Berdamai dengan Diri yang Pernah Kita Benci

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap pagi, Naya selalu bercermin sebelum memulai hari. Namun yang ia lihat bukan sekadar wajah, melainkan daftar panjang kekurangan yang ia bawa dalam kepala. Ia mengingat keputusan yang salah, kata-kata yang pernah menyakiti orang lain, kesempatan yang terlewat, dan hidup yang menurutnya belum menjadi seperti yang ia bayangkan. “Seandainya waktu bisa diulang,” pikirnya berkali-kali. Ia ingin kembali ke masa lalu, memilih jalan yang berbeda, dan menjadi seseorang yang lebih baik. Tanpa sadar, orang yang paling sering menghakiminya ternyata bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.
Bertahun-tahun Naya mengejar versi dirinya yang menurutnya pantas untuk dicintai. Ia merasa harus lebih sukses, lebih kuat, lebih sempurna, dan tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Setiap kali gagal, ia menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan. Setiap kali mengingat masa lalu, ia bertanya mengapa dulu tidak mengambil keputusan yang berbeda. Sampai suatu hari, seorang sahabat berkata kepadanya, “Kamu tidak harus menjadi sempurna dulu untuk pantas hidup dengan tenang.” Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Naya terdiam. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk memperbaiki dirinya sampai lupa memeluk dirinya yang sedang berjuang.
Sejak hari itu, Naya mulai belajar menerima dirinya sedikit demi sedikit. Ia melihat kembali luka-luka yang pernah membuatnya malu dan berkata dalam hati, “Ini juga bagian dari ceritaku.” Ia tidak lagi menyangkal kesalahan, tetapi juga tidak terus menghukum dirinya karena kesalahan itu. Ia mulai memahami bahwa menerima diri bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, seseorang bisa berubah dengan lebih sehat ketika ia tidak lagi membenci dirinya sendiri. Ada hari ketika Naya merasa kuat, ada pula hari ketika keraguan datang lagi. Namun kali ini ia tidak panik. Ia belajar bahwa healing tidak punya jadwal yang pasti—kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidup.
Perlahan, hidup Naya terasa lebih ringan. Ia berhenti meminta masa lalu untuk berubah karena tahu itu mustahil. Kegagalan yang dulu ia anggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik, kini ia lihat sebagai guru. Kehilangan yang dulu terasa seperti akhir segalanya, ia pahami sebagai bagian dari perjalanan. Bahkan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan mulai ia terima sebagai pengingat bahwa dirinya hanyalah manusia. Ia tidak selalu kuat, tidak selalu benar, dan tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Tetapi ternyata, menjadi manusia memang tidak pernah menuntut kita untuk sempurna.
Pada akhirnya, Naya mengerti bahwa menerima diri adalah bentuk syukur atas cara Tuhan membentuk hidupnya. Ada bagian yang indah, ada bagian yang berantakan, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan ada masa lalu yang tidak mungkin diulang. Namun semuanya telah membentuk dirinya menjadi seseorang yang ia kenal hari ini. Ia tidak perlu menjadi orang lain untuk merasa berharga. Ia hanya perlu terus belajar menjadi versi terbaik dari dirinya, sambil tetap menghargai versi lama yang pernah jatuh, salah, menangis, dan bertahan. Karena mungkin, damai bukanlah ketika kita akhirnya menjadi sempurna—melainkan ketika kita mampu berkata, “Aku menerima diriku, dengan segala yang pernah terjadi. Dan aku tetap memilih untuk mencintai diriku sambil terus bertumbuh.”
