Tentang Rumah yang Tidak Lagi Terasa Sama Setelah Kita Dewasa

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, rumah adalah tempat yang paling kita kenal. Sepulang sekolah, yang dicari ya rumah. Setelah bermain seharian, kita tahu harus pulang ke mana. Rasanya rumah akan selalu sama dan selalu ada. Tapi setelah dewasa, perasaan itu perlahan berubah. Rumahnya sebenarnya masih sama. Kamarnya masih di situ, ruang tamu masih begitu, barang-barang juga mungkin masih ada di tempatnya. Tapi entah kenapa, suasananya terasa berbeda. Bukan karena rumahnya berubah, mungkin justru karena kita yang sudah berubah.
Semakin dewasa, kita semakin jarang menghabiskan waktu di rumah. Dulu hampir setiap hari ada di rumah. Sekarang ada kuliah, pekerjaan, teman, kegiatan, atau hal-hal lain yang membuat kita lebih sering berada di luar. Awalnya mungkin terasa menyenangkan. Kita akhirnya punya kehidupan sendiri. Bisa pergi tanpa harus selalu ditanya mau ke mana, bisa membuat keputusan sendiri, dan mulai punya kesibukan yang tidak berhubungan dengan keluarga. Tapi lama-lama, kita mungkin mulai merindukan hal-hal yang dulu dianggap biasa.
Dulu, ketika orang rumah bertanya, “Sudah makan belum?” mungkin kita hanya menjawab seadanya. Kadang malah merasa pertanyaannya itu-itu saja. Dulu suara orang tua yang memanggil dari luar kamar mungkin terasa mengganggu. Sekarang, ketika rumah sedang sepi, kita malah bisa merindukan suara itu. Mungkin karena kita baru sadar bahwa hal-hal yang dulu terasa biasa ternyata punya tempat sendiri dalam hidup kita.
Semakin dewasa, kita juga mulai melihat orang tua dengan cara yang berbeda. Dulu mereka terlihat seperti orang yang tidak pernah lelah. Selalu bisa mengurus banyak hal dan selalu ada ketika kita membutuhkan sesuatu. Sekarang, kita mulai melihat rambut mereka yang memutih, wajah yang mulai berubah, atau hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Di situ kadang muncul perasaan yang sulit dijelaskan.
Kita sadar bahwa waktu terus berjalan. Kita sudah tumbuh besar, tetapi orang tua juga ikut bertambah usia. Rumah yang dulu terasa ramai juga mungkin sekarang lebih sering sepi karena semua orang mulai punya kesibukan masing-masing. Ada yang bekerja, ada yang sudah menikah, atau hanya semakin jarang berada di rumah.
Akhirnya, kita mulai mengerti kenapa dulu orang tua begitu senang ketika kita pulang. Bukan cuma karena mereka ingin rumah ramai. Mungkin mereka memang hanya ingin melihat kita ada di rumah. Hal-hal seperti ini biasanya baru terasa ketika kita sudah dewasa. Saat masih kecil, kita justru sering ingin cepat besar. Ingin punya kebebasan, ingin pergi ke mana-mana, dan ingin punya kehidupan sendiri.
Setelah benar-benar dewasa, kita mendapatkan semua itu. Tapi ternyata ada bagian dari masa kecil yang ikut kita rindukan. Bukan berarti kita ingin kembali menjadi anak kecil. Kita hanya kangen dengan masa ketika pulang ke rumah terasa sederhana.
Tidak perlu memikirkan banyak hal. Tidak perlu memikirkan masa depan, pekerjaan, uang, atau berbagai masalah yang datang ketika kita mulai dewasa. Cukup pulang, makan, istirahat, lalu tidur. Mungkin itu juga alasan kenapa rumah kadang terasa aneh ketika kita sudah lama tidak pulang. Kita datang ke tempat yang sama, tetapi rasanya tidak persis seperti dulu. Kita sudah berubah. Cara berpikir kita berubah, kebiasaan kita berubah, dan kehidupan kita juga sudah berbeda. Rumah pun akhirnya menjadi semacam pengingat bahwa waktu ternyata berjalan cepat.
Dulu kita tumbuh di sana. Sekarang kita datang sebagai orang yang sudah jauh berbeda dari anak kecil yang dulu tinggal di dalamnya. Dan mungkin, rumah yang terasa berbeda setelah kita dewasa bukan berarti rumah itu sudah tidak nyaman lagi. Kita hanya mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Sejauh apa pun kita pergi, ada satu tempat yang pernah menjadi awal dari banyak hal dalam hidup kita. Dan mungkin, itu yang membuat rumah tetap terasa seperti rumah, meskipun semuanya sudah tidak lagi sama.
