Bahasa dan Gender Dalam Budaya Patriarki

Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta
Tulisan dari Syamsiatul Mu'arifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
keyword (bahasa, gender, laki-laki, perempuan, budaya patriarki)
Bagaimana sih perkembangan bahasa dalam kehidupan sosial? Yuk mari kita bahas, nah.. Dalam kehidupan sosial, setiap individu baik laki-laki maupun perempuan tentu mempunyai keinginan dapat berbahasa dengan baik, mengapa? Karena bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang digunakan sejak dahulu. Bahasa ini juga digunakan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang ada di dalam hati dan pikiran individu. Setiap individu yang telah lahir ini secara tidak langsung mempunyai bahasanya masing-masing. Jadi dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa setiap individu dapat tumbuh di lingkungan yang sama, tetapi memiliki bahasa yang berbeda-beda. Melalui bahasa yang digunakan, seseorang dapat mengetahui asal individu itu. Demikian dengan laki-laki dan perempuan merupakan dua insan yang berbeda.
Apasih gender itu??
Gender secara umum biasanya dimaknai sebagai sosok laki-laki dan sosok perempuan dari segi fisiknya. Gender ini juga mempunyai kefokusan pada peran serta ketertarikan antara kebutuhan laki-laki maupun perempuan.
Di dalam gender ini banyak studi atau kasus yang menganggap bahwa gender itu sebagai wadah para perempuan untuk meningkatkan derajat seperti yang dimiliki oleh laki-laki. Maka dari itu banyak disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu, terutama pada bidang politik. Mengapa? Karena zaman sekarang mayoritas pemimpinnya adalah perempuan.
Gender ini berbeda sekali dengan jenis kelamin dan gender itu bukanlah jenis kelamin. Gender ini memuat perbedaan antara peran sosial dan fungsi antara laki-laki dengan perempuan. Pengetahuan tentang gender ini dapat dikatakan tinggi apabila masyarakat tidak membedakan peran sosial dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Begitupun dengan sebaliknya pengetahuan gender dapat dikatakan rendah apabila masyarakat masih membedakan peran sosial dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nah, gender dalam kehidupan bermasyarakat ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat tentang gender itu sendiri.
Bisa dilihat bahwa seorang laki-laki maupun perempuan biasanya memiliki karakter bahasanya masing-masing. Faktanya perempuan lebih banyak menghabiskan sebuah kata-kata dibandingkan laki-laki. Selain itu, topik pembicaraan perempuan dan laki-laki juga berbeda. Laki-laki biasanya cenderung membahas mengenai olahraga, politik, dan teknologi sedangkan perempuan biasanya cenderung membahas tentang kehidupan, makanan, dan fashion.
Apakah bahasa mempunyai keterkaitan dengan gender? Ya betul sekali, bahwa bahasa mempunyai kaitan yang sangat erat dengan gender yang ada di masyarakat. Mengapa? Karena perempuan biasanya mengalami diskriminasi bahasa yaitu bagaimana cara mengajari menggunakan bahasa dan umumnya bahasa memperlakukan perempuan itu sendiri. Hal ini dapat mengakibatkan perbedaan antara laki-laki mempunyai posisi yang kuat dan lebih dominan sedangkan perempuan tergolong lebih lemah lembut dan terbatas. Disisi lain laki-laki juga sering diposisikan sebagai manusia yang menang sedangkan perempuan sering diposisikan sebagai pengalah dan harus menerima.
Apa sih patriarki itu?
Patriarki adalah sebuah pemikiran yang menganggap bahwa laki-laki ditakdirkan untuk mengatur perempuan dengan mendominasi, menindas dan mengeksploitasi. Misalnya di dalam keluarga terdiri dari ayah, ayah ini yang biasanya mengatur segala apapun dan sekaligus kepala keluarga terhadap istri dan anak-anaknya. Ada beberapa pandangan bahwa dikalangan masyarakat ini meyakini adanya gelar, bagimana maksudnya? Seorang laki-laki mempunyai gelar sarjana sedangkan perempuan hanya SMA, laki-laki tersebut akan memiliki posisi yang istimewa sehingga dapat berkuasa sesuai dengan keinginannya.
Bisa dilihat bahwa seorang perempuan biasanya lebih santun daripada seorang laki-laki, perempuan lebih condong ke hal-hal yang sensitif yang berkaitan dengan kebutuhan, banyak menggunakan sebuah gaya bahasa yang terpacu pada keraguan, kesementaraan, dan kesopanan. Hal diatas dapat disimpulkan bahwa perempuan secara umum akan berbicara dengan formal dan lebih sopan, karena perempuan secara kultural mempunyai status sekunder terhadap laki-laki.
Dalam kesantunan berbahasa ini juga bergantung kepada aspek sosial-budaya, norma, dan nilai aturan suatu tempat. Nilai aturan suatu tempat ini dapat berbeda budayanya dengan budaya lain dan diperlukan sebuah strategi agar suatu komunikasi berjalan dengan baik sehingga tidak membuat orang lain sakit hati.
Fenomena yang terjadi di masyarakat misalnya seorang laki-laki dalam percakapan sehari-hari akan mengeluarkan bahasa kasar bahkan menggunakan bahasa yang vulgar dibandingkan dengan perempuan. Sebagai contoh bahwa laki-laki dalam memanggil nama temannya sendiri menggunakan panggilan nama yang kotor bahkan tergolong tidak sopan. Berbeda dengan seorang perempuan yaitu dengan nama atau sebutan kata-kata yang romantis seperti kepada kekasihnya yaitu dengan kata “beb, bund, atau yang lainnya”.
Dilihat dari segi karakter, perempuan tergolong lebih lembut sehingga menggunakan bahasa yang sewajarnya sedangkan laki-laki berbicara secara to the point tanpa memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Selain itu laki-laki juga berbicara dengan gaya yang langsung pada poin yang ingin disampaikan dan tidak beranggapan bahwa bahasa yang dikeluarkan layak atau tidak untuk diucapkan.
Sementara perempuan lebih banyak mempunyai sifat malu dan tidak merasa bebas dalam melakukan penggunaan bahasa. Perempuan cenderung menggunakan bahasa tidak langsung. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena perempuan lebih suka dengan basa-basi terlebih dahulu sebelum menuju apa pokok yang ingin disampaikan.
Selain hal itu ditemukan bahwa gaya percakapan laki-laki lebih suka memakai istilah-istilah baru, menggunakan bahasa yang pasaran (banyak digunakan oleh orang), dan kata-kata yang seenaknya sendiri. Sementara perempuan biasanya lebih bebas dan teliti dalam berbicara dengan siapapun.
Seorang laki-laki biasanya lebih dominan berbicara daripada perempuan, perempuan bisa memperhatikan sebuah percakapan dengan tidak mendahului atau memotong pembicaraan orang lain. Berbeda jika sesama dengan jenis kelamin akan sering mendahului pembicaraannya dan memulai berbicara yang dapat menghabiskan waktu lebih banyak. Rata-rata seorang perempuan mempunyai sifat cerewet dan suka berbicara jika lawan bicaranya itu nyaman dalam dalam berbicara sehingga dapat berjalan berjam-jam hingga lupa waktu.
