Konten dari Pengguna

Pendidikan Sebagai Jalan Perubahan: Refleksi Pemikiran Buya Hamka

Syakroni

Syakroni

Ketua Umum IMM FKIP Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univ. Muhammadiyah Surabaya Sekertaris Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PC IMM Surabaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syakroni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa membaca buku sumber pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa membaca buku sumber pixabay.com

Di tengah kompleksitas persoalan sosial yang terus membayangi masyarakat, pendidikan senantiasa hadir sebagai ruang harapan dan jalan menuju perubahan. Pendidikan bukan hanya sebagai aktivitas formal yang terbatas pada ruang kelas, tetapi merupakan proses panjang yang menawarkan kemungkinan untuk keluar dari berbagai bentuk keterpurukan, seperti kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial. Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa “education is the most powerful weapon which you can use to change the world,” ungkapan ini menegaskan bahwa melalui pendidikan membuka peluang untuk melakukan perubahan.

Dari proses pendidikan lahirlah ilmu pengetahuan, yang memberi manusia kekuatan untuk mengubah nasibnya sendiri. Karena itu, pendidikan tidak hanya sebatas sarana penunjang demi mengejar gelar. Ia adalah praksis pembebasan yang menumbuhkan kesadaran kritis dan keberanian untuk mentransformasi realitas. Dalam posisi inilah, pendidikan memerlukan keberanian untuk berpikir secara merdeka, keteguhan untuk terus melangkah, dan ketahanan menghadapi keraguan serta kesulitan yang tidak jarang datang silih berganti.

Namun realitas pendidikan masih jauh dari kenyataan sosial yang kita hadapi. Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi persoalan yang nyata, Banyak di antara mereka yang harus memendam impian karena terbentur keterbatasan ekonomi, ketimpangan, serta sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada kelompok rentan. Survei Deloitte Global (2025) mencatat bahwa 31% generasi Z dan milenial di seluruh dunia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, dengan 39% di antaranya menyebutkan faktor biaya sebagai kendala utama. Angka ini tidak hanya mencerminkan statistik, tetapi ini menggambarkan kebijakan yang masih belum merata sehingga belum menjamin bahwa pendidikan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali.

Di tengah ketimpangan dan tekanan hidup yang terus berlanjut, harapan terhadap pendidikan tetap hadir, walaupun sering naik turun. Setiap individu menyimpan mimpi untuk mengakses pendidikan yang layak sebagai bekal menata masa depan. Tetapi harapan itu sering kali berbenturan dengan realitas yang menimbulkan rasa ragu, pesimis, bahkan keputusasaan. Tidak sedikit yang akhirnya menganggap pendidikan sesuatu yang terlalu sulit untuk digapai. Dalam situasi seperti ini, semangat untuk terus berjuang menjadi hal yang sangat penting Pendidikan harus dipahami bukan sebagai jalan pintas menuju sukses, tetapi sebagai proses panjang untuk membuka peluang merubah diri dan kehidupan masa depan. Imam Asy-Syafi’i pernah mengingatkan, "Belajarlah, karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu." Kalimat ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah dalam proses belajar adalah bagian dari gerak besar untuk bangkit dan membentuk diri.

Kegelisahan terhadap masa depan dan ketidakpastian hasil dari perjuangan menuntut ilmu sering kali melahirkan kecemasan terutama bagi generasi muda. Mereka bertanya-tanya, apakah semua usaha yang telah dan akan mereka tempuh dalam pendidikan benar-benar akan membuahkan hasil? Dalam pusaran pertanyaan seperti itu, pemikiran Buya Hamka menghadirkan cahaya yang menuntun jalan. Ia menulis, “Pikiran untuk berhasil bukanlah yang utama, namun niat dan keinginan untuk mencoba harus lebih diutamakan. Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.” Pesan ini memberikan sudut pandang baru bahwa pendidikan bukan semata kompetisi untuk menang, melainkan medan untuk tumbuh, jatuh, bangkit kembali, dan menemukan makna sejati dari proses itu sendiri.

Refleksi Pemikiran Buya Hamka

Dalam refleksi pemikirannya, Buya Hamka tidak memandang pendidikan hanya sebagai sarana meraih prestasi akademik, gelar, atau status sosial. Pendidikan, menurutnya, adalah proses pembentukan batin yang membebaskan manusia dari ketidaktahuan, menumbuhkan akhlak yang luhur, dan memperkuat fondasi moral di tengah krisis nilai yang kian mengkhawatirkan. Di tengah runtuhnya integritas publik, pendidikan sejati harus melahirkan manusia yang utuh yakni mereka yang tajam secara nalar, dewasa secara emosional, dan matang secara spiritual. Pendidikan tidak bisa berhenti sebagai alat mobilitas vertikal semata, melainkan harus menjadi jalan untuk memberdayakan, memanusiakan, dan membangkitkan kesadaran kolektif.

Buya Hamka juga menempatkan pendidikan sebagai bagian dari perjalanan spiritual manusia. Pendidikan, dalam pandangannya, bukan hanya proyek duniawi, tetapi jalan untuk mengenal Tuhan, menyucikan akhlak, dan menjalani kehidupan yang diridai oleh-Nya. Ia percaya bahwa ilmu tanpa akhlak ibarat kapal besar yang kehilangan arah berlayar dengan kekuatan, tetapi tanpa tujuan yang pasti. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek kognitif atau teknis belaka, tetapi harus merambah ke dimensi nilai dan makna, menuntun manusia untuk sadar akan arah hidupnya. Di sinilah pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga mencerahkan.

Dengan pandangan yang demikian mendalam, setiap langkah dalam proses pendidikan menjadi sarana menanam harapan di ladang kehidupan yang gersang oleh ketidakpastian. Jalan menuju pembebasan melalui pendidikan memang tidak selalu mulus. Ia bisa penuh batu, duri, dan kerikil, tetapi setiap tapak yang dilalui mengandung nilai yang membentuk keteguhan dan keberanian. Semakin seseorang memahami pendidikan sebagai perjuangan yang bersifat spiritual dan kolektif, semakin besar pula kemampuannya untuk membentuk jati diri dan memperbaiki nasib bangsanya. Maka pendidikan sebagai jalan perubahan bukan sekadar proyek individu, tetapi proyek kemanusiaan yang menuntut gotong royong, kepedulian, dan keberanian untuk terus mencoba meski berkali-kali menemui kegagalan.

Dalam semangat itu, pemikiran Buya Hamka tentang pendidikan menjelma sebagai pengingat yang terus relevan di segala zaman. Ia tidak sekadar mengajak manusia untuk menjadi cerdas, tetapi juga untuk menjadi sadar dan bertanggung jawab. Pendidikan, dalam makna yang paling mendalam, bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan hidup yang penuh kesadaran. Di setiap tapaknya, selalu tumbuh peluang untuk membebaskan manusia dari ketakberdayaan dan membentuk pribadi yang merdeka dalam berpikir, berakhlak, dan bertindak dengan nurani.