Konten dari Pengguna

China vs Amerika : Indonesia Pilih Siapa di Tengah Perang Dingin Baru?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahrial Rhamadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bendera China dan Amerika Serikat. Sumber : Vecteezy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bendera China dan Amerika Serikat. Sumber : Vecteezy

Bayangkan Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan ekonomi terbesar di ASEAN, tiba-tiba harus memilih antara dua raksasa yang sedang saling berhadapan, Amerika Serikat yang menjanjikan keamanan dan teknologi canggih, atau China yang menawarkan investasi masif dan pasar raksasa. Di tengah "Perang Dingin Baru" yang semakin nyata, apakah Indonesia mampu tetap "bebas aktif" seperti yang diamanatkan para pendiri bangsa, atau terpaksa memihak dan mengorbankan kedaulatan serta kepentingan nasionalnya?.

China sebagai pemain utama

China naik sebagai negara yang superpower dengan cepat. PDB-nya hampir menyusul Amerika Serikat, dan di Indonesia, China adalah mitra dagang terbesar lewat ekspor ke China mencapai 50 dollar miliar per tahun. Lewat BRI (Belt and Road Initiative), mereka membangun infrastruktur seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang janji percepat ekonomi. Tapi ini bukan tanpa risiko. Kritikus bilang BRI seperti "jebakan utang", negara seperti Sri Lanka terjebak, asetnya di ambil alih. Di Indonesia, proyek di Kalimantan Utara sudah bikin utang naik, China tawarkan kemakmuran cepat dengan harganya yang membuat menjadi ketergantungan ekonomi dan potensi pengaruh geopolitik seperti di Laut China Selatan.

Amerika serikat sebagai alternatif

Di kubu lain, Amerika Serikat tetap kekuatan militer dan teknologi terdepan. Mereka mendorong Indo-Pasifik bebas dan terbuka lewat Quad (AS, Jepang, India, dan Australia), plus latihan Super Garuda Shield bersama. Dari sisi ekonomi, perdagangan bilateral Amerika Serikat-Indonesia sekitar USD 40 miliar di 2024-2025, dengan surplus mencapai USD 18 miliar terhadap Amerika Serikat, terbesar dibanding mitra lain. Amerika Serikat menawarkan kerja sama digital, energi hijau, dann bantuan teknologi tinggi, tapi investasi langsung mereka kalah agresif dibanding China. Masalahnya kebijakan Amerika Serikat seringkali hanya bersifat nasihat daripada uang. Kritik soal demokrasi, Papua, atau hak asasi, plus era proteksionis Trump dulu bikin hubungan dagang renggang. Di tengah rivalitas, Amerika Serikat melihat Indonesia sebagai sekutu kunci untuk membendung China, tapi apakah kita mau terseret konflik seperti di Taiwan atau Laut China Selatan?. Risiko besarnya apabila ikut Amerika Serikat berpotensi sanksi dari China, yang sudah jadi tulang punggung rantai pasok kita. Namun Amerika Serikat janjukan keamanan, tapi ekonomi kita butuh dana masif untuk insfrastruktur dan transisi energi.

Dampak Indonesia dan Dilema Pilihan

Indonesia berada di posisi "mendayung di antara dua karang" versi modern. Kita butuh investasi China untuk downstream nikel dan EV menuju visi 2045, tapi jangan sampai kedaulatan maritim dan digital terganggung. Apabila pilih Amerika Serikat, kita dapat dukungan militer, tapi ekonomi bisa tertinggal tanpa modal besar. Survei CELIOS 2025 menunjukkan 66% responden lihat hubungan Indonesia-China positif (terutama ekonomi), dan 92% percaya China mitra andal di transisi energi, tapi mayoritas tetap ingin netral. Di ASEAN, kita pemimpin, harus jaga keseimbangan, seperti isu Myanmar atau Laut China Selatan. Solusinya? tambah kerja sama dengan Jepang,Eropa, India. Jangan pilih satu pihak, bangun aliansi sendiri agara tetap "bebas aktif".

Di era perang dingin baru ini, Indonesia tak perlu pilih China atau Amerika Serikat sepenuhnya. Stratgei terbaik adalah "hedging" ambil manfaat eknomi dari China, keamanan dari Amerika Serikat, tapu kuatkan posisi sendiri lewat ASEAN, BRICS, dan diplomasi multiguna. Negara superpower hanya peduli kepentingan mereka sendiri, bukan kita. Jika bijak, Indonesia bisa jadi pemenang, poros maritim dunia yang mandiri, bukan korban rivalitas. Ingat kata Prabowo " Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak". Mari kita pegang teguh itu sebagai prinsip netralitas.