1 dari 2 Pekerja Indonesia Bakal Tetap Kerja Setelah Pensiun

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pensiun itu bukan berarti berhenti kerja dana nggak ngapa-ngapain. Sebab pensiun sejatinya kita tetap punya aktivitas (kerja) namun mampu menikmati hidup. Tidak lagi “ngoyo” kerja keras seperti saat masih muda. Jadi, kurang tepat bila pensiun dimaknai “nggak ngapa-ngapain”. Justru saat pensiun, kerja sebtasa aktualisasi diri sambil menjalani keseharian secara rileks. Maklum udah nggak muda lagi, fisik makin terbatas.
Lalu, gimana sih tren pensiun secara global? Ternyata, di berbagai negara, survei membuktikan banyak orang berencana untuk tetap bekerja meskipun sudah memasuki usia pensiun. Di Indonesia, lebih dari separuh penduduknya masih berniat untuk tetap bekerja. Survei tren pensiun global (HSBC, 2024) menegaskan perbandingan tren di Indonesia dengan negara-negara lainnya:
1. Di Indonesia, sebanyak 54% orang menyatakan keinginan untuk tetap bekerja di masa pensiun. Itu artinya, 1 dari 2 pekerja di Indonesia tetap ingin bekerja di masa pensiun.
2. Beberapa negara Asia niat bekerja setelah pensiun justru lebih besar, seperti Taiwan (60%), Singapura (59%), serta India dan Hong Kong (keduanya 58%), dan Uni Emirat Arab (57%).
3. Di kawasan Asia Tenggara, minat bekerja setelah pensiun seperti Singapura (59%), Malaysia (48%), Indonesia (54%)
4. Di negara Barat dan ekonominya maju, penduduk yang berniat tetapbekerja setelah pensiun komposisinya seperri Meksiko 52%, Amerika Serikat 47%, China: 46%, Inggris: 45%.
Artinya, Indonesia menunjukkan tren di mana lebih dari separuh penduduknya untuk tetap produktif bekerja setelah memasuki usia pensiun, melampaui angka di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan China.
Dari hasil survei itu, ada beberapa poin terkait tren pensiun global antara lain:
1. Peralihan paradigma pensiun. Perencanaan finansial untuk masa pensiun atau program pensiun tidak lagi hanya berfokus pada pengumpulan dana untuk berhenti total, melainkan pada strategi untuk menjaga produktivitas dan pendapatan aktif di usia senja.
2. Perbandingan global. Indonesia (54%) memiliki proporsi yang lebih tinggi untuk tetap bekerja dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat (47%) atau Inggris (45%). Bekerja di masa pensiun merupakan bagian integral dari rencana keberlangsungan finansial dan aktualiasi diri.
3. Fleksibilitas dana pensiun. Tingginya minat bekerja ini menunjukkan bahwa strategi finansial di Indonesia mungkin lebih mengandalkan kombinasi antara dana pensiun/hasil investasi/tabungan dengan pendapatan dari pekerjaan sampingan atau bisnis di masa tua.
Khusus di Indonesia, 54% responden tetap berencana untuk bekerja setelah pensiun. Ini berarti, pensiun tidak lagi dianggap sebagai titik akhir aktivitas profesional, melainkan sebuah masa transisi menuju bentuk pekerjaan yang lebih fleksibel atau berbeda. Pekerja Indonesia perlu mulai memikirkan jenis pekerjaan apa yang ingin atau bisa mereka lakukan di usia senja. Karena itu, diperlukan pentingnya keberlanjutan keterampilan (skill sustainability) yang cocok untuk hari tua, di samping kesiapan fisik dan kesehatan haru smenjadi perhatian. Agar keinginan untuk tetap bekerja tetap didukug oleh fisik dan Kesehatan yang memadai.
Mak jelas, strategi keuangan setiap orang pun akan berbeda saat memasuki pensiun. Di situlah, dana pensiun atau DPLK sebagai “kendaraan” untuk perencanaan keuangan hari tua perlu lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi pekerja. Produk dana pensiun harus sesuai dengan aspirasi pekerja, termasuk cara bayar manfaat pensiun secara sekaligus atau bulanan.
Dan bagaimana pun kondisi yang diinginkan di hari tua, tentu dana pensiun seharusnya menjadi prioritas untuk disiapkan setiap pekerja. Kuncinya, ada di edukasi dan akses digital untuk memiliki dana pensiun seperti DPLK. #YukSiapkanPensiun #edukasiDPLK #DPLKSAM
