Konten dari Pengguna

Tidak Semua yang Pergi Harus Dicari Kembali

Syahra Salwanda

Syahra Salwanda

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels/Roman Ska
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels/Roman Ska

Ada orang-orang yang pernah begitu dekat dengan kita, lalu perlahan menjadi asing. Awalnya mungkin sulit menerima. Kita masih menyimpan percakapan lama, mengingat kebiasaan-kebiasaan kecilnya, atau sesekali bertanya-tanya bagaimana kabarnya sekarang. Bahkan, ada keinginan untuk kembali menghubungi hanya karena merasa masih ada sesuatu yang belum selesai.

Kita sering menganggap bahwa sesuatu yang hilang harus dicari kembali. Ketika seseorang pergi dari kehidupan kita, kita berpikir mungkin masih ada kesempatan untuk mengembalikannya. Padahal, ada hubungan yang berakhir bukan karena salah satu pihak benar-benar membenci yang lain. Kadang, orang-orang hanya berubah. Kesibukan bertambah, prioritas bergeser, cara berpikir tidak lagi sama, atau kehidupan membawa kita ke arah yang berbeda. Dulu bisa berbicara setiap hari, sekarang hanya saling melihat unggahan di media sosial. Dulu tahu hampir semua cerita, sekarang bahkan untuk menyapa pun terasa canggung.

Perubahan seperti itu memang tidak selalu mudah diterima. Kita sering mencari alasan untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah selesai. Kita mengingat masa-masa ketika semuanya terasa baik-baik saja dan berharap keadaan bisa kembali seperti dulu. Padahal, yang kita rindukan belum tentu orangnya, melainkan masa ketika kita merasa bahagia bersamanya.

Masa lalu memang punya cara sendiri untuk membuat kita ingin kembali. Kenangan yang menyenangkan biasanya lebih mudah diingat daripada alasan mengapa hubungan itu akhirnya berakhir. Kita hanya mengingat tawa, percakapan panjang, dan momen-momen sederhana, lalu melupakan hal-hal yang membuat kita sampai pada titik perpisahan.

Bukan berarti setiap hubungan yang berakhir harus dianggap buruk. Ada orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup kita tanpa harus menjadi bagian dari kehidupan kita selamanya. Kehadirannya mungkin memang dibutuhkan pada satu masa, untuk menemani, mengajarkan sesuatu, atau membuat kita mengenal diri sendiri lebih jauh.

Kalau sebuah hubungan hanya bisa berjalan ketika satu pihak terus berusaha, mungkin yang perlu dilakukan bukan mencari cara untuk mengembalikannya, tetapi menerima bahwa hubungan tersebut sudah berubah. Menerima bukan berarti tidak peduli. Kita tetap boleh mengingat seseorang dengan baik tanpa harus menginginkan mereka kembali. Kita boleh merindukan masa lalu tanpa harus kembali ke dalamnya.

Kehilangan tidak selalu berarti ada sesuatu yang harus diperbaiki. Ada kehilangan yang justru memberi ruang untuk bertumbuh. Setelah seseorang pergi, mungkin kita menjadi lebih tahu apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan, apa yang tidak ingin kita ulangi, dan bagaimana cara menghargai diri sendiri.

Tidak semua yang pergi harus dicari kembali. Beberapa hal memang lebih baik dibiarkan menjadi bagian dari masa lalu. Bukan karena tidak berarti, tetapi karena kita sudah tidak berada di tempat yang sama seperti dulu. Mungkin, yang perlu kita lakukan bukan terus mencari cara agar sesuatu yang pergi bisa kembali. Terkadang, kita hanya perlu mengucapkan terima kasih dalam hati, menerima bahwa waktunya sudah selesai, lalu melanjutkan hidup tanpa terus menoleh ke belakang.