Konten dari Pengguna

Jejak Intelektual Menteri Pendidikan dalam Lintasan Sejarah

Syakroni

Syakroni

Ketua Umum IMM FKIP Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univ. Muhammadiyah Surabaya Sekertaris Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PC IMM Surabaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syakroni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ki Hajar Dewantara source Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ki Hajar Dewantara source Shutterstock

Para intelektual selalu meninggalkan jejaknya dalam lembaran sejarah untuk selalu dikenang dari masa ke masa oleh generasi berikutnya. Selain itu rekam jejak kaum intelektual selalu menjadi inspirasi bagi kaum muda. Begitu pula jejak para intelektual dalam lintasan sejarah pendidikan di Indonesia dari awal dibentuknya yang bernama Departemen Pengajaran sampai saat ini dibentuk menjadi tiga Kementerian yaitu Kemendikdasmen, Kemdiktisaintek, dan Kemenkebud.

Perubahan ini menjadi bagian sejarah dari transformasi pendidikan di Indonesia. Hal yang menarik dari transformasi ini adalah jejak intelektual yang mewarnainya, khususnya para menteri pendidikan dalam lintasan sejarah. Jejak intelektual mereka menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam proses perumusan kebijakan dan membuat terobosan baru dalam dunia pendidikan. Pemikiran mereka memberikan sumbangsih besar dalam perubahan pendidikan, yang sekaligus menjadi catatan sejarah perjalanan hidup mereka sebagai menteri pendidikan.

Sejarah telah mencatat perjalanan pendidikan di Indonesia dari masa ke masa, mulai dari perubahan nomenklatur, kurikulum, dan kebijakan. Sejarah ini perlu diabadikan dalam museum pendidikan atau bahkan dijadikan sebagai bagian dari mata pelajaran tertentu yang mengulas tentang sejarah intelektual manteri pendidikan serta kebijakan-kebijakan penting yang mereka lahirkan di masanya.

Sejarah menjadi penting untuk diabadikan melalui museum karena menjadi tempat yang cukup diminati, selain tempat rekreasi untuk mengisi waktu luang, museum bisa menjadi wahana edukatif. Beberapa kota menyajikan meseum pendidikan diantaranya Kota Bandung yang berada di kawasan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Museum pendidikan di Kota Surabaya. Kota-kota lain perlu menghadirkan museum pendidikan yang secara khusus menampilkan dan mengembangkan jejak para tokoh menteri pendidikan dari masa ke masa.

Melalui museum pendidikan menambah khazanah pengetahuan tentang jejak intelektual menteri pendidikan serta kontribusi pemikiran mereka terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Tanpa adanya museum pendidikan sedikit yang mengetahui tentang pemikiran dan kontribusi para tokoh pendidikan dari era kemerdekaan sampai saat ini, termasuk perubahan-perubahan kebijkan atau terobosan yang menjadi ciri khas kepemimpinan mereka.

Berdasarkan laman kemendikbud.go.id terdapat daftar nama menteri pendidikan dari masa ke masa, mencakup nama kabinet, Kementerian atau Departemen pendidikan, hingga masa jabatan yang diemban. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa banyak tokoh pendidikan yang perlu diketahui lebih dekat dan meneladani pemikiran serta kontribusinya terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.

Meskipun sosok Ki Hajar Dewantara sering kali menjadi tokoh utama yang di bahas dalam konteks sejarah pendidikan Indonesia, khususnya sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan menteri Pengajaran pertama. Melalui semboyan semboyan “Ing ngarsa sung talada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Bahwa seorang pendidik atau pemimpin harus mampu menjadi teladan di depan, membangkitkan semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang.

Seiring dengan perkembangan zaman dan tantangan global yang semakin kompleks, para menteri pendidikan yang menjabat sejak era tahun 2000-an hingga masa kini juga telah membawa terobosan, kebijakan strategis, dan reformasi pendidikan yang signifikan. Sehingga penting juga untuk memberikan perhatian dan mengulas tokoh-tokoh menteri pendidikan lainnya yang telah berperan penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia.

Tokoh- tokoh seperti Abdul Malik Fadjar, Bambang Sudibyo, Mohammad Nuh, Anies Baswedan, Muhadjir Effendy, dan Nadiem Anwar Makarim. Merupakan figur-figur penting yang tidak hanya mengelola sistem pendidikan nasional, tetapi juga menjadi pengambil kebijakan yang memengaruhi arah dan wajah pndidikan Indoensia secara luas.

Dalam kiprahnya mereka memiliki karakteristik kepemimpinan,visi dan pendekatan yang berbeda-beda dalam merespon kebutuhan zaman yang terus berkembang, mulai dari penguatan mutu pendidikan, implementasi kurikulum, digitalisasi pendidikan, penguatan kompetensi guru, gerakan merdeka belajar, kampus merdeka hingga kampus berdampak dan yang terus berkembang hingga saat ini.

Gagasan Menteri Pendidikan Indonesia era 2000-an

Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc.

Menggagas Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan pendekatan konstruktivisme. Mendorong otonomi perguruan tinggi melalui status BHMN serta meluncurkan TV Edukasi sebagai media pembelajaran nasional berbasis etika dan nilai edukatif.

Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA.

Fokus pada efisiensi anggaran dan pemerataan akses pendidikan. Meningkatkan kualitas guru melalui sertifikasi, memperluas wajib belajar menjadi 12 tahun, serta mengukuhkan Ujian Nasional sebagai alat kendali mutu pendidikan nasional.

Prof. Mohammad Nuh, DEA.

Menggagas Kurikulum 2013 berbasis integrasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap (ASK). Meluncurkan program Bidikmisi untuk akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa kurang mampu, serta mengedepankan pendidikan karakter secara menyeluruh.

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D.

Menyederhanakan implementasi Kurikulum 2013 dan memperkuat pendidikan karakter melalui Program Budi Pekerti. Merintis Program Indonesia Pintar (PIP) guna menjamin akses pendidikan bagi siswa dari keluarga tidak mampu.

Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP.

Memperkuat karakter siswa lewat PPK dan menerapkan sistem zonasi dalam PPDB. Mendorong revitalisasi pendidikan vokasi serta menggagas Full Day School untuk menambah waktu pembelajaran, meski menuai pro-kontra.

Nadiem Anwar Makarim, B.A., MBA.

Mencetuskan Merdeka Belajar dengan Kurikulum Merdeka yang adaptif dan fleksibel. Membangun 26 episode kebijakan transformasi pendidikan, termasuk Kampus Merdeka dan Asesmen Nasional, serta akselerasi digitalisasi pendidikan berbasis teknologi.