Terjebak Perbandingan: Ketika Hidup Terasa Selalu Tertinggal dari Teman Sebaya

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di usia 20-an, satu hal yang hampir tidak bisa dihindari adalah membandingkan diri dengan teman sebaya. Lihat teman sudah kerja mapan, ada yang lanjut S2, ada yang menikah, bahkan ada yang sudah punya usaha sendiri. Sementara diri sendiri masih merasa jalan di tempat. Dari situ, muncul satu perasaan yang sama: tertinggal.
Masalahnya, perbandingan ini sering tidak adil sejak awal. Kita melihat hasil akhir orang lain, tapi tidak pernah benar-benar tahu proses di baliknya. Ada yang punya dukungan finansial, koneksi, atau kondisi hidup yang berbeda. Tapi di media sosial, semua itu hilang, yang terlihat hanya versi terbaiknya.
Akibatnya, standar hidup jadi ikut bergeser. Yang tadinya cukup, jadi terasa kurang. Yang tadinya progres, jadi terlihat lambat. Perbandingan ini pelan-pelan menggerus rasa percaya diri dan membuat seseorang merasa tidak cukup, padahal sebenarnya sedang berjalan di jalurnya sendiri.
Yang lebih berbahaya, perbandingan ini bisa membuat keputusan hidup jadi tidak jujur. Memilih karier, gaya hidup, bahkan hubungan, bukan karena benar-benar ingin, tapi karena tidak mau kalah. Pada akhirnya, yang dikejar bukan lagi kebahagiaan, tapi validasi.
Padahal, hidup bukan kompetisi yang punya garis finish yang sama. Setiap orang punya waktu, prioritas, dan titik awal yang berbeda. Membandingkan diri tanpa melihat konteks hanya akan membuat lelah sendiri.
Bukan berarti tidak boleh melihat pencapaian orang lain. Itu bisa jadi motivasi, asal tidak berubah jadi tekanan. Kuncinya ada di perspektif: fokus pada progres diri sendiri, bukan posisi orang lain.
Karena pada akhirnya, hidup yang terasa cukup bukan yang paling cepat atau paling tinggi, tapi yang paling sesuai dengan diri sendiri.
