Bacaan Favorit Masyarakat: Kitab Suci 77% & Buku Pengetahuan 24%

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membaca merupakan aktivitas penting yang berperan dalam meningkatkan pengetahuan, memperluas wawasan, dan membentuk pola pikir masyarakat. Di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi, minat membaca tetap menjadi indikator penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia karena berkaitan erat dengan literasi, pendidikan, dan kemampuan mengakses informasi.
Bagaimana preferensi jenis bacaan masyarakat Indonesia? Data BPS & Goodstats (2025) menyebut bacaan paling populer di Indonesia adalah “kitab suci”, setelah itu diikuti buku pengetahuan dan materi pelajaran sekolah yang menunjukkan minat baca pada sektor edukasi formal. Sementara itu, media hiburan seperti buku cerita dan surat kabar memiliki tingkat ketertarikan yang hampir setara di kalangan pembaca. Di sisi lain, majalah atau tabloid menjadi jenis bacaan yang paling sedikit diminati.
Komposisi jenis bacaan yang paling populer di masyarakat Indonesia terdiri dari: 1) Kitab Suci 77,55%, 2) Buku Pengetahuan 24,42%, 3) Buku Pelajaran Sekolah 20,55%, 4) Buku Cerita 13,96%, 5) Koran/Surat Kabar 13,27%, 6) Majalah/Tabloid 3,77%, dan 7) Lainnya 20,78%. Kitab suci jadi bacaan paling favorit seringkali dikaitkan dengan budaya religiusitas masyarakat yang kuat, di mana membaca kitab suci bukan sekadar kegiatan literasi, melainkan bagian dari ibadah harian, tradisi pendidikan agama sejak dini, serta panduan hidup moral dan spiritual. Menariknya, BPS mengungkap sebanyak 89,75% penduduk Indonesia berusia 5 tahun ke atas pernah membaca dalam seminggu terakhir pada tahun 2025. Artinya, 9 dari 10 penduduk Indonesia masih melakukan aktivitas membaca dalam berbagai bentuk dan jenis bacaan. Hal ini jadi bukti, bahwa membaca bukan soal minat melainkan soal akses bacaan. Asal ada bacaan yang bisa diakses, maka proses membaca bisa terjadi. Sebaliknya, bila tidak ada akses bacaan maka sudah pasti tidak ada minat baca.
Memang, membaca kitab suci lebih tinggi daripada buku pengetahuan. Karena tujuan membacanya berbeda dan implikasi terhadap cara berpikir serta perilaku pun jadi berbeda. Membaca kitab suci atau buku pengetahuan tidak saling bertentangan, justru dapat saling melengkapi. Jika seseorang lebih banyak membaca kitab suci maka cenderung memiliki landasan moral dan spiritual yang lebih kuat, dapat memperoleh ketenangan batin, tujuan hidup, dan nilai-nilai etika, namun jika tidak diimbangi dengan pengetahuan umum, wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, atau isu-isu sosial bisa menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, jika seseorang lebih banyak membaca buku pengetahuan maka cenderung memiliki wawasan yang luas, kemampuan analitis, dan keterampilan profesional yang lebih baik, Lebih siap menghadapi tantangan akademik, pekerjaan, dan perkembangan teknologi. Namun, tanpa refleksi terhadap nilai-nilai moral atau etika, pengetahuan tersebut belum tentu menjadi dasar pengambilan keputusan yang bijaksana.
Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, membaca kitab suci dan buku pengetahuan sebaiknya dipandang sebagai dua aktivitas yang saling melengkapi. Kitab suci dapat membentuk karakter, integritas, dan orientasi moral, sedangkan buku pengetahuan memperkaya kompetensi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Kombinasi keduanya mendukung perkembangan individu yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan etika dalam menerapkan pengetahuannya. Maka poin-nya bukanlah "mana bacaan yang lebih baik?", melainkan "bagaimana menyeimbangkan keduanya sesuai kebutuhan hidup dan tujuan pembelajaran?". Agar terwujud masayarakat Indonesia yang literat. #TBMLenteraPustaka #GerakanLiterasi #TamanBacaan
