Konten dari Pengguna

AI Palsu, Tonggak Baru Hoaks: Deepfake di Indonesia Merajalela

syakila amanda

syakila amanda

mahasiswa universitas islam negri jakarta fakultas ushuluddin program studi ilmu hadis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari syakila amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media Digital yang dibuat oleh mesin, termasuk deepfake (Sumber: Pexel.com)
zoom-in-whitePerbesar
Media Digital yang dibuat oleh mesin, termasuk deepfake (Sumber: Pexel.com)

Deepfake ini basically gabungan dari "deep learning" (kecerdasan buatan yang bisa belajar sendiri) sama "fake" alias palsu. Hasilnya? Video atau suara yang super meyakinkan, padahal bohongan. Nah, di Indonesia, fenomena ini mulai jadi bahaya yang gak bisa dianggap remeh.

Kamu pernah nemu video artis ngomong aneh? Atau tokoh politik yang tiba-tiba ngaku hal nyeleneh? Eits, jangan langsung percaya! Bisa jadi kamu lagi kena prank digital dari teknologi yang lagi naik daun deepfake.

Gimana Sih Deepfake Bekerja?

Bayangin kamu bisa nyalin wajah orang terus ditempelin ke tubuh orang lain dan itu mulus banget, sampai orang awam pun nggak sadar kalau itu palsu. Teknologi AI belajar dari ribuan bahkan jutaan gambar atau suara, lalu bikin versi palsunya yang nyaris 100% identik. Kamu bisa bikin selebgram ngomong apa aja, bahkan tanpa mereka tahu. Serem, kan?

Dari Seru-Seruan ke Bikin Kericuhan

Awalnya sih dipake buat konten lucu-lucuan kayak wajah kamu ditukar sama aktor Hollywood. Tapi lama-lama, deepfake masuk ke ranah serius: politik, penipuan, bahkan pencemaran nama baik. Di musim pemilu, contohnya, video deepfake bisa dipakai buat ngejatuhin lawan politik. Satu video hoaks aja bisa bikin opini publik kebolak-balik.

Belum lagi kasus penipuan. Ada loh orang yang suaranya di deepfake biar bisa menipu keluarga atau teman dengan modus "butuh bantuan darurat". Gokilnya, korban nggak sadar karena suaranya emang mirip banget.

Kemenkominfo menurunkan ribuan akun dan konten deepfake melalui inisiatif internal maupun pelaporan dari platform digital. Terdapat satu akun yang meniru figur konglomerat, menampilkan video deepfake yang mendorong pengguna untuk follow akun dan daftar lewat nomor telepon, dengan estimasi pengikut 300.000–400.000. Setelah dicek ternyata palsu (perbedaan sinkronisasi bibir), akun ini pun langsung di-takedown.

Indonesia: Target Empuk?

Sayangnya, masyarakat Indonesia masih rentan. Literasi digital belum merata, dan banyak yang masih gampang percaya sama video atau audio yang tersebar di WhatsApp atau medsos. Parahnya, makin banyak konten deepfake yang viral tanpa ada pengecekan fakta. Netizen pun gampang kepancing emosi, terus nge-share tanpa pikir panjang.

Bisa Dicegah Nggak?

Tenang, gak semuanya hopeless. Ada beberapa cara biar kita gak jadi korban:

1. Jangan langsung percaya sama video atau rekaman suara yang aneh-aneh.

2. Cek sumbernya asal dari mana nih? Akun asli atau abal-abal?.

3. Gunakan tools cek fakta kayak Google Reverse Image atau InVID buat ngecek keaslian video.

4. Sebarin edukasi soal deepfake ke teman dan keluarga. Biar makin banyak yang melek digital.

Deepfake adalah bentuk baru dari hoaks, dan dia lebih licik, lebih halus, dan lebih bahaya. Tapi kalau kita udah siap, waspada, dan makin pintar digital, teknologi kayak gini gak akan gampang ngejebak kita.

Jadi, jangan asal sebar! Kamu bisa jadi bagian dari solusi, bukan penyebar ilusi.