Akses Literasi Terbatas, 9 dari 10 TBM Beroperasi 2-5 Hari Seminggu

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Minat baca itu tergantung pada akses. Sebab tanpa akses bacaan sangat sulit mint abaca ditingkatkan. Karenanya, akses literasi masyarakat merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan pendidikan, khususnya pada jalur nonformal. Di situlah pentingnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai sarana strategis dalam menyediakan bahan bacaan serta ruang belajar yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui TBM, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan belajar sepanjang hayat.
Sayangnya, pemanfaatan TBM sebagai pusat literasi masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya terkait keterbatasan akses layanan yang belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan masyarakat. Salah satu faktor yang memengaruhi aksesibilitas TBM adalah waktu operasional. Banyak TBM yang memiliki jam layanan terbatas dan kurang fleksibel, sehingga tidak sesuai dengan pola aktivitas masyarakat yang beragam. Pelajar, pekerja, maupun kelompok masyarakat lainnya seringkali tidak dapat mengakses TBM karena waktu buka yang bersamaan dengan jam sekolah atau jam kerja. Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat kunjungan dan partisipasi dalam kegiatan pembelajaran nonformal, meskipun kebutuhan terhadap akses literasi sebenarnya cukup tinggi.
Keterbatasan waktu operasional juga berdampak pada rendahnya intensitas interaksi masyarakat dengan sumber belajar yang tersedia di TBM. TBM yang tidak mampu menyesuaikan jadwal layanan dengan kebutuhan pengguna cenderung kurang optimal dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran nonformal. Padahal, peningkatan akses literasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan koleksi buku, tetapi juga oleh kemudahan masyarakat dalam mengakses layanan tersebut secara waktu dan kesempatan.
Sebagai sarana pendidikan nonformal, TBM berperan penting dalam menyediakan bahan bacaan, ruang belajar, serta aktivitas literasi bagi masyarakat. Saah satu faktor yang memengaruhi tingkat kunjungan dan jumlah pembaca di TBM adalah waktu operasional. Banyak TBM yang beroperasi pada jam-jam tertentu yang kurang fleksibel, sehingga membatasi akses masyarakat yang memiliki kesibukan pada waktu tersebut. Bahkan tidak sedikit TBM yang beroperasi pada saat ada kegiatan atau kunjungan tamu dari luar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan waktu operasional menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan efektivitas layanan TBM.
Sebuah penelitian yang dilakukan Syarifudin Yunus, pegiat literasi TBM Lentera Pustaka tentang “Optimalisasi Waktu Operasional Taman Bacaan Masyarakat dalam Meningkatkan Akses Literasi dan Partisipasi Pembelajaran Nonformal” menyebutkan terdapat 60% TBM di Indonesia beroperasi antara 2-5 hari dalam seminggu sehingga jumlah pembaca TBM yang tidak optimal. Sebanyak 50% TBM hanya memiliki jumlah pembaca di bawah 30 anak, 39% TBM pembacanya di antara 30-60 anak. Ini berarti 9 dari 10 TBM secara rata-rata pembacanya di bawah 60 anak. Waktu operasional TBM menjadi faktor strategis yang sangat memengaruhi tingkat akses literasi masyarakat terhadap layanan TBM. Waktu layanan yang terbatas dan tidak sesuai dengan pola aktivitas masyarakat dapat menghambat pemanfaatan TBM sebagai sumber belajar.
Fleksibilitas waktu layanan TBM menjadi kunci dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber literasi. Waktu operasional TBM terbukti membatasi akses literasi dan partisipasi pembelajaran nonformal. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan waktu operasional yang lebih efektif, seperti pengaturan jadwal layanan yang fleksibel, pelibatan relawan, serta dukungan komunitas agar TBM dapat berfungsi secara maksimal sebagai pusat literasi dan pembelajaran nonformal yang inklusif serta berkelanjutan bagi masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan kuesioner yang melibatkan sampel 172 pengelola TBM di seluruh Indonesia sebagai responden dan wawancara dengan 3 pengelola TBM. Penelitian bertajuk “Optimalisasi Waktu Operasional Taman Bacaan Masyarakat dalam Meningkatkan Akses Literasi dan Partisipasi Pembelajaran Nonformal” dapat disimak pada Jurnal Pengabdian Masyarakat “Inspirasi” Vol. 4 (1) terbit 30 Maret 2026 dengan link:https://jurnal.kolibi.id/index.php/inspirasi/article/view/371
Selain menjalankan kiprah di TBM, gerakan literasi dan TBM Indonesia ada baiknya melakukan penelitain sebagai bahan evaluasi sekaligus membuat strategi berbasis data/riset. Khususnya untuk optimalisasi waktu operasional TBM sebagai strategi dalam meningkatkan akses literasi dan partisipasi pembelajaran nonformal di masyarakat. Agar ada gambaran mengenai pola waktu kunjungan masyarakat dan pola pelayana TBM yang lebih adaptif dan responsive sehingga TBM dapat berfungsi secara lebih efektif sebagai pusat literasi yang inklusif, serta mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran nonformal secara berkelanjutan. Salam literasi!
