Konten dari Pengguna

People Pleasing: Kebiasaan Menyenangkan Orang Lain yang Melelahkan

syakira naila

syakira naila

Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari syakira naila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.magnific.com/free-vector/hand-drawn-adhd-illustration_25267100.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=b924e454-39ac-4673-88f2-9296f25a6637&query=People+Pleasing%3A+Kebiasaan+Menyenangkan+Orang+Lain+yang+Melelahkan
zoom-in-whitePerbesar
https://www.magnific.com/free-vector/hand-drawn-adhd-illustration_25267100.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=b924e454-39ac-4673-88f2-9296f25a6637&query=People+Pleasing%3A+Kebiasaan+Menyenangkan+Orang+Lain+yang+Melelahkan

Pernahkah Anda merasa sulit menolak permintaan orang lain meskipun sebenarnya sedang lelah atau tidak memiliki waktu? Pernah merasa tidak enak hati ketika harus mengatakan “tidak”, lalu akhirnya mengorbankan kebutuhan diri sendiri demi menjaga perasaan orang lain? Jika ya, kemungkinan Anda pernah mengalami apa yang dalam psikologi dikenal sebagai people pleasing.

Di era modern, perilaku people pleasing sering kali dianggap sebagai sikap yang positif karena identik dengan keramahan, kepedulian, dan kemampuan menjaga hubungan sosial. Individu yang selalu membantu, mudah mengalah, dan berusaha memenuhi harapan orang lain biasanya dipandang sebagai pribadi yang baik. Namun di balik citra tersebut, people pleasing sering kali menyimpan beban psikologis yang tidak terlihat. Keinginan yang terus-menerus untuk menyenangkan orang lain dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri, mengalami kelelahan emosional, bahkan kehilangan jati dirinya.

Fenomena ini semakin banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda, terutama di tengah budaya sosial yang menekankan pentingnya penerimaan sosial dan validasi dari lingkungan. Tidak sedikit individu yang merasa harus selalu menjadi “orang baik” agar diterima, dihargai, atau dicintai oleh orang lain. Akibatnya, mereka terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri.

Memahami People Pleasing dalam Perspektif Psikologi

People pleasing bukanlah diagnosis gangguan mental yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Namun, istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola perilaku ketika seseorang secara berlebihan berusaha membuat orang lain senang, sering kali dengan mengorbankan kebutuhan, perasaan, atau kepentingannya sendiri.

Dalam psikologi, perilaku ini sering dikaitkan dengan kebutuhan yang tinggi akan penerimaan sosial (need for approval). Individu dengan kecenderungan people pleasing biasanya memiliki kekhawatiran yang besar terhadap penolakan, konflik, atau penilaian negatif dari lingkungan. Mereka merasa bahwa nilai dirinya bergantung pada seberapa besar orang lain menyukai atau menerima dirinya.

Menurut teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dan menjadi bagian dari kelompok sosial (belongingness needs). Kebutuhan ini merupakan hal yang normal. Namun, ketika kebutuhan akan penerimaan menjadi terlalu dominan, seseorang dapat mengembangkan perilaku yang berlebihan untuk mempertahankan hubungan sosial, termasuk selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Pada banyak kasus, people pleasing muncul bukan karena seseorang benar-benar ingin membantu, melainkan karena takut mengecewakan orang lain. Perbedaan ini penting untuk dipahami. Membantu orang lain karena empati merupakan perilaku prososial yang sehat. Sebaliknya, membantu karena takut ditolak atau takut dianggap buruk dapat menjadi sumber tekanan psikologis yang berkepanjangan.

Mengapa Seseorang Menjadi People Pleaser?

Kecenderungan people pleasing biasanya tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor psikologis dan pengalaman hidup yang dapat membentuk pola perilaku ini.

Salah satu faktor yang sering ditemukan adalah pola pengasuhan pada masa kanak-kanak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat menekankan kepatuhan atau penghargaan berdasarkan perilaku tertentu dapat belajar bahwa dirinya hanya akan diterima ketika memenuhi harapan orang lain. Akibatnya, mereka terbiasa mencari persetujuan eksternal sebagai sumber rasa aman.

Selain itu, pengalaman mendapatkan kritik yang berlebihan atau penolakan sosial juga dapat memengaruhi perkembangan people pleasing. Individu yang pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dalam hubungan sosial mungkin menjadi lebih sensitif terhadap konflik dan berusaha menghindarinya dengan cara menyenangkan orang lain.

Teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby juga menjelaskan bahwa pola hubungan awal dengan pengasuh dapat memengaruhi cara individu menjalin hubungan di masa dewasa. Individu dengan anxious attachment cenderung memiliki kebutuhan yang tinggi akan penerimaan dan kedekatan emosional sehingga lebih rentan menunjukkan perilaku people pleasing.

Di era media sosial, faktor tersebut semakin diperkuat oleh budaya validasi digital. Banyak individu terbiasa mengukur nilai dirinya melalui respons yang diberikan orang lain, seperti jumlah likes, komentar, atau perhatian yang diterima. Ketergantungan terhadap validasi eksternal ini dapat memperkuat kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain demi memperoleh pengakuan sosial.

