Begini Strategi Kelas Menengah Indonesia Siapkan Pensiun

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di Indonesia, kelas menengah sering disebut kelompok masyarakat yang memiliki tingkat pengeluaran dan pendapatan di atas kebutuhan dasar, tetapi belum tergolong kaya. Menurut Bank Dunia, kelas menengah di Indonesia adalah individu yang memiliki pengeluaran antara 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan nasional per kapita per bulan. Bila pendapatan “garis kemiskinan” sekitar Rp600 ribu per kapita per bulan, maka kelas menengah berada pada kisaran sekitar Rp2,1 juta hingga Rp10 juta per orang per bulan untuk pengeluaran.
BPS melihat kelas menengah dari kombinasi pendapatan, konsumsi, dan pola hidup. Dalam praktik sehari-hari, rumah tangga kelas menengah biasanya memiliki ciri-ciri: 1) mampu memenuhi kebutuhan pokok tanpa kesulita, 2) memiliki rumah atau sedang mencicil rumah, 3) memiliki kendaraan pribadi, 4) dapat menyisihkan dana untuk pendidikan anak, kesehatan, tabungan, atau investasi, 5) memiliki akses terhadap teknologi dan layanan keuangan formal, dan 6) sesekali melakukan rekreasi atau perjalanan wisata. Banyak analis mengelompokkan rumah tangga kelas menengah dengan pendapatan sekitar Rp7 juta s.d. Rp50 juta per bulan per rumah tangga.
Menariknya, kelas menengah sering dianggap sebagai kelompok yang paling rentan mengalami penurunan status ekonomi ketika terjadi krisis, karena meskipun memiliki aset dan pendapatan yang cukup, mereka juga memiliki berbagai kewajiban finansial seperti cicilan rumah, biaya pendidikan, dan persiapan dana pensiun. Karena itu, perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk dana pensiun, menjadi salah satu karakteristik penting bagi rumah tangga kelas menengah yang ingin mempertahankan kualitas hidupnya di masa depan.
Lalu, apa yang dilakukan kelas menengah untuk mempersiapkan pensiun? Secara umum, prioritas utama kelas menengah dalam menyambut masa pensiun adalah menjaga kesehatan fisik dan membangun dana cadangan untuk menghadapi situasi darurat di masa depan. Selain aspek finansial seperti pengurangan utang dan kepemilikan asuransi, banyak individu juga mulai merintis usaha pribadi sebagai sumber penghasilan tambahan. Kesiapan non-materi juga menjadi perhatian penting, mulai dari kesehatan mental hingga upaya mempertahankan hubungan sosial yang baik. Kelas menengah lebih multidimensi dalam memepersiapkan kesejahteraan hidup di hari tua.
Menurut laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) tahun 2026, prioritas utama kelas menengah dalam menyiapkan masa pensiun terdiri dari:
1. Pola hidup sehat (64,2%). Kesehatan fisik dianggap sebagai aset terpenting di masa tua.
2. Tabungan darurat (56,7%). Dana cadangan untuk situasi yang tidak terduga.
3. Memulai usaha sendiri (51,3%). Berencana untuk tetap produktif secara ekonomi dengan berwiraswasta.
4. Asuransi jiwa/kesehatan (44,5%). Sebagai perlindungan tambahan terhadap risiko hidup dan kesehatan.
5. Persiapan mental (43,7%). Menyiapkan kondisi psikologis dalam menghadapi perubahan fase hidup.
6. Mengurangi utang (40,8%). Berusaha memasuki masa pensiun dengan beban finansial yang lebih ringan.
Selain itu, kelas menengah juga memperhatikan faktor lain seperti menjaga hubungan sosial (38,5%), menjaga pengeluaran (37,1%), serta merencanakan kegiatan pensiun (32,1%) dan mencari hunian yang strategis (30,8%). Persiapan lainnya mencakup dana perawatan (24,6%) dan mobilitas personal (19%).
Dari data tersebut, implikasi mendalam mengenai cara pandang kelas menengah modern terhadap masa tua adalah menjadikan kesehatan adalah investasi terpenting, sebesar 64,2% untuk pola hidup sehat. Masa pensiun tidak lagi hanya dilihat sebagai masalah uang, tetapi masalah kualitas hidup. Kelas menengah menyadari bahwa tanpa kesehatan yang prima, aset finansial apa pun akan terkuras habis untuk biaya pengobatan di masa depan. Selain itu, ada tren "silver entrepreneurship" (wirausaha masa tua) untuk memulai usaha sendiri. Kelaas menengah menganggap pensiun bukan berarti berhenti bekerja tapi tetap produktif secara ekonomi untuk membangun kemandirian finansial. Ujungnya, kelas menengah fokus pada ketahanan finansial di hari tua.
Intinya, kelas menengah di Indonesia ternyata lebih proaktif dan menyadari bahwa masa pensiun yang ideal memerlukan keseimbangan antara kesehatan fisik, kemandirian ekonomi, dan stabilitas emosional. Dan salah satu cara untuk mewujudkan masa pensiun yang sehat dan sejahtera adalah melalui dana pensiun atu DPLK. Selain untuk memastikan kesinambungan penghasilan di hari tua, dana pensiun juga efektif untuk menghindari ketergantungan finansial kepada anak atau keluarga di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM
