Konten dari Pengguna

10 Industri yang Memburu Pekerja Kreatif di Era 2025-2030

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital yang terus berkembang, kemampuan berpikir kreatif menjadi salah satu kompetensi yang paling dibutuhkan di dunia kerja. Perubahan teknologi dan semakin kompleksnya berbagai permasalahan menuntut individu untuk tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menghasilkan ide-ide baru, menemukan solusi inovatif, dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Oleh karena itu, pencari kerja yang memiliki kemampuan berpikir kreatif akan memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi di pasar tenaga kerja.

Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) bertajuk Future of Jobs Report 2025, kemampuan berpikir kreatif jadi salah satu kemampuan dengan pertumbuhan permintaan terbesar pada lima tahun ke depan. Pertumbuhan kemampuan berpikir kreatif berada di urutan keempat dengan pertumbuhan sebesar 66%, di bawah kemampuan literasi teknologi, keamanan siber dan jaringan, serta AI dan Big Data.

Laporan WEF menyebutkan adanya proyeksi 10 sektor pekerjaan yang diprediksi akan mengalami lonjakan kebutuhan akan kemampuan berpikir kreatif antara tahun 2025 -2030, yaitu: 1) Manajemen asuransi & dana pensiun 86%,, 2) Edukasi & pelatihan 79%, 3) Pelayanan kesehatan 76%, 4) Manufaktur tingkat lanjut 76%, 5) Telekomunikasi 75%,6) Jasa teknologi & informasi 75%, 7) Real estat 73%, 8) Jasa profesional 69%, 9) Transportasi & rantai pasok 69%, dan 10) Produksi barang konsumsi 69%. Bidang manajemen asuransi dan dana pensiun menempati posisi teratas dengan tingkat permintaan tertinggi kreativitas dibandingkan industri lainnya. Sektor-sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan manufaktur lanjut juga menunjukkan ketergantungan yang signifikan terhadap inovasi mental di masa depan. Intinya, informasi ini menekankan bahwa keterampilan kognitif kreatif akan menjadi aset krusial bagi tenaga kerja di berbagai lini profesional. Karenanya, para pencari kerja penting untuk mempersiapkan diri terhadap perubahan dinamika pasar tenaga kerja mendatang.

Kebutuhan akan kreativitas tidak lagi terbatas pada bidang seni atau desain, melainkan telah merambah ke sektor-sektor industri formal dan teknis. Implikasi penting dari temuan World Economic Forum bagi tenaga kerja dan industri antara lain:

1. Perubahan paradigma kerja. Di sektor seperti asuransi dan dana pensiun, berpikir kreatif kemungkinan besar dibutuhkan untuk menciptakan model bisnis baru atau solusi keuangan yang lebih adaptif di tengah ketidakpastian ekonomi.

2. Transformasi dunia pendidikan. Sektor edukasi dan pelatihan berada di posisi kedua tertinggi, yang berarti para pendidik harus mampu berpikir kreatif untuk merancang metode pembelajaran baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.

3. Kreativitas sebagai benteng terhadap otomasi. Isyarat di masa depan (2025–2030), tugas-tugas yang bersifat rutin mungkin akan diambil alih oleh teknologi, sehingga nilai utama manusia terletak pada kemampuan memecahkan masalah secara inovatif (kreatif).

4. Kebutuhan upskilling dan reskilling. Tenaga kerja di semua bidang perlu mengasah kemampuan berpikir lateral dan inovatif agar tetap kompetitif dan relevan di pasar kerja global.

5. Standar baru dalam rekrutmen. Perusahaan di masa depan kemungkinan besar akan memprioritaskan kandidat yang tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga menunjukkan potensi kuat dalam pengembangan ide-ide baru.

Artinya, berpikir kreatif akan menjadi "mata uang" baru yang sangat berharga di berbagai sektor industri dalam beberapa tahun ke depan.

10 industri yang memburu pekerja kreatif

Sebagai contoh, sektor manajemen asuransi & dana pensiun dengan proyeksi kenaikan permintaan berpikir kreatif mencapai angka di atas 85% untuk periode 2025–2030. Hal ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:

• Kompleksitas manajemen risiko baru. Di masa depan, risiko tidak lagi bersifat konvensional. Munculnya ancaman seperti perubahan iklim, serangan siber, dan ketidakpastian geopolitik menuntut para pengelola asuransi untuk berpikir kreatif dalam merancang model perlindungan yang sebelumnya tidak ada.

• Transformasi digital (insurtech). Industri asuransi dan dana pensiun sedang mengalami pergeseran besar menuju penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan data besar. Berpikir kreatif diperlukan untuk memanfaatkan teknologi tersebut dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih personal dan proses klaim yang lebih inovatif.

• Perubahan demografi dan kebutuhan masa tua. Dengan populasi dunia yang menua dan dinamika ekonomi yang berubah, produk dana pensiun tradisional seringkali tidak lagi memadai. Sektor dana pensiun harus kreatif dalam menciptakan skema investasi dan perencanaan masa tua yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap inflasi atau gaya hidup baru.

• Personalisasi produk. Persaingan pasar yang ketat memaksa perusahaan asuransi dan dana pensiun untuk berhenti menawarkan produk "satu ukuran untuk semua". Kreativitas dibutuhkan untuk menyusun paket perlindungan yang unik dan spesifik bagi setiap individu.

Maka prinsip dunia kerja ke depan di era 2025-2030 adalah teknologi akan menyediakan alatnya, sementara kreativitas manusia harus mampu menyediakan cara dan tujuan untuk menggunakan alat tersebut demi menciptakan nilai baru di pasar kerja global. Dan yang tidak kalah penting, siapapun yang bekerja di bidang apapun, harus berani mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Karena cepat atau lambat, pekerja di bidang apapun akan pensiun pada waktunya. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

aplikasi digital DPLK sebagai hasil berpikiri kreatif