Dari Rak Buku, Kita Belajar Arti Syukur

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Manusia sering kali terjebak dalam rasa haus yang seolah tidak pernah ada habisnya. Kita membayangkan kebahagiaan akan datang ketika memiliki lebih banyak harta, pencapaian, atau pengakuan. Padahal, semakin banyak yang kita kejar, belum tentu semakin tenang hati kita. Ada kalanya justru kehidupan menjadi terasa berat karena kita sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan.
Taman bacaan mengajarkan sebuah pelajaran sederhana tentang kehidupan. Di sana, kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang mahal atau mewah. Anak-anak bisa begitu gembira hanya karena menemukan buku cerita yang menarik, bertemu teman, atau mendengarkan seseorang membacakan kisah. Dalam ruang yang sederhana itu, kita dapat melihat bahwa kebutuhan untuk merasa bahagia sebenarnya tidak serumit yang sering kita bayangkan.
Begitu pula dalam kehidupan sosial. Kita tidak harus memiliki segalanya untuk bisa memberi manfaat bagi orang lain. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk menemani, kesediaan berbagi buku, membantu seorang anak memahami bacaan, atau sekadar hadir dan mendengarkan. Seperti seteguk air di tengah teriknya siang, kebaikan kecil yang diberikan dengan tulus bisa menjadi penawar dahaga bagi seseorang yang sedang membutuhkan.
Sebaliknya, menumpuk apa yang tidak kita perlukan sering kali hanya menambah beban. Di taman bacaan, sebuah buku yang tersimpan tanpa pernah dibaca mungkin hanya menjadi benda di rak. Namun ketika buku itu dibagikan, dibaca bersama, dan menjadi jembatan pertemuan antarmanusia, nilainya menjadi jauh lebih besar. Dari sana kita belajar bahwa kekayaan bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa banyak manfaat yang dapat kita bagi.
Di sinilah rasa syukur menemukan maknanya. Bersyukur bukan berarti berhenti memiliki cita-cita atau menyerah untuk menjadi lebih baik. Syukur adalah kemampuan untuk menikmati apa yang sudah ada sambil tetap berikhtiar dengan cara yang sehat. Di taman bacaan, kita belajar menikmati kebersamaan, menghargai kesempatan belajar, dan mensyukuri hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian: senyum seorang anak, obrolan sederhana, halaman buku yang dibaca bersama, atau persahabatan yang tumbuh tanpa direncanakan.
Mungkin pada akhirnya, hidup yang kaya bukanlah hidup yang dipenuhi sebanyak-banyaknya kepemilikan, melainkan hidup yang menghadirkan sebanyak-banyaknya kebermanfaatan. Taman bacaan menjadi ruang kecil yang mengingatkan kita bahwa kebahagiaan dapat tumbuh dari kesederhanaan, kebersamaan, dan kepedulian. Ketika kita belajar merasa cukup dengan apa yang ada, lalu membagikan sebagian dari yang kita punya kepada sesama, hidup terasa lebih lapang. Bukan karena kita memiliki segalanya, tetapi karena kita menyadari bahwa apa yang kita miliki ternyata sudah cukup untuk membuat hidup orang lain sedikit lebih baik. Begitulah komitmen TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor saat berkiprah untuk literasi!
