Ada Cinta yang Tidak Perlu Dibela Apalagi Disesali

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika pagi diguyur hujan, mendung makin menggelap. Aku terpikir di atas LRT Harjamukti menuju Dukuh Atas. Puluhan wanita, puluhan laki-laki di dalamnya. Tanpa ada rasa cinta, hanya gelora bekerja yang membara.
Sambil terduduk, aku berpikir dan merenung. Siapapun yang pernah bercinta, bahkan mengenali cinta. Pasti, ada cinta yang tidak merasa perlu dibela, apalagi disesali. Itulah fase kedewasaan dalam mencintai. Sebuah cinta yang tenang dan utuh, tanpa perlu dibela. Karena ia tidak lahir dari kesalahan, paksaan, atau rasa bersalah. Cinta yang jujur pada dirinya sendiri. Ia tidak butuh pembenaran di hadapan siapa pun.
Tidak perlu disesali, meski mungkin tidak berakhir bersama cinta itu tetap bermakna. Ia pernah tumbuh dengan tulus, memberi pelajaran, dan membentuk siapa kita hari ini. Cinta yang tidak ribut mencari pengakuan, tidak sibuk membuktikan diri benar. Bahkan cinta yang tidak menyimpan penyesalan, hanya penerimaan. Ia mengajarkan bahwa mencintai bukan soal memiliki atau menang. Tapi soal mengalami dengan sadar dan ikhlas. Jika pun harus dilepas, ia pergi tanpa dendam karena yang tulus tidak meninggalkan luka, hanya jejak makna.
Pasti, ada cinta yang tidak merasa perlu dibela, apalagi disesali. Ia hadir begitu saja, lalu menetap sebagai bagian dari diri. Dalam cinta seperti itu, tidak ada ruang untuk taubat, karena ia tidak pernah dianggap sebagai dosa. Yang ada hanya penerimaan penuh, meski risikonya luka.
Nizar Qabbani, penyair Suriah menyebut tentang keberanian mencintai tanpa rasa malu. Pecinta yang menyesali cintanya sendiri seakan mengingkari bagian paling jujur dari hidupnya. Cinta mungkin menyakitkan, mungkin berakhir, tapi ia tetap pernah tulus. Dan ketulusan, bagi penyair, bukan sesuatu yang perlu dimintakan ampun.
Bisa saja, mencintai memang bisa terlihat bodoh di mata orang lain. Tapi hidup tanpa pernah bodoh demi cinta justru terasa lebih kosong. Ada kegilaan kecil yang membuat hidup terasa nyata. Dan bagi mereka yang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh, kebodohan itu bukan aib, melainkan bukti bahwa hati pernah benar-benar hidup.
Maka jangan tanyakan mengapa aku mencintaimu. Lebih baik ajari aku cara berjalan di bawah rintik hujan matamu, tapi aku tidak basah. Agar cinta itu mengubah kerajaan Tuhan. Hingga senja mengajak tidur di pelaminanku. Selalu ada cinta yang tidak perlu dibela,apalagi disesali. Biarkan ia datang lalu pergi. Karena cinta yang dewasa tidak pernah berisik, tidak defensif, dan tidak menyesali dirinya sendiri.
Dan cinta bukanlah aib, jangan dibela dan jangan disesali.
