan yang belum tentu memiliki dasar.

Di era media sosial, kondisi ini semakin mudah terjadi. Pasangan yang terlihat sedang online tetapi belum membalas pesan, atau interaksi dengan teman lawan jenis sering kali langsung diartikan sebagai tanda berubahnya perasaan. Padahal, apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kenyataan. Sayangnya, pikiran sering kali lebih cepat menarik kesimpulan daripada mencari penjelasan.

Ketika overthinking terus dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi self-sabotage, yaitu perilaku yang tanpa sadar merusak hubungan sendiri. Seseorang mulai bertindak berdasarkan ketakutannya, bukan berdasarkan kenyataan. Ada yang menjadi posesif, sering menguji kesetiaan pasangan, terus meminta diyakinkan, atau bahkan memilih menjauh lebih dulu karena takut ditinggalkan. Sayangnya, tindakan yang dilakukan untuk menghindari rasa sakit justru menciptakan masalah yang sebelumnya tidak ada.

Self-sabotage sering kali berakar dari pengalaman masa lalu, seperti pernah disakiti, dikhianati, atau tidak dihargai dalam hubungan sebelumnya. Akibatnya, seseorang terus bersikap waspada dan tanpa sadar membawa trauma lama ke hubungan yang baru. Yang paling dirugikan sebenarnya bukan hanya pasangan, tetapi juga diri sendiri. Energi habis untuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat merasa tenang justru berubah menjadi sumber kecemasan.

Di sisi lain, pasangan juga bisa merasa lelah karena terus-menerus harus meyakinkan, menjelaskan, atau membantah tuduhan yang lahir dari asumsi. Jika terus dibiarkan, kepercayaan yang menjadi fondasi hubungan perlahan akan terkikis. Mengatasi overthinking bukan berarti berhenti berpikir, melainkan belajar membedakan mana fakta dan mana asumsi. Tidak semua perubahan sikap pasangan berarti perasaannya berubah, dan tidak semua hubungan akan berakhir seperti pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Keberanian untuk berkomunikasi secara jujur sering kali jauh lebih menyelesaikan masalah daripada membiarkan pikiran menyusun cerita sendiri. Terkadang musuh terbesar dalam sebuah hubungan bukanlah orang lain, melainkan asumsi yang kita ciptakan sendiri.