Konten dari Pengguna

Peranan Manajemen Sumber Daya Alam dalam Relawan Penanggulangan Bencana

Nanda Daffa Farros

Nanda Daffa Farros

Mahasiswa Akuntansi UMM

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda Daffa Farros tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia merupakan negara kepulauan, yang mana dikeliling oleh gunung berapi aktif atau bisa disebut ring of fire (cincin api). Gunung berapi aktif ini membentang dari Sabang sampai Merauke. Masyarakat Indonesia sendiri hidup berdampingan dengan bencana alam seperti tsunami, gempa, gunung berapi, banjir, tanah longsor dan bencana alam lainnya. Tak heran jika Indonesia merupakan negara yang sering terjadi bencana, baik bencana alam maupun buatan. Indonesia juga terletak di garis khatulistiwa, yang berdampak pada iklim dan perubahan musim yang memicu terjadinya bencana alam seperti angin puting beliung, banjir, kekeringam, dan kebakaran hutan. Keadaan geografis Indonesia rawan terhadap bencana, khususnya banjir dan perubahan iklim. Selain itu, Indonesia merupakan zona subduksi lempeng dunia, yang berdampak menjadi sumber gempa di Indonesia dan tsunami.

Awal tahun 2021 wabah covid-19 di Indonesia belum juga mereda dan terus memakan korban baik masyarakat biasa maupun tenaga medis. Kabar duka kembali menyelimuti Indonesia pada hari Sabtu (9/1/2021) pesawat Sriwijaya Air SJ 182 jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. Peristiwa tersebut membuat berbagai pihak turun tangan untuk mencari hilangnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, Rescue Diver Team (tim penyelamat penyelam) merupakan salah satu tim yang ikut turun ke lapangan. Akan tetapi, pada persitiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ini tidak semua relawan bisa turun ke tempat kejadian. Tim penyelamat sendiri dilengkapi dengan tangki oksigen, kompresor, dan alat khusus untuk mendeteksi puing-puing pesawat. Hal ini dikarenakan dalamnya perairan Kepulauan Seribu dan banyaknya lumpur sehingga membutuhkan kemampuan khusus dibidangnya.

Pencarian puing dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 belum selesai, Indonesia kembali berduka lantaran banjir, gunung meletus, serta longsor terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengatakan pada bulan Januari, Februari, Maret 2021 Indonesia memiliki potensi lebih tinggi terjadi bencana. Sehingga masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan berhati-hati untuk menghadapi potensi bencana baik dari faktor iklim, cuaca, ataupun musim. Bencana yang terjadi pada Januari 2021 ini meliputi, banjir di Kalimatan Selatan, Barat, Utara, puting beliung di Cirebon, tanah longsor di Sumedang, erupsi gunung semeru dan merapi, gempa bumi di Sulawesi Utara. Bencana-bencana tersebut membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memiliki kendala berupa kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang berketrampilan khusus dalam mitigasi bencana.

Tahun 2010 BNPB pernah mengadopsi sistem manajemen bencana berbasis teknologi. Sistem tersebut bekerja sama dengan lembaga swadaya organisasi sosial, dan sukarelawan. Akan tetapi sistem manajemen bencana berbasis teknologi tidak berjalan efektif. Hal tersebut dikarenakan kurangnya fasilitas teknologi. Sehingga BNPB membenahi sumber daya manusia untuk kedepannya. Meskipun BPBD ada di setiap daerah, Indonesia rawan terjadi bencana sehingga penanganan setiap bencana berbeda antar daerah.

Untuk menanggulangi kendala BNPB dalam kurangnya SDM, maka diperlukan peranan manajemen sumber daya manusia untuk mengatasinya. Manajemen sumber daya manusia sendiri merupakan perencanaan, pengorganisasian pengarahan, dan pengawasan kegiatan, pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintragasian, pemeliharaan, dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi dan masyarakat (Flipo, 1989). Untuk meningkatkan kualitas SDM dalam peranan relawan penanggulangan bencana dengan cara yaitu, melakukan pelatihan tujuannya untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan pada individu tersebut agar penempatannya sesuai. Cara yang kedua dengan pendidikan, tujuannya untuk meningkatkan kerja yang bersifat formal sehingga bisa berhubungan langsung dengan penempatan kerja. Selanjutnya melakukan pembinaan, selain untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan juga agar calon relawan mengetahui sebab dan akibat yang terjadi di lapangan. Selain itu, memberikan kesempatan kepada relawan untuk mengeluarkan ide atau pendapat dari mereka. Yang terakhir memberikan penghargaan kepada relawan yang sudah bekerja keras, tujuannya meningkatkan semangat kerja mereka.