Suka, Nyaman, atau Cuma Terbiasa?

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu merasa senang setiap kali seseorang menghubungi kamu, tetapi ketika ditanya apakah kamu suka dia, kamu malah bingung sendiri?
Kamu senang dia perhatian. Senang kalau dia mengajak ngobrol. Kadang kamu juga menunggu pesan darinya. Tapi di saat yang sama, kamu tidak yakin apakah itu benar-benar rasa suka atau hanya karena sudah terbiasa dengan kehadirannya. Perasaan seperti ini mungkin pernah dialami banyak orang. Ada sesuatu yang kita rasakan, tapi kita sendiri sering bingung harus menyebutnya apa.
Kadang kita mengira bahwa sering memikirkan seseorang berarti kita menyukainya. Padahal, belum tentu. Bisa saja kita hanya sudah terbiasa berbicara dengannya setiap hari. Ketika tiba-tiba dia tidak menghubungi, rasanya ada yang kurang karena rutinitas kita berubah. Begitu juga dengan rasa nyaman.
Ketika ada seseorang yang selalu mendengarkan cerita kita, memberi perhatian, atau hadir ketika kita membutuhkan teman, wajar kalau lama-lama kita merasa dekat dengannya. Kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri. Kita bisa bercerita tentang hal-hal kecil tanpa takut dianggap berlebihan. Tapi rasa nyaman tidak selalu berarti rasa suka.
Masalahnya, kadang kedua perasaan itu terasa hampir sama. Kita senang melihat namanya muncul di layar. Kita merasa kecewa ketika dia tiba-tiba menjauh. Kita ingin tahu bagaimana harinya. Kita bahkan bisa merasa cemburu ketika melihat dia dekat dengan orang lain. Lalu kita mulai berpikir, “Jangan-jangan aku suka dia?”
Padahal, bisa saja yang kita rindukan bukan orangnya, tetapi perhatian yang selama ini dia berikan. Hal yang sama juga bisa terjadi karena kita sudah terlalu terbiasa dengan seseorang. Misalnya, setiap hari selalu ada obrolan sebelum tidur. Ada cerita tentang kegiatan sehari-hari, saling mengirim video lucu, atau sekadar obrolan random. Awalnya mungkin terasa biasa saja. Tapi setelah berlangsung cukup lama, kehadiran orang itu mulai menjadi bagian dari rutinitas. Ketika dia tidak ada, kita merasa kehilangan sesuatu.
Rasa kehilangan itu belum tentu berarti kita ingin menjalin hubungan dengannya. Kadang kita hanya kehilangan kebiasaan. Itulah kenapa menurutku, membedakan antara suka, nyaman, dan terbiasa tidak selalu mudah. Apalagi ketika seseorang sudah menjadi bagian dari keseharian kita.
Kita mungkin mulai bertanya pada diri sendiri, “Kalau dia tidak ada, aku kangen dia atau kangen perhatian yang biasanya dia kasih?” Pertanyaan sederhana seperti itu ternyata bisa membuat kita berpikir cukup lama. Kalau benar-benar suka, biasanya kita tidak hanya senang ketika mendapatkan perhatian. Kita juga ingin mengenal orang tersebut lebih jauh. Kita peduli dengan dirinya, bukan hanya dengan bagaimana dia memperlakukan kita. Kita mungkin ingin tahu apa yang dia pikirkan, apa yang dia sukai, apa yang sedang dia perjuangkan, bahkan hal-hal yang tidak selalu berkaitan dengan diri kita.
Kalau yang kita rasakan lebih banyak karena nyaman, mungkin kita sebenarnya menyukai perasaan ketika sedang bersamanya. Kita merasa didengarkan, dihargai, dan tidak sendirian. Dan kalau ternyata hanya terbiasa, mungkin yang paling terasa ketika dia pergi adalah perubahan dalam rutinitas kita. Tidak ada lagi pesan yang biasanya muncul. Tidak ada lagi teman untuk bercerita. Tidak ada lagi seseorang yang biasanya kita cari ketika sedang bosan. Ketiganya juga bisa bercampur.
Kita bisa nyaman dengan seseorang sekaligus menyukainya. Kita juga bisa sudah terbiasa dengannya sebelum akhirnya sadar bahwa ternyata ada perasaan yang tumbuh. Karena itu, tidak semua perasaan harus langsung diberi nama. Kadang kita terlalu sibuk mencari jawaban sampai lupa menikmati proses mengenal seseorang. Kita ingin segera tahu apakah ini cinta, suka, nyaman, atau hanya kebiasaan. Padahal, mungkin kita memang belum punya jawabannya.
Perasaan tidak selalu datang dengan penjelasan yang jelas. Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan. Kita tidak harus terburu-buru mengatakan suka hanya karena merasa nyaman. Kita juga tidak perlu menganggap semua rasa kehilangan sebagai tanda bahwa kita sedang jatuh cinta.
Bisa jadi kita memang suka. Bisa jadi kita hanya nyaman. Atau mungkin kita memang sudah terlalu terbiasa dengan kehadirannya. Apa pun jawabannya, tidak ada salahnya memberi waktu kepada diri sendiri untuk memahami perasaan itu. Kadang yang paling sulit bukan menentukan apakah kita menyukai seseorang atau tidak, tetapi jujur kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya kita cari dari kehadirannya.
