Konten dari Pengguna

Cerita Pensiunan, Tidak Bergantung pada Anak di Hari Tua

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pak Darto (56) masih mengingat jelas percakapan sederhana dengan anak sulungnya dua tahun sebelum ia pensiun. “Kalau Bapak sudah pensiun nanti, Bapak tinggal saja bersama kami. Biar kami yang menanggung kebutuhan Bapak,” kata anak sulungnya dengan tulus.

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun bagi Pak Darto, justru menimbulkan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ia bersyukur memiliki anak-anak yang peduli, tetapi jauh di dalam hatinya, ia tidak ingin masa tuanya menjadi beban bagi mereka. Tidak mau massa pensiunnya bergantung kepada anak-anaknya.

Selama lebih dari dua puluh enam tahun bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan distribusi di Jakarta, Pak Darto menyadari satu hal penting: suatu hari nanti gaji itu akan berhenti datang. Karena itulah sejak lama ia mengikuti program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), dengan menyisihkan sebagian penghasilannya setiap bulan untuk ditabung.

Awalnya Pak Darto tidak terlalu memikirkan hasilnya. Potongan iuran terasa kecil, bahkan kadang terlupakan di tengah kebutuhan keluarga yang begitu banyak: biaya sekolah anak, cicilan rumah, hingga kebutuhan sehari-hari. Namun ketika hari pensiun benar-benar tiba, Pak Darto merasakan arti dari keputusan kecil yang dulu ia buat. Selama lebih dari 26 tahun bekerja, ia rutin mengikuti program pensiun melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang difasilitasi kantornya.

Cerita pensiunan

Kini setelah pensiun, manfaat pensiun yang Pak Darto terima setiap bulan menjadi penopang utama kehidupannya. Setiap bulan, ia menerima manfaat pensiun secara bulanan dari DPLK. Seperti gaji saat bekerja tetap mengalir ke rekeningnya. Jumlahnya mungkin tidak sebesar gaji ketika masih aktif bekerja. Tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama istrinya.

Dengan uang pensiun bulanan, Pak Darto masih bisa membeli kebutuhan dapur sendiri. Ia masih bisa membayar listrik dan air tanpa meminta bantuan anaknya. Bahkan sesekali ia masih bisa memberikan uang saku kepada cucunya, Aleena.

“Yang paling penting bagi saya bukan besar kecilnya uang pensiun bulanan,” kata Pak Darto. “Tetapi perasaan bahwa saya masih bisa berdiri di atas kaki sendiri setelah pensiun.”

Kini setiap kali bertemu rekan-rekan yang masih bekerja, Pak Darto selalu menyampaikan pesan yang sama. “Jangan menunggu tua untuk memikirkan pensiun. Kalau kita tidak menyiapkannya sejak bekerja, nanti pilihan kita hanya dua: bekerja terus tanpa henti, atau bergantung pada anak-anak.”

Bagi Pak Darto, manfaat terbesar dari program pensiun DPLK bukan hanya soal uang, tapi soal harga diri. Baginya, dana pensiun bukan sekadar tabungan. Ia adalah cara menjaga martabat di usia tua, saat pensiun.

“Saya bersyukur tidak harus bergantung pada anak di hari tua. Sebab sehebat apapun anak, pasti punya kehidupan sendiri. Dengan dana pensiun, saya tetap bisa mandiri secara finansial dan hidup lebih tenang” ujar Pak Darto.