55% Pekerja Jabodetabek Tidak Yakin Bisa Penuhi Biaya Hidup di Hari Tua

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah hasil survei persiapan dana pensiun terhadap 100 pekerja di Jabodetabek menyoroti tingkat kepercayaan diri para pekerja dalam menghadapi masa pensiun. Sebanyak 55% pekerja merasa tidak yakin mampu mencukupi kebutuhan ekonomi setelah berhenti bekerja atau pensiun. Sebaliknya, hanya terdapat 45% pekerja yang merasa optimis terhadap kondisi finansial di hari tua. Survei ini menunjukkan adanya kerentanan ekonomi yang signifikan di kalangan pekerja terkait biaya hidup saat pensiun. Artinya, ada risiko masalah keuangan yang membayangi lebih dari separuh populasi pekerja. Ketidakpastian ini menegaskan perlunya perhatian lebih terhadap perencanaan hari tua agar kemandirian finansial pekerja dapat tercapai. Survei bertajuk “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” dilakukan oleh Syarifudin Yunus, peneliti dana pensiun dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) pada Agustus 20205 dan terbit di jurnal ilmiah JiMaKeBiDI (link: https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).
Mengcau pada survei tersebut, maka implikasi risiko keuangan bagi pekerja yang tidak memiliki dana pensiun adalah sebagai berikut:
1. Kerentanan terhadap Masalah Keuangan: Pekerja menjadi sangat rentan terhadap risiko masalah keuangan di hari tua atau masa pensiun.
2. Ketidakpastian Biaya Hidup: Terdapat tingkat ketidakyakinan yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan dasar, di mana 1 dari 2 pekerja merasa tidak yakin dapat memenuhi biaya hidupnya saat masa pensiun tiba atau ketika sudah tidak bekerja lagi.
3. Rendahnya Kepercayaan Diri Finansial: Data menunjukkan bahwa mayoritas pekerja (55%) merasa "Tidak Yakin" dengan keamanan finansial di masa depan, dibandingkan dengan 45% yang merasa yakin.
Tingkat keyakinan pekerja terkait kemampuan memenuhi biaya hidup di hari tua (saat tidak lagi bekerja) menunjukkan kesenjangan yang signifikan yaitu pekerja yang tidak yakin (55%) dan pekerja yang yakin (45%). Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak pekerja yang merasa terancam secara finansial dibandingkan pekerja yang merasa aman di hari tua. Karena itu, beberapa poin penting terkait strategi pekerja untuk menghindari kerentanan di hari tua:
1. Pentingnya dana pensiun/DPLK sebagai langkah utama agar pekerja untuk menjaga kesinambungan penghasilan di hari tua sekaligus menghindari "masalah keuangan” di masa pensiun.
2. Meningkatkan keyakinan finansial dengan berfokus pada upaya-upaya yang dapat mengubah status "Tidak Yakin" menjadi "Yakin" (seperti kelompok 45% lainnya) melalui perencanaan keuangan yang lebih matang, menekan perilaku konsumtif, dan menghindari gaya hidup berlebihan.
3. Kesadaran akan risiko agar terhidndar dari kesulitan memenuhi biaya hidup saat sudah tidak bekerja lagi.
Maka sebagai solusi, pekerja harus mulai berani menabung untuk masa pensiun atau hari tua. Tentu di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online). Karena melalui aplikasi digital, setiap pekerja bisa mendapat edukasi dan akses langusng untuk punya dana pensiun. Pekerja harus terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri, di samping dapat memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).
Jadi, solusi mendasar untuk pekerja adalah memulai atau mengoptimalkan kepemilikan dana pensiun di DPLK. Agar pekerja tidak lagi menjadi kelompok yang "rentan terhadap risiko masalah keuangan" saat sudah tidak bekerja lagi. Mengubah dari tidak yakin menjadi yakin soal urusan finansial di hari tua. #YukSiapkPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK
