Konten dari Pengguna

Berhentilah Mencari Validasi, Kita Tidak Mungkin Senangkan Semua Orang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua kebaikan akan mendapatkan pujian, dan tidak semua ketulusan akan dibalas dengan penghargaan. Dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada orang yang salah memahami niat baik, mencela keputusan, bahkan menyebarkan prasangka buruk terhadap seseorang yang sebenarnya tidak pernah merugikan mereka. Seorang karyawan, misalnya, memilih bekerja dengan jujur dan menolak manipulasi laporan keuangan. Namun, bukannya mendapat dukungan, ia justru dianggap sok suci dan tidak bisa diajak bekerja sama oleh rekan-rekannya. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa melakukan hal yang benar tidak selalu membuat seseorang disukai banyak orang.

Seseorang yang memilih hidup sederhana bisa dianggap tidak mampu mengikuti perkembangan zaman. Orang yang menolak ikut bergosip justru dicap tidak asyik. Bahkan, seseorang yang menyampaikan pendapat berdasarkan fakta bisa menjadi sasaran hujatan hanya karena pendapatnya berbeda dengan mayoritas. Di media sosial, misalnya, seseorang yang membagikan kegiatan sosial membantu masyarakat belum tentu mendapatkan apresiasi. Tidak sedikit yang justru menuduhnya sedang mencari popularitas. Padahal, tidak semua tindakan baik harus memiliki motif tersembunyi. Fenomena prasangka buruk itu bisa terjadi di mana saja, di lingkungan keluarga, pertemanan, hingga media sosial.

Karenanya, kita perlu memahami bahwa tidak semua penilaian orang lain harus dijadikan beban pikiran. Bayangkan seorang guru yang tetap mengajar dengan penuh tanggung jawab meskipun ada orang tua murid yang mengkritik metode mengajarnya. Atau seorang pengusaha kecil yang memilih tidak menaikkan harga secara berlebihan ketika harga bahan baku meningkat, meskipun keuntungan yang diperoleh menjadi lebih kecil. Mereka mungkin tidak mendapatkan pengakuan dari semua orang, tetapi setidaknya mereka tetap menjaga prinsip dan tanggung jawabnya. Sebab, nilai seseorang tidak semestinya ditentukan hanya oleh seberapa banyak orang yang menyukainya.

Tentu saja, bukan berarti kita harus mengabaikan semua kritik dan menganggap setiap orang yang tidak menyukai kita sebagai pembenci. Kritik yang membangun tetap perlu didengar, kesalahan harus diakui, dan sikap yang keliru harus diperbaiki. Namun, kita juga perlu membedakan antara kritik yang bertujuan memperbaiki dengan komentar yang sekadar menjatuhkan. Jangan sampai seluruh energi, waktu, dan pikiran habis hanya untuk menjelaskan diri kepada orang-orang yang memang tidak berniat memahami. Sebab, semakin sibuk mengejar penerimaan semua orang, semakin besar kemungkinan kita kehilangan ketenangan dan jati diri sendiri.

jangan senangkan semua orang

Ketahuilah, hidup bukanlah perlombaan untuk mendapatkan persetujuan semua orang. Tidak ada manusia yang mampu menyenangkan setiap kepala, memenuhi setiap harapan, atau menghindari setiap prasangka. Karena itu, teruslah berbuat baik, bekerja dengan jujur, bersikap adil, dan menjaga ketulusan tanpa harus menunggu tepuk tangan. Jika ada yang tidak menyukai kita, biarkan waktu dan perbuatan yang menjawabnya. Jangan mengubah prinsip hanya demi mendapatkan penerimaan sesaat. Sebab, lebih baik tidak disukai karena mempertahankan kebenaran daripada dipuji banyak orang karena mengorbankan nilai-nilai kebaikan.

Maka teruslah berbuat baik dan tutup dengan doa. Dan pahamilah, kita tidak harus disukai semua orang. Sebab kita tidak akaan pernah mampu menyenangkan semua orang. Berhentilah mencari validasi, fokuslah berada di jalan yang benar!