Berdamai dengan Diri Sendiri, Jadilah Tenang

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi berbagai opini, komentar, dan perdebatan, menjaga ketenangan diri menjadi sebuah pilihan yang tidak selalu mudah. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan energi hanya untuk menanggapi perkataan orang lain, membalas sindiran di media sosial, atau ikut dalam perdebatan yang sebenarnya tidak memberi manfaat apa pun. Padahal, tidak semua hal harus dijawab dan tidak semua persoalan harus dimenangkan.
Ketenangan bukan berarti seseorang tidak memiliki masalah. Sebaliknya, orang yang tenang justru memahami bahwa hidup memang selalu menghadirkan hambatan. Misalnya, ketika seseorang mendapat komentar negatif di media sosial, ia tidak buru-buru membalas dengan kemarahan. Ia memilih diam, memeriksa apakah komentar tersebut memang perlu ditanggapi, lalu kembali menjalankan kehidupannya. Sikap seperti ini bukan tanda kalah, tetapi menunjukkan kemampuan mengendalikan diri.
Contoh lainnya terjadi dalam lingkungan kerja maupun keluarga. Perbedaan pendapat sering kali menjadi pemicu pertengkaran karena masing-masing pihak ingin merasa paling benar. Namun, seseorang yang mampu menjaga kedamaian akan belajar mengatakan, “Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak harus bermusuhan.” Ia memilih berdiskusi ketika diperlukan dan berhenti ketika percakapan mulai berubah menjadi saling menyerang. Dengan demikian, hubungan tetap terjaga tanpa harus mengorbankan harga diri.
Ketika kita berhenti memberikan panggung kepada hal-hal yang tidak penting, hidup perlahan terasa lebih ringan. Energi yang sebelumnya habis untuk memikirkan perkataan orang lain dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih berarti: bekerja dengan baik, memperbaiki diri, menjaga keluarga, menikmati secangkir kopi, berjalan menikmati alam, atau sekadar duduk dalam keheningan sambil mensyukuri kehidupan. Tidak semua suara dari luar harus masuk ke dalam hati.
Percayalah, apapun alasannya, merespons setiap sindiran, melayani setiap prasangka, atau memperdebatkan perbedaan sudut pandang hanya akan membuang waktu dan merusak fokus hidup. Memilih untuk tidak ribut bukanlah bentuk kelemahan atau kekalahan, melainkan wujud kontrol diri yang paling tinggi demi menjaga kesehatan mental dan kejernihan pikiran. Untuk berusaha tenang di setiap keadaan, sesulit apapun.
Maka, jangan biarkan sesuatu yang kecil merampas ketenangan yang besar. Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berbicara, berpikir, atau memperlakukan kita, tetapi kita selalu memiliki pilihan atas cara kita meresponsnya. Damai bukan berarti hidup tanpa masalah; damai adalah ketika kita mampu berkata kepada diri sendiri, “Aku memilih tidak ikut ribut. Aku memilih tetap tenang, menjaga hati, dan melanjutkan hidup dengan penuh syukur.”
Jadilah tenang dan tidak berisik!
