Buat Apa Sukses Tanpa Punya Manfaat?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam hiruk-pikuk kehidupan, manusia sering terjebak dalam perlombaan untuk mengejar gelar, jabatan, kekayaan, dan pengakuan. Akhirnya, keberhasilan selalu diukur dari apa yang dimiliki dan seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai. Padahal, di balik semua pencapaian itu, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: seberapa besar keberadaan kita memberi manfaat bagi orang lain? Sebab, hidup yang bermakna bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang siapa saja yang ikut terbantu karena perjalanan kita.
Untuk apa berhasil bila tidak ada manfaatnya buat orang lain? Keberhasilan sejati itu tidak selalu ditunjukkan melalui pencapaian besar. Seorang guru yang dengan sabar membimbing muridnya hingga berani bermimpi, misalnya, mungkin tidak menjadi orang terkenal, tetapi telah mengubah arah kehidupan seseorang. Begitu pula seorang atasan yang tidak hanya mengejar target perusahaan, tetapi mau membimbing karyawan yang sedang kesulitan, membuka kesempatan belajar, dan memberikan kepercayaan untuk berkembang. Begitu pula berkiprah secara sosial tanpa pamrih di taman bacaan masyarakat atau sekadar memberi santunan kepada anak-anak yatim agar tetap sekolah. Hal-hal sederhana itu menunjukkan bahwa keberhasilan dapat memiliki makna yang lebih luas ketika mampu membuat orang lain tumbuh.
Contoh lainnya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang tetangga yang rutin membantu anak-anak di lingkungannya belajar, seorang pekerja yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu keluarga yang sedang kesulitan, atau seseorang yang meluangkan waktu mendengarkan teman yang sedang menghadapi masalah. Mereka mungkin tidak memiliki kekayaan berlimpah atau jabatan tinggi, tetapi kehadirannya memberikan arti bagi orang lain. Kadang-kadang, sebuah bantuan kecil pada waktu yang tepat dapat menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan.
Karena itu, tidak perlu menunggu kaya atau sukses terlebih dahulu untuk mulai bermanfaat. Kebaikan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: senyum yang tulus, ucapan yang menguatkan, berbagi ilmu, membantu pekerjaan orang lain, memberi kesempatan kepada seseorang untuk berkembang, atau sekadar hadir ketika seseorang membutuhkan teman untuk berbicara. Nilai sebuah kebaikan tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya materi yang diberikan, tetapi oleh ketulusan dan dampak yang ditinggalkannya.
Pada akhirnya, kesuksesan adalah sesuatu yang mungkin kita raih untuk diri sendiri, sedangkan kebermanfaatan adalah sesuatu yang dapat kita wariskan kepada sesama. Jabatan dapat berakhir, kekayaan dapat berkurang, popularitas dapat dilupakan, tetapi kebaikan yang pernah kita berikan dapat terus hidup dalam ingatan dan kehidupan orang lain. Maka, selain berusaha menjadi orang yang berhasil, mari berusaha menjadi orang yang berguna—karena ukuran kehidupan yang bermakna bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa banyak kebaikan yang berhasil kita tinggalkan.
Maka jadilah sukses namun bermanfaat. Jangan berhenti pada sukses atau berhasil tanpa memberi manfaat kepada orang lain. Salam literasi!
