Konten dari Pengguna

Pensiun Dini di Aspal Jakarta

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia, universitas syiah kuala

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarifudin Brutu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi izrail dan malik yang pensiun dari pekerjaan asalnya, kini bekerja di ibu kota
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi izrail dan malik yang pensiun dari pekerjaan asalnya, kini bekerja di ibu kota

Oleh: Syarifudin Brutu

Izrail menyandarkan motor matic-nya di depan ruko yang tutup. Jaket hijaunya yang kusam terkena noda knalpot, kontras dengan sayap-sayap metafisika yang dulu ia banggakan namun kini sudah ia tanggalkan di gudang langit. Di sampingnya, Malik—sang mantan pengatur hujan—sedang sibuk mengikat plastik kerupuk jualan yang mulai lempem kena lembap udara Jakarta.

"Zril, narik lagi?" tanya Malik sambil mengusap pelipisnya yang berkeringat.

"Gak, Lik. Rating gue turun gara-gara tadi nganter penumpang yang ngomel sepanjang jalan soal 'penistaan'. Katanya, Tuhan lagi dihina habis-habisan di sosmed, jadi dia buru-buru mau ikut demo biar Tuhan nggak malu. Gue telat semenit nyampe titik jemput, dia bilang gue nggak punya iman," Izrail terkekeh, suara tawanya kering seperti daun jati.

"Baguslah kamu resign jadi pencabut nyawa," Malik mendesah. "Manusia sekarang lebih pro. Kemarin ada yang bunuh karakter temannya lewat grup WhatsApp, ada yang bunuh ekonomi jutaan orang lewat kebijakan titipan, bahkan ada yang bunuh harapan hidup orang miskin cuma lewat satu tanda tangan. Kamu mah apa, Zril? Cuma cabut nyawa satu-satu. Lambat!"

Izrail mengangguk setuju. "Iya, gue merasa gak kompeten lagi. Manusia punya cara yang jauh lebih sistematis. Mereka membunuh tanpa menyentuh. Sangat estetik sekaligus mengerikan."

Di depan mereka, kerumunan massa baru saja bubar. Poster-poster bertuliskan "Bela Tuhan Sampai Mati" berserakan di aspal, diinjak-injak oleh pembuatnya sendiri yang sibuk mencari tukang es cendol karena kehausan setelah berteriak.

"Tadi siang ada yang divonis mati, Lik," ujar Izrail sambil menunjuk ke arah gedung pengadilan di kejauhan. "Katanya tulisannya bikin Tuhan telanjang. Orang-orang itu merasa Tuhan mereka lemah sekali sampai harus dipakaikan baju oleh kemarahan mereka."

Malik tertawa pahit. "Lucu ya? Mereka teriak paling keras kalau Tuhan dihina, tapi mereka yang paling rajin melanggar larangan-Nya. Tadi gue lihat yang demo itu buang sampah ke sungai, padahal kemarin mereka maki-maki gue gara-gara gue turunin hujan sampai Jakarta banjir. Mereka bilang gue pembawa bencana, padahal mereka sendiri yang nyumbat jalannya air."

"Itu dia masalahnya," sela Izrail. "Mereka merasa jadi pahlawan bagi Tuhan yang sebenarnya nggak butuh dibela. Tuhan itu Al-Aziz, Yang Maha Perkasa. Tapi manusia-manusia ini bertindak seolah Tuhan itu selebgram yang bakal depresi kalau kena bully di kolom komentar."

Mereka berdua terdiam melihat sebuah mobil mewah lewat dengan stiker agama di kaca belakangnya. Mobil itu menyerempet gerobak pemulung, lalu kabur begitu saja tanpa rasa bersalah.

"Lihat itu," Izrail menunjuk. "Mereka lebih takut tulisannya dihina daripada perintah Tuhan untuk adil itu dilanggar. Menghina Tuhan lewat tulisan itu pidana, tapi menghina Tuhan lewat perbuatan—seperti korupsi, menindas yang lemah, atau makan hak anak yatim—itu dianggap 'dinamika hidup'."

"Iya, Zril. Dan dalam agama mereka sendiri pun mereka sibuk berantem. Aliran A bilang Aliran B sesat, lalu mereka saling bunuh mental di medsos. Padahal, kalau Tuhan mau, Dia bisa saja bikin mereka semua sama. Tapi manusia ini kan merasa lebih pintar dari Tuhan, jadi mereka merasa punya hak buat menentukan siapa yang masuk surga dan siapa yang harus dikirim ke gue dulu," Malik kembali merapikan kerupuknya.

Malam semakin larut. Cahaya lampu kota Jakarta memantul di genangan air sisa hujan tadi sore. Izrail mengenakan helmnya, bersiap menjemput pesanan nasi goreng milik seorang pelanggan yang mungkin sedang sibuk mengetik makian di Twitter atas nama kesucian.

"Gue balik narik ya, Lik. Ada pesanan di dekat lapas. Katanya buat orang yang mau dieksekusi mati besok karena tulisannya."

Malik menatap Izrail. "Mau kamu titip salam buat Tuhan?"

Izrail menghidupkan mesin motornya. "Nggak usah. Tuhan sudah tahu. Tuhan lagi nonton komedi yang dibuat manusia. Komedi tentang semut yang merasa bisa melindungi matahari dari debu, padahal matahari nggak peduli sama sekali."

Izrail memacu motornya, hilang di tengah kemacetan Jakarta, meninggalkan Malik yang masih setia menjual kerupuk di bawah langit yang mendung—langit yang kini tak lagi ia atur, karena manusia lebih suka mengatur Tuhan daripada mengatur diri mereka sendiri.