Tanda-Tanda People Pleasing yang Perlu Diwaspadai

https://www.magnific.com/free-vector/personal-memories-concept-with-frame_6797734.htm#fromView=search&page=1&position=10&uuid=b924e454-39ac-4673-88f2-9296f25a6637&query=People+Pleasing%3A+Kebiasaan+Menyenangkan+Orang+Lain+yang+Melelahkan

Tidak semua bentuk kebaikan merupakan people pleasing. Namun, terdapat beberapa karakteristik yang sering ditemukan pada individu dengan kecenderungan ini.

Salah satu tanda yang paling umum adalah kesulitan mengatakan “tidak”. Individu sering menerima permintaan orang lain meskipun sebenarnya tidak memiliki waktu, tenaga, atau keinginan untuk melakukannya. Mereka merasa bersalah ketika harus menolak dan khawatir dianggap egois.

People pleaser juga cenderung menghindari konflik. Mereka lebih memilih mengalah daripada menyampaikan ketidaksetujuan, bahkan ketika pendapat atau haknya diabaikan. Dalam banyak situasi, mereka menyembunyikan perasaan sebenarnya demi menjaga kenyamanan orang lain.

Selain itu, individu dengan kecenderungan people pleasing sering meminta maaf secara berlebihan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahannya. Mereka juga memiliki kebutuhan yang tinggi untuk mendapatkan persetujuan dan merasa cemas ketika mengetahui ada orang yang tidak menyukainya.

Dalam hubungan interpersonal, people pleaser sering menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. Mereka rela mengorbankan waktu, energi, atau kesejahteraan emosional demi memastikan orang lain merasa puas dan nyaman.

Dampak Psikologis People Pleasing

Sekilas, people pleasing mungkin tampak sebagai perilaku yang positif karena membantu menjaga hubungan sosial. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan, perilaku ini dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental.

Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah kelelahan emosional (emotional exhaustion). Terus-menerus berusaha memenuhi harapan orang lain membutuhkan energi psikologis yang besar. Individu menjadi terbiasa mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri sehingga rentan mengalami stres dan kelelahan.

Selain itu, people pleasing juga dapat menurunkan harga diri. Ketika nilai diri terlalu bergantung pada persetujuan orang lain, individu akan merasa berharga hanya jika berhasil menyenangkan orang lain. Sebaliknya, ketika menghadapi kritik atau penolakan, mereka dapat mengalami perasaan gagal yang mendalam.

Penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan berlebihan akan persetujuan sosial memiliki hubungan dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, rendahnya kepercayaan diri, serta kesulitan menetapkan batasan interpersonal yang sehat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko munculnya stres kronis, kecemasan, dan burnout.

People pleasing juga dapat menghambat perkembangan identitas diri. Karena terlalu fokus memenuhi ekspektasi orang lain, individu sering kesulitan memahami apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mereka menjadi terbiasa mengikuti keinginan lingkungan hingga kehilangan hubungan dengan kebutuhan dan nilai-nilai pribadinya sendiri.

Menetapkan Batasan Bukan Berarti Egois

Salah satu kesalahpahaman yang sering dialami people pleaser adalah anggapan bahwa mengatakan “tidak” merupakan tindakan yang egois. Padahal dalam psikologi, kemampuan menetapkan batasan (boundaries) justru merupakan salah satu aspek penting dalam hubungan yang sehat.

Batasan membantu individu melindungi kesehatan mental, waktu, energi, dan kesejahteraan emosionalnya. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan kapasitas bukan berarti tidak peduli terhadap orang lain, melainkan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Menurut Brené Brown, individu yang memiliki batasan yang sehat justru mampu membangun hubungan yang lebih autentik. Mereka dapat membantu orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri dalam proses tersebut.

Belajar menetapkan batasan memang tidak selalu mudah, terutama bagi individu yang sejak lama terbiasa menyenangkan orang lain. Namun langkah kecil seperti menunda jawaban, mempertimbangkan kebutuhan pribadi sebelum menyetujui permintaan, serta belajar mengungkapkan pendapat secara asertif dapat menjadi awal yang baik.

Membangun Hubungan yang Sehat dengan Diri Sendiri

Mengurangi kecenderungan people pleasing bukan berarti berubah menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap orang lain. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengembangkan self-compassion atau kasih sayang terhadap diri sendiri. Konsep yang dikembangkan oleh Kristin Neff ini menekankan pentingnya memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti ketika kita memperlakukan orang lain.

Selain itu, individu perlu belajar mengenali kebutuhan, nilai, dan prioritas pribadinya. Dengan memahami apa yang benar-benar penting bagi dirinya, seseorang akan lebih mudah mengambil keputusan tanpa terlalu dipengaruhi oleh tekanan sosial.

Membangun kepercayaan diri yang sehat juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap validasi eksternal. Ketika seseorang mampu menghargai dirinya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada penilaian orang lain, kebutuhan untuk selalu menyenangkan orang lain akan berkurang secara alami.

________________________________________________

Oleh: Syakira Naila dan Dr,Rachmat Mulyono M.si,Psikolog