Cerpen: "Mama Di Sini Nak", Tangis Ibu untuk Sang Buah Hati

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Malam ini, suamiku pulang tanpa sepatah kata. Ia membuka pintu perlahan, meletakkan tasnya, lalu duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita tentang bagaimana hari yang panjang telah menguras tenaganya. Namun, dari matanya, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Aku pun berdiri, menghampirinya, dan memeluk tubuhnya erat. Seolah-olah pelukan itu bisa menjadi tempat baginya untuk meletakkan seluruh beban yang dipikulnya. Dan benar saja, dalam pelukan, suamiku menangis sesenggukan. Tangannya mencengkeram tubuhku, seakan takut jika ia melepaskan pelukan itu, seluruh kekuatannya akan ikut menghilang.
Aku hanya bisa menyucurkan air mata. Bukan karena aku tidak ingin menguatkannya, tetapi karena aku sendiri sudah terlalu lama menahan kesedihan. Sejak anak kami terbaring di rumah sakit, hatiku seperti tak pernah benar-benar menemukan ketenangan. Dokter mengatakan anak kami mengidap thalassemia, kelainan darah bawaan yang membuat tubuhnya lemas dan wajahnya tampak pucat. Kami pun masih berusaha memahami semuanya.
Mengapa anak kami? Mengapa harus ia yang menanggung sakit sebesar ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, tetapi tidak satu pun mampu menemukan jawaban. Aku hanya seorang ibu yang ingin melihat anaknya tumbuh sehat, berlari, tertawa, dan memanggilku dengan suara riang.
Di bangsal rumah sakit, aku duduk di sisi tempat tidurnya. Wajah kecil itu terlihat begitu pucat. Tangannya yang mungil terbaring lemah, sementara selang dan berbagai peralatan medis menjadi pemandangan yang belum pernah kubayangkan akan hadir dalam kehidupan kami. Aku menggenggam jemarinya, berusaha tersenyum meskipun air mata terus jatuh. Di sisi lain, suamiku masih tertunduk lesu. Seorang ayah yang biasanya menjadi tempat kami bersandar, malam itu terlihat begitu rapuh. Aku tahu ia sedang berjuang. Bukan hanya melawan rasa takut kehilangan, tetapi juga melawan perasaan bersalah karena belum mampu melakukan lebih banyak untuk anak kami.
Tiba-tiba, dari dalam kamarnya, terdengar suara lirih yang begitu kukenal. “Mana... Mama!” Dua kata sederhana itu langsung menghancurkan sisa kekuatan yang masih kusimpan. Aku segera menghampirinya, membelai kepalanya, lalu mendekap tubuhnya dengan hati-hati.
“Mama di sini, Nak... Mama di sini,” bisikku berulang kali. Ia mungkin belum mengerti mengapa tubuhnya harus merasakan sakit, mengapa ia harus berada di rumah sakit, atau mengapa wajah Mama dan Papanya selalu dipenuhi air mata. Yang ia tahu hanyalah ketika rasa sakit datang, ia membutuhkan mamanya. Dan aku ingin selalu ada, meskipun hatiku sendiri sedang berkeping-keping.
Malam semakin larut. Suamiku duduk di samping tempat tidur anak kami, mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Aku melihatnya diam-diam, lalu menyadari bahwa kami sedang menghadapi ujian yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami bukan keluarga yang memiliki semua jawaban. Kami juga bukan manusia yang selalu kuat. Ada saatnya kami ingin berteriak, bertanya kepada Tuhan mengapa jalan ini begitu berat. Namun, di antara tangis dan ketidakpastian, kami masih memiliki satu sama lain. Kami masih bisa saling memeluk. Masih bisa menggenggam tangan anak kami. Dan masih bisa berdoa, meskipun doa itu terkadang hanya berupa bisikan yang keluar dari hati yang hancur.
Aku pun menatap wajah anakku yang mulai terlelap. Tanganku masih menggenggam jemarinya, sementara suamiku duduk di sampingku. Dalam hati, aku berbisik, “Ya Allah, jika sakit ini harus kami jalani, berikanlah kami kekuatan. Jika air mata ini harus terus mengalir, jangan biarkan kami kehilangan harapan. Sembuhkanlah anak kami, atau setidaknya, jangan biarkan ia merasa sendirian dalam sakitnya.”
Malam itu, kami tidak tahu bagaimana hari esok akan berjalan. Kami hanya tahu bahwa cinta seorang ibu dan ayah tidak akan berhenti ketika tubuh anaknya mulai lemah. Sebab, bagi kami, anak ini bukan sekadar bagian dari kehidupan. Ia adalah alasan kami tetap bertahan, bahkan ketika hati kami sendiri hampir menyerah. Terkadang, ada pelukan yang menyimpan sejuta luka …
