Ada Tempat Toxic untuk Disinggahi sebagai Tempat Kerja?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang kawan mengeluh soal tempat kerja, tentang kantornya sendiri. Memang dia baru 4 tahun kerja di kantor itu, setelah resign dari kantor lamanya. Sekalipun belum lama terlalu lama, dia dikenal kompeten dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Tergolong Cuma kontribusi yang signifikan atas job desc yang jadi tanggung jawabnya. Tapi belakangan, hampir semua pekerjaan diserahkan kepada dia. Di situlah, dia merasa tempat kerjanya mulai tidak adil. Dia berpikir sendiri, sepertinya dia dimanfaatkan oleh atasan dan rekan kerjanya sendiri. Kini, dia sering mengeluh dan akhirnya capek sendiri. Begitulah relaitas di dunia kerja.
Banyak karyawan berpikir, semakin kompeten dirinya, semakin aman posisi kerjanya. Akhirnya semua kerjaan diambil. Semua masalah kantor coba diselesaikan, dan semua tanggung jawab diterima tanpa banyak menolak. Dianggap loyal dan berdedikasi sehingga jadi capek sendiri. Padahal, di lingkungan kerja yang toxic, orang yang paling bisa sering jadi orang yang paling dibebani.
Dalam kasus kawan saya tadi. Karena dia dianggap kuat. Dianggap mamppu. Dan dianggap tidak bakal protes walaupun kerjaannya terus ditambah. Sementara rekan kerja lainnya Santai, dia bekerja keras mengerjakan target keraaj setiap harinya. Lama lama, bukannya dihargai sebagai karyawan yang kompeten. Tapi dijadikan “penyelamat keadaan” setiap ada masalah di kantor.
Makanya penting banget untuk setiap karyawan. Belajar mengatur image dan energi di tempat kerja. Bukan berarti pura-pura bodoh atau jadi pemalas. Tapi jangan membiasakan selalu jadi orang pertama yang maju. Apalagi karyawan baru atau belum lama bekerja, jangan terlalu kelihatan jadi problem solver atau dikenal loyal tanpa ada batas. Selalu jadi orang yang menutupi semua kekacauan di kantor. Atau selalu jadi tempat “lempar” tanggung jawab pekerjaan yang bukan bagiannya.
Jadi, jangan terlalu sering menunjukkan semua kemampuan di kerjaan. Jangan sampai dianggap punya kompetensi yang berlebihan. Sebab di tempat kerja toxic, orang kompeten malah jadi sasaran. Semakin keliatan kuat menanggung beban, maka makin banyak kerjaan yang dikasih. Akhirnya, pulang paling malam dan kerja paling lelah. Sementara gaji sama, bahkan bisa lebih kecil dari yang rekan kerjanya yang terlihat lebih santai.
Orang kerja itu butuh sehat dan waras. Karenanya, karyawan di mana pun harus fokus pada kerjaan yang menyehatkan. Tetap menjaga kewarasan di kantor. Kerja dan menjalankan tugas dengan baik, tapi tetap punya batas. Sebab semakin kita kelihatan tidak punya batas, semakin gampang orang lain bremain “politik kantor”. Orang lain yang manfaatin kemampuan kita untuk kepentingan mereka. Kita capek sendiri, yang lainnya asyik-asyik saja. Dan yang paling penting, jangan ukur harga diri kita di kantir dari seberapa banyak orang yang memanfaatkan kita. Atau seberapa banyak orang memuji kita di kantor.
Di kantor mana pun, pasti atasan akan bilang “ini untuk kemajuan bersama di perusahaan. Kita capek kerja dan mental babak belur untuk jadikuat dan tahan banting di kantor”. Tentu, masalahnya bukan di situ. Tapi sikap adil dalam pekerjaan dan bersih dari politik kantor yang berpotensi kotor, Apalagi di lingkungan kerja toxic, siapapun perlu cara dan strategi untuk bikin batas profesional dalam menghadapi atasan yang subjektif dan rekan kerja toxic. Tekanan kerja boleh tinggi tapi mental harus tetap sehat. Kerjaan boleh banyak tapi “bukan dimanfaatkan”untuk kepentingan orang lain. Karena di dunia kerja, terlalu berguna tanpa batas sering bikin kita dijadikan “alat”, bukan dihargai sebagai manusia. Apalagi di kantor yang kasih gaji standar dan tidak punya dana pensiun, tetap saja masa depan belum pasti. Dan saat berhenti bekerja, akibat PHK atau pensiun, kita tetap tidak punya jaminan finansial dan akhirnya bergantung pada orang lain.
Kerja memang harus rajin dan loyal. Tapai harus diingat juga, ada tempat yang terlalu parah untuk disinggahi sebagai tempat kerja. #YukSiapkanPensiun
