Konten dari Pengguna

Ilmu Pengetahuan Kehidupan: Petani, Nelayan dan Pelaut Ilmuwan yang Tanpa Gelar

Syamsul Nurip Hidayat

Syamsul Nurip Hidayat

Saya sebagai mahasiswa aktif dari Intitut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta Prodi Manajemen dan aktif dibawah bidang Riset Pengembangan dan Keilmuan (Lensamu) di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah FEB ITB AD Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syamsul Nurip Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ilmu bukan hanya milik akademisi. Petani memahami tanah, nelayan membaca bintang, dan pelaut menafsir angin – jauh sebelum buku sains tebal ditulis.”

~ Neneng Rosdiyana

ilustrasi ilmu pengetahuan kehidupan sumber: chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi ilmu pengetahuan kehidupan sumber: chatgpt.com

Pernahkah bertanya, bagaimana seorang petani tahu musim tanam tiba? Atau bagaimana nelayan menentukan arah kapal tanpa GPS? Atau kenapa para pelaut dahulu dapat menebak cuaca hanya dari awan dan angin?

Tan Malaka di Madilog-nya menyebut bahwa sains sejatinya adalah cara berpikir tentang alam, bukan sekadar teori dalam buku tebal. Artinya, siapa pun yang mampu mengobservasi, menyimpulkan, dan mempraktekkan pemahaman itu layak disebut sebagai ilmuwan, mau dari sebuah akademisi atau bukan.

Bentuk Ilmu Pengetahuan dari Pengalaman Sehari-hari

  • Petani merasakan musim lewat tekstur dan aroma tanah, serta suara serangga dan pola pertumbuhan tanaman yang bukan hanya tau di kalender.

  • Nelayan menampilkan kejeniusan lokal yaitu dengan mereka membaca posisi bintang dan pola ombak, memahami arus laut yang berubah seiring bulan dan musim.

  • Pelaut tradisional meramal cuaca dari warna awan, arah angin, dan keseimbangan gelombang laut sebelum meteorologi ada.

Ketiganya mempraktikkan ilmu alami dan indigenous knowledge yang dibangun dari generasi ke generasi.

Mengapa itu semua adalah Sains?

Cara berpikir mereka yang mirip dengan ilmuwan, antara lain:

1. Observasi teratur , petani rutin melihat kondisik tanah, nelayan awasi pola arus, pelaut pantau cuaca.

2. Hipotesis lokal, sebuah pengalaman yang “Jika tanah berminyak, hujan dekat” dan “bintang bintang tertentu menunjukkan arah angin.”

3. Verifikasi praktis, bisa di buktikan dari hasil panen, perjalanan laut yang aman, atau hari tiba-tiba badai.

Karena sains adalah proses menemukan pola dan hubungan sebab-akibat, maka kebijakan kehidupan mereka adalah sains dalam aksi yang tidak hanya saja tidak ditulis atau dipatenkan tetapi mereka praktekan.

Pengetahuan Lokal dalam Ancaman

Sayangnya, ilmu seperti ini kerap dianggap tidak sah karena tidak formal. Kita sering terlalu sibuk mengagungkan sains Barat dan hasil akademik, sambil melupakan bahwa masyarakat kita punya warisan pengetahuan yang teruji ribuan tahun.

Globalisasi, pendidikan formal yang seragam, dan modernisasi seringkali menggeser posisi ilmu lokal. Anak petani lebih diajarkan rumus kimia daripada cara membaca kelembaban tanah. Anak nelayan lebih paham GPS daripada bintang. Tentu tidak salah, tetapi akan sangat merugi jika yang lama ditinggalkan begitu saja.

Ilmu Formal dan Lokal Tak Harus Bertentangan

Penting disadari, ini bukan soal menolak modernitas. Bukan pula glorifikasi romantis terhadap masa lalu. Justru, ini ajakan untuk merangkul dua jenis ilmu: yang formal dan yang kontekstual. Bayangkan jika seorang agronom lulusan universitas bekerja sama dengan petani lokal yang mengenal karakter tanahnya. Bayangkan jika data satelit laut digabungkan dengan intuisi nelayan yang terbentuk dari pengalaman.

Dalam dunia pertanian, kesehatan masyarakat, bahkan perubahan iklim, pengetahuan lokal bisa menjadi jawaban atas tantangan yang tidak bisa dijawab hanya oleh sains formal. Sebab ia hidup di realitas, bukan hanya di laboratorium.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  • Dokumentasi Pengetahuan Lokal

Akademisi dan peneliti perlu terjun langsung ke masyarakat, mendokumentasikan pengetahuan lokal secara ilmiah. Tidak untuk menggantikan, tapi untuk mengakui dan melestarikan.

  • Inklusif dalam Pendidikan

Sekolah dan universitas perlu membuka ruang untuk mengenalkan ilmu berbasis lokal. Tidak hanya teori, tapi praktik-praktik lapangan yang sudah terbukti bekerja selama ratusan tahun.

  • Meningkatkan Kepercayaan Diri Generasi Lokal

Anak-anak petani, nelayan, dan pelaut harus diajarkan bahwa pengetahuan leluhur mereka tidak kalah bernilai. Bahwa mereka bukan sekadar “yang ketinggalan zaman”, tapi penjaga pengetahuan ekologis yang sangat penting bagi masa depan.

Penutup

Ilmu sejati adalah proses memahami kehidupan, bukan sekadar menghafal teori. Ia bisa tumbuh dari riset yang rumit, tapi juga bisa tumbuh dari laku harian yang terus diasah oleh waktu. Jika sains adalah cara manusia memahami alam, maka siapa pun yang hidup berdampingan dengannya — dari petani, nelayan, hingga pelaut — adalah murid-murid terbaiknya.

Maka, jangan remehkan ilmu yang tak bersertifikat. Jangan anggap kecil pengetahuan yang tak tercetak. Karena kadang, yang paling bijak tak selalu paling terdengar. Mereka diam, tapi menyatu dengan alam, dengan hidup, dengan ilmu itu sendiri.