Konten dari Pengguna

Rekam Medis Terintegrasi, Apa Artinya bagi Pasien?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaihul Hady tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konsultasi pasien dengan tenaga kesehatan menggunakan rekam medis elektronik yang terintegrasi. (Ilustrasi: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Konsultasi pasien dengan tenaga kesehatan menggunakan rekam medis elektronik yang terintegrasi. (Ilustrasi: AI)

Bagi sebagian pasien, berobat ke rumah sakit bukan hanya soal bertemu dokter dan menjalani pemeriksaan. Ada berkas yang harus dibawa, hasil laboratorium yang harus disimpan, hasil radiologi, resep, surat rujukan, hingga riwayat pengobatan yang terkadang harus dijelaskan kembali kepada dokter.

Ketika harus berpindah rumah sakit, pasien dan keluarga sering kali kembali menjadi "kurir" bagi riwayat kesehatannya sendiri. Semua dokumen harus dipastikan tidak tertinggal, dan tidak semua pasien memiliki kondisi yang memungkinkan mereka menyimpan dan membawa seluruh dokumen tersebut dengan mudah, terlebih bagi pasien yang menjalani pengobatan dalam waktu panjang dan berpindah-pindah fasilitas kesehatan.

Di tengah persoalan tersebut, sistem rekam medis elektronik mulai memasuki tahap baru.

Pada 1 September 2026, Kementerian Kesehatan meluncurkan SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik atau SATUSEHAT RME. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan informasi rekam medis pasien dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan yang terhubung dengan ekosistem SATUSEHAT.

Lantas, apa perubahan yang sebenarnya bisa dirasakan pasien?

Bukan Sekadar Rekam Medis Digital

Rekam medis elektronik sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan sudah menggunakan sistem digital dalam mencatat pelayanan pasien.

Yang menjadi penting dari SATUSEHAT RME adalah upaya menghubungkan informasi tersebut, sehingga data medis pasien dapat digunakan secara lebih berkesinambungan ketika pasien mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan lain yang sudah terintegrasi.

Informasi yang dapat terintegrasi antara lain diagnosis, hasil pemeriksaan laboratorium, obat, tindakan medis, tanda vital, hingga hasil radiologi.

Bagi pasien, perubahan ini mungkin terlihat sederhana, namun dalam praktiknya dampaknya bisa cukup berarti. Pasien yang dirujuk atau berpindah fasilitas kesehatan tidak lagi selalu harus mengandalkan tumpukan dokumen fisik untuk menjelaskan seluruh riwayat pemeriksaannya.

Dokter di fasilitas kesehatan berikutnya dapat memperoleh informasi medis yang tersedia dalam sistem, sesuai dengan kewenangan dan persetujuan akses yang berlaku.

Ketika Pasien Tidak Harus Mengulang Cerita dari Awal

Salah satu bagian yang sering melelahkan bagi pasien adalah menceritakan kembali riwayat penyakit: kapan pertama kali sakit, pemeriksaan apa yang sudah dilakukan, obat apa yang pernah dikonsumsi, apa hasil laboratorium sebelumnya, dan tindakan medis apa yang pernah dijalani.

Bagi pasien dengan penyakit kronis atau kondisi yang membutuhkan perawatan berulang, pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sesuatu yang hanya terjadi sekali. Setiap berpindah fasilitas kesehatan, pasien dapat kembali berhadapan dengan proses yang sama.

Dengan rekam medis yang lebih terintegrasi, informasi tersebut diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan memahami kondisi pasien dengan lebih lengkap. Pasien pun tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber informasi mengenai riwayat kesehatannya.

Apakah Pemeriksaan Tidak Perlu Diulang?

Ini bagian yang perlu diluruskan: rekam medis terintegrasi bukan berarti pasien tidak akan pernah menjalani pemeriksaan yang sama lagi.

Dokter tetap dapat meminta pemeriksaan baru jika kondisi pasien membutuhkan, hasil pemeriksaan sebelumnya sudah tidak relevan, atau terdapat alasan medis tertentu.

Namun, tersedianya hasil pemeriksaan sebelumnya dapat membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sudah ada. Jika suatu hasil masih relevan secara klinis, dokter dapat mempertimbangkannya dalam menentukan pemeriksaan atau tindakan berikutnya.

Bagi pasien, ini berpotensi mengurangi kerepotan, waktu, dan biaya yang tidak perlu, terutama bagi mereka yang harus menjalani pelayanan kesehatan secara berulang.

Pasien Tetap Punya Hak atas Data Kesehatannya

Kemudahan akses rekam medis juga harus berjalan bersama dengan perlindungan data pasien. Informasi kesehatan bukan sekadar data biasa. Di dalamnya terdapat informasi pribadi yang sangat penting bagi seseorang.

Karena itu, integrasi rekam medis tidak berarti seluruh orang dapat melihat data pasien.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa dalam kondisi non-gawat darurat, akses terhadap rekam medis dilakukan dengan persetujuan pasien melalui mekanisme yang tersedia.

Dalam kondisi darurat, terdapat mekanisme khusus agar tenaga kesehatan dapat mengakses informasi yang dibutuhkan untuk menangani pasien.

Pasien juga dapat mengetahui riwayat akses terhadap data medisnya melalui SATUSEHAT Mobile.

Artinya, digitalisasi rekam medis seharusnya tidak hanya membuat sistem kesehatan menjadi lebih cepat. Pasien juga perlu tetap mengetahui bagaimana data kesehatannya digunakan.

Pasien Sebaiknya Tetap Mengetahui Riwayat Kesehatannya

Adanya rekam medis elektronik bukan berarti pasien boleh sepenuhnya menyerahkan urusan riwayat kesehatan kepada sistem.

Pasien tetap perlu mengetahui informasi penting tentang dirinya, misalnya penyakit yang pernah didiagnosis, obat yang sedang digunakan, alergi, tindakan medis yang pernah dilakukan, dan pemeriksaan penting yang pernah dijalani.

SATUSEHAT Mobile juga menyediakan fitur Resume Medis bagi pasien dengan profil yang telah terverifikasi. Fitur tersebut dapat membantu pasien melihat rangkuman informasi medis yang tersedia setelah mendapatkan pelayanan kesehatan.

Ini penting karena pasien bukan hanya penerima pelayanan, melainkan juga pemilik informasi tentang perjalanan kesehatannya sendiri.

Tidak Semua Fasilitas Kesehatan Langsung Terhubung

Ada satu hal yang juga perlu dipahami masyarakat: peluncuran SATUSEHAT RME bukan berarti seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia langsung terhubung pada saat yang sama. Implementasinya dilakukan secara bertahap.

Karena itu, dalam masa transisi, pasien masih mungkin diminta membawa dokumen tertentu ketika berobat atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.

Untuk sementara, menyimpan dokumen medis penting tetap merupakan langkah yang bijak, meski arah perubahannya sudah terlihat. Sistem kesehatan Indonesia sedang bergerak menuju rekam medis yang semakin terhubung.

Yang Paling Penting Tetap Pengalaman Pasien

Teknologi kesehatan pada akhirnya bukan hanya tentang aplikasi, sistem, atau database yang semakin canggih.

Ukuran keberhasilannya justru dapat dilihat dari pengalaman pasien: apakah pasien lebih mudah mendapatkan pelayanan, apakah dokter dapat memahami riwayat pasien dengan lebih lengkap, apakah keluarga tidak lagi harus membawa begitu banyak dokumen, apakah pemeriksaan yang tidak perlu dapat dikurangi, dan yang tidak kalah penting, apakah pasien tetap memiliki kendali terhadap informasi kesehatannya sendiri.

Jika rekam medis terintegrasi mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut, perubahan ini bukan sekadar digitalisasi.

Bagi pasien, ini menjadi langkah dari sistem kesehatan yang mengharuskan mereka membawa sendiri seluruh riwayat penyakitnya, menuju sistem yang membantu riwayat tersebut tetap tersambung antarfasilitas kesehatan.