Konten dari Pengguna

Bisnis Bukan Sekadar Untung, tetapi Juga Amanah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syam Nur Fallah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejumlah orang sedang berbisnis (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-laptop-7869127/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejumlah orang sedang berbisnis (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-laptop-7869127/)

Bagi banyak orang, bisnis selalu dikaitkan dengan keuntungan. Semakin besar omzet dan laba, semakin sukses sebuah usaha. Mencari keuntungan tentu bukan hal yang salah. Namun, dalam Islam, bisnis tidak hanya soal berapa banyak uang yang didapat, tetapi juga bagaimana uang tersebut diperoleh. Cara menjalankan usaha menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 29: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang untuk berdagang dan mencari keuntungan. Namun, keuntungan tersebut harus diperoleh melalui transaksi yang benar dan saling rela. Jadi, yang menjadi persoalan bukan sekadar mencari untung, tetapi jangan sampai keuntungan itu didapat dengan merugikan orang lain. Kejujuran dalam Bisnis Karena itu, kejujuran menjadi salah satu dasar penting dalam menjalankan usaha. Seorang penjual perlu menyampaikan kondisi produk sesuai kenyataan, termasuk harga, kualitas, dan kekurangannya. Konsumen tentu akan lebih percaya kepada penjual yang terbuka daripada penjual yang hanya berusaha membuat produknya terlihat sempurna. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 70: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” Dalam dunia bisnis, perkataan yang benar dapat diwujudkan dengan memberikan informasi apa adanya dan tidak membuat janji yang tidak bisa dipenuhi. Mungkin terlihat sederhana, tetapi kejujuran seperti inilah yang perlahan membangun kepercayaan konsumen. Adil dalam Setiap Transaksi Kejujuran saja belum cukup. Dalam transaksi, kedua pihak juga perlu mendapatkan haknya secara adil. Penjual berhak memperoleh keuntungan, sedangkan pembeli berhak mendapatkan barang atau jasa sesuai dengan kesepakatan. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ma'idah ayat 8: اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Keadilan dalam bisnis tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hasil yang sama. Keadilan lebih kepada memberikan sesuatu sesuai dengan hak dan kesepakatan. Misalnya, memberikan harga yang jelas, menjelaskan kondisi produk, serta tidak memanfaatkan ketidaktahuan konsumen hanya demi mendapatkan keuntungan lebih besar. Amanah di Era Digital Nilai kejujuran dan keadilan semakin penting ketika bisnis mulai banyak dilakukan secara digital. Sekarang, seseorang bisa menawarkan barang melalui media sosial atau marketplace tanpa harus bertemu langsung dengan pembeli. Transaksi menjadi lebih cepat dan mudah, tetapi risiko kecurangan juga tetap ada. Foto produk yang tidak sesuai, ulasan palsu, atau informasi yang sengaja dibuat menyesatkan merupakan beberapa contoh yang bisa merugikan konsumen. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim). Hadis tersebut mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak mengubah nilai dasar dalam berbisnis. Cara berjualan boleh berubah, tetapi kejujuran tetap harus dijaga. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memudahkan orang dalam bertransaksi dan memberikan pelayanan yang lebih baik, bukan untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar. Pada akhirnya, keuntungan memang dibutuhkan agar sebuah usaha dapat bertahan dan berkembang. Namun, keberhasilan bisnis tidak hanya dapat dilihat dari besarnya laba. Kepercayaan konsumen, hubungan yang baik, dan cara memperoleh keuntungan juga menjadi bagian penting dari sebuah usaha. Dalam Islam, bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga dijalankan dengan jujur, adil, dan amanah.