Perlukah Skripsi? Proyek Nyata Dinilai Lebih Siapkan Mahasiswa di Dunia Kerja

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syalwa Kaifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ribuan mahasiswa Indonesia setiap tahun harus menyelesaikan skripsi, namun banyak yang mempertanyakan apakah skripsi masih relevan atau hanya menjadi beban administratif. Di sisi lain, proyek nyata seperti magang atau penelitian industri dianggap lebih menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja sesungguhnya. Di tengah ketatnya jadwal kuliah dan tuntutan tugas lain, tak jarang mahasiswa merasa skripsi hanya menjadi kewajiban yang harus diselesaikan secepatnya.
Skripsi Bisa Dibeli? Esensi Akademik Dipertanyakan
Salah satu fenomena yang mengkhawatirkan adalah semakin maraknya praktik penjokian skripsi. Di dunia maya, kita dapat dengan mudah menemukan iklan jasa pembuatan skripsi yang menawarkan pekerjaan “cepat dan mudah” untuk mahasiswa yang ingin lulus tanpa perlu banyak usaha. Menyerahkan tugas akhir kepada orang lain, bahkan membeli skripsi yang sudah jadi, bukanlah hal yang asing lagi bagi sebagian mahasiswa.
Ironisnya, skripsi yang seharusnya menjadi hasil karya ilmiah dan bukti kompetensi mahasiswa, justru berbalik menjadi ajang untuk memperdagangkan gelar. Praktik semacam ini mengaburkan esensi dari pendidikan tinggi itu sendiri: bukan hanya sekadar mendapatkan gelar, tetapi bagaimana kita mampu memberikan kontribusi intelektual terhadap pengetahuan yang ada. Jika skripsi bisa dibeli, apakah gelar sarjana yang didapatkan benar-benar mencerminkan kemampuan akademik seseorang?
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengkritik sistem skripsi di Indonesia yang terlalu menekankan aspek prosedural, seperti ketebalan halaman, dibandingkan substansi dan dampak penelitian. Beliau mencontohkan bahwa karya ilmiah seperti General Theory of Relativity oleh Albert Einstein hanya terdiri dari beberapa halaman namun memiliki dampak besar. Stella juga menyoroti bahwa jurnal-jurnal ilmiah terkemuka seperti Nature dan Science justru membatasi jumlah halaman publikasi, menekankan kualitas dan dampak daripada panjang dokumen . Beliau mendorong agar perguruan tinggi di Indonesia lebih fokus pada kualitas dan relevansi penelitian, serta membangun ekosistem riset yang mendukung kolaborasi antara akademisi dan industri, dengan pendanaan yang tidak hanya bergantung pada APBN .
Lalu, apakah skripsi yang kita buat benar-benar berdampak pada pengembangan pengetahuan? Dalam banyak kasus, kita sering mendengar bahwa hasil penelitian skripsi jarang dimanfaatkan oleh masyarakat. Bahkan, banyak dari hasil skripsi yang hanya terperangkap di ruang arsip kampus dan tidak pernah dibaca lagi setelah sidang.
Bandingkan dengan sistem pendidikan di luar negeri yang lebih fleksibel. Di banyak negara maju, mahasiswa tidak hanya disyaratkan untuk menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir. Sebagai alternatif, mahasiswa bisa memilih untuk melakukan proyek penelitian lapangan, magang, atau membuat artikel ilmiah yang dapat langsung diterbitkan di jurnal atau dipresentasikan di konferensi. Model ini tidak hanya lebih relevan, tetapi juga lebih berdampak langsung pada masyarakat dan industri.
Lantas, apakah skripsi masih perlu dipertahankan? Mungkin sudah saatnya kita mempertimbangkan alternatif sistem penilaian kelulusan yang lebih beragam. Kampus-kampus di luar negeri telah menunjukkan bahwa kita bisa mengganti tugas akhir berupa skripsi dengan bentuk-bentuk lain yang lebih praktis, seperti proyek sosial, penelitian berbasis industri, atau magang yang lebih terstruktur.
Kemenristekdikti bahkan sudah mulai memperkenalkan sistem kampus merdeka, yang memberikan lebih banyak kebebasan bagi mahasiswa untuk memilih jenis tugas akhir sesuai dengan minat dan kebutuhan pasar kerja. Kampus seharusnya tidak hanya menilai mahasiswa berdasarkan kemampuan mereka menulis di kertas, tetapi juga kemampuan mereka beradaptasi dengan dunia nyata.
Skripsi yang dulu dianggap sebagai puncak pencapaian akademik kini sering kali dipandang hanya sebagai beban administratif yang menunggu untuk diselesaikan. Jika tujuan pendidikan tinggi adalah untuk membentuk mahasiswa yang berpengetahuan dan kompeten, maka sudah saatnya kita mengevaluasi kembali sistem skripsi yang ada.
Jika skripsi tidak lagi menjadi bukti keilmuan yang sesungguhnya, lalu untuk apa ia dipertahankan? Mungkin sudah saatnya kampus berhenti membuat mahasiswa menulis untuk lulus—dan mulai mengajar mereka menulis untuk berdampak, untuk masyarakat, dan untuk masa depan.
