Konten dari Pengguna

Tantangan Wanita Dominan dalam Menjaga Hubungan yang Harmonis

syarafina fildzah

syarafina fildzah

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari syarafina fildzah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wanita mandiri : (Sumber: Jcomp on Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita mandiri : (Sumber: Jcomp on Freepik)

Beberapa hari ini, fenomena wanita independen atau wanita dominan semakin mencolok dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan perkembangan positif bagi wanita, di mana potensi yang dimiliki perlu diperhatikan dan dihargai. Wanita yang memiliki sifat dominan sering kali terbentuk dari tuntutan kehidupan yang mengharuskan mereka untuk mengatur berbagai aspek kehidupannya, terutama anak perempuan pertama dalam keluarga. Dominasi dalam konteks hubungan berarti mengambil peran kepemimpinan dengan rasa hormat dan persetujuan bersama, sedangkan mendominasi cenderung melibatkan pengendalian total terhadap pasangan, yang dapat membuat mereka merasa tertindas.

Dominan memimpin dengan rasa saling percaya dan menghargai pendapat pasangan. Contohnya, seorang pasangan dominan mungkin berkata, "Ayo buat rencana makan di luar untuk minggu ini," yang menunjukkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Mendominasi mengendalikan tanpa memberi ruang untuk diskusi, seperti mengatakan, "Kita akan pergi makan di sini minggu ini, tidak perlu berdiskusi." Ini menciptakan ketidakadilan dalam hubungan dan dapat menyebabkan konflik.

"Pemimpin yang bijaksana menyelesaikan masalah, bukan mencari siapa yang salah."

Wanita dominan sering kali memiliki ciri-ciri tertentu. Mudah Marah, mereka cenderung ingin diperhatikan dan keinginannya terpenuhi. Selalu Berpendapat, Mereka tidak mudah menerima pendapat pasangan jika dianggap tidak logis atau berisiko. Percaya Diri, tingkat percaya diri yang tinggi membuat mereka aktif dalam mengatur hubungan. Karakteristik ini menunjukkan bahwa wanita dominan bisa menjadi pemimpin yang baik jika mereka memimpin dengan empati dan saling menghormati.

Sifat feminim dan maskulin pada pria dan wanita merupakan hasil interaksi kompleks dari faktor biologis, psikologis, dan sosial. Secara biologis, hormon estrogen pada wanita sering dikaitkan dengan sifat empati dan kelembutan, sementara testosteron pada pria berhubungan dengan agresivitas. Masyarakat sering menetapkan norma yang membatasi ekspresi individu berdasarkan gender. Stereotip ini dapat menimbulkan tantangan bagi individu yang tidak sesuai dengan harapan tersebut. Penting untuk menyadari bahwa setiap individu memiliki kombinasi sifat feminim dan maskulin yang unik. Dengan memahami perbedaan antara dominasi dan mendominasi serta karakteristik wanita dominan, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat dan saling menghormati. Dominasi yang sehat didasarkan pada persetujuan bersama dan empati, memungkinkan kedua pasangan untuk tumbuh dan berkembang secara bersamaan.