Konten dari Pengguna

Curhat Kepada Sahabat Atau Orang Tua?

Syarief Maulana

Syarief Maulana

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, Fotographer, Editor

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarief Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Designed from Canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Designed from Canva

Manusia sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk membantunya dalam kehidupan sehari - hari, manusia menggunakan sebuah simbol, simbol ini digunakan untuk mengomunikasikan perasanya.

Sebagai manusia kita tak luput dari masalah internal maupun eksternal, yang di mana terkadang kita membutuhkan seseorang untuk bercerita tentang keluh kesah kita yang biasa disebut dengan Curhat.

Curhat atau curahan hati merupakan di mana suatu orang mencoba menceritakan sesuatu kepada orang - orang yang dianggap dekat yang biasanya menceritakan masalah personal.

Curhat menurut ahli psikologis klinis Leon F. Seltzer, Ph.D, Melepaskan emosi yang negatif entah itu amarah, kekecewaan, kesedihan, kecemasan daripada membiarkannya di dalam diri karena jika emosi terus terjadi secara berulang maka akan berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan emosional.

Namun, Sangat disayangkan akhir - akhir ini banyak anak - anak yang lebih memilih curhat kepada sahabatnya dibandingkan kepada orang tua dan cenderung tertutup kepada orang tua. Sebagai seorang anak, Orang tua semestinya sebagai tempat mengadu dan juga berbagi keluh kesah. Karena orang tua yang mengerti isi hati anaknya.

Mengapa itu bisa terjadi? menurut Dr Tan Shot Yen M.Hum diambil dari detik health, “Ketidaknyamanan anak ketika curhat sama orang tua bisa terjadi pada masa tumbuh kembang. Misalnya ada konflik di antara mereka”.

Contohnya, Ketika anak berusaha untuk berkata jujur, Orang tua merespon dengan memarahi sang anak, yang membuat anak menjadi tidak nyaman untuk bercerita.

Hal ini terjadi karena sang anak merasa tertekan , sehingga membuat anak mencari seseorang yang dianggap nyaman untuk bercerita yaitu “sahabat”.

Disaat anak curhat kepada sahabatnya, anak lebih dihargai dan didengar, sehingga anak lebih memilih bercerita kepada sahabat di bandingkan kepada orang tuanya. Disaat anak bercerita kepada orang tua, orang tua sering membandingkan anak dengan orang lain, Sehingga membuat anak merasa tak nyaman bercerita.

Beberapa sumber mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang membuat anak tidak nyaman bercerita kepada orang tua yaitu sebagai berikut :

1. Orang tua enggan mendengar curahan hati anaknya

Banyak orang tua yang tak dapat mengontrol emosi di depan anak - anaknya, hal ini membuat anak lebih dahulu merasa takut untuk bercerita kepada orang tuanya.

2. Takut dihakimi oleh orang tua

Anak selalu takut dihakimi oleh orang tuanya. Anak mengharapkan dia didengar bukan untuk disalahkan hingga dihakimi, sehingga kebanyakan anak saat ini memilih sahabat sebagai tempat berceritanya.

3. Orang tua tak memiliki waktu untuk mengajak anak berbicara

Disaat tertentu anak ingin bercerita kepada orang tuanya. Namun, Orang tua terlalu sibuk dengan urusanya, Sehingga membuat sang anak enggan bercerita kepada orang tua.

Lantas, bagaimana agar anak nyaman cerita kepada orang tua? Menurut saya, dengan pola komunikasi yang benar, bagaimana orang tua merespon anak saat mereka bercerita, tidak membadingkan anak dengan orang lain, dengan mendengar cerita dengan saksama membuat anak nyaman bercerita kepada orang tua, luangkan waktu weekend untuk berkomunikasi dengan anak, sehingga anak yang awalnya enggan bercerita, menjadi terbuka kepada orang tuanya